Ahmad Rifaie Al Ahmadi Idrisi

Search This Blog

SALAWAT IBADAH YANG PASTI DITERIMA

" SHALAWAT ADALAH PENGHANTAR MA’RIFAT DAN IBADAH YANG PASTI DITERIMA "...

Seorang murid pernah bertanya kepada Syaikh Ali Jum’ah, Mufti Mesir:

“Syaikh, dalam buku Anda tertulis bahwa membaca shalawat adalah satu-satunya ibadah yang pasti diterima oleh Allah. Apakah benar demikian? Mohon penjelasannya.”

Syaikh Ali Jum’ah menjawab:

“Ya benar, saya menulis demikian. Bershalawat Nabi adalah amalan yang pasti diterima oleh Allah. Jika kamu bersedekah, dan kamu ingin dipuji, maka sedekahmu sia-sia. Begitu pula jika kamu shalat karena ingin diperhatikan manusia, shalatmu tanpa pahala. Tapi jika kamu bershalawat, walaupun kamu riya, kamu tetap akan mendapatkan pahala, karena shalawat berhubungan dengan Nabi Allah yang agung, yaitu Nabi Muhammad Saw.”

Shalawat, Satu-satunya Ibadah yang Pasti Diterima

Dalam kitab al-Fawaid al-Mukhtarah, Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni meriwayatkan bahwa Abul Mawahib Imam asy-Syadzili berkata:

رَأَيْتُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلاَةُ اللهِ عَشْرًا لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً هَلْ ذَلِكَ لِمَنْ حَاضَرَ الْقَلْبَ؟ قَالَ لاَ، بَلْ هُوَ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَيَّ وَلَوْ غَافِلاً

“Aku pernah bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad SAW. Aku bertanya,

“Ada hadits yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”

Nabi SAW. menjawab,

“Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat meski tidak faham arti shalawat yang ia baca.”

Allah Swt. memerintahkan para malaikatNya untuk senantiasa memohonkan doa kebaikan dan ampunan bagi orang tersebut (yang membaca shalawat). Terlebih jika ia membaca dengan hati yang hadir, pasti pahalanya sangat besar, hanya Allah yang mengetahuinya. Bahkan, ada sebuah keterangan apabila kita berdoa tidak dimulai dengan memuja Allah Swt., tanpa membaca shalawat, kita disebut sebagai orang yang terburu-buru.

عن فَصَالَةَ بن عُبَيدْ رضى الله عنهما قَالَ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً يَدْعُوْ فِىْ صَلاَتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَجَّلَ هَذَا. ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ اَوْ لِغَيْرِهِ اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُوْ بَعْدُ بِمَا شَاءَ، رواه ابو داود والترمذى وقال حديث صحيح.

Baginda Nabi SAW mendengar ada seseorang yang sedang berdoa tapi tidak dibuka dengan memuja Allah SWT dan tanpa membaca shalawat, Nabi SAW bersabda,

“Orang ini terburu-buru.”

Kemudian Nabi SAW mengundang orang itu, lalu ia atau orang lainnya dinasehati,

“Jika diantara kalian berdoa, maka harus diberi pujian kepada Allah Swt., membaca shalawat, lalu berdoalah sesuai dengan apa yang dikehendaki.”
(HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)

Apalagi jika bertepatan dengan hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat di dalamnya. Karena Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadits:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّ مِنْ اَفْضَلِ اَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَاَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَاِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ رواه ابو داود.

“Hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat di hari itu, karena shalawat kalian dihaturkan kepadaku.”

Ulama sepakat bahwa shalawat pasti diterima, karena dalam rangka memuliakan Rasulullah SAW Ada penyair yang berkata:

أَدِمِ الصَّلاَةَ عَلَى مُحَمَّدٍ  #  فَقَبُوْلُهَا حَتْمًا بِغَيْرِ تَرَدُّدٍ
أَعْمَالُنَا بَيْنَ الْقَبُوْلِ وَرَدِّهَا # اِلاَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

“Senantiasalah membaca shalawat, sebab shalawat pasti diterima. Adapun amal yang lain mungkin saja diterima atau ditolak, kecuali shalawat pasti diterima.”

Shalawat Penghantar Ma’rifat

واعلموا أن العلماء إتفقوا على وجوب الصلة والسلام على النبي صلى الله عليه وسلم , ثم اختلفوا في تعيين الواجب فعند مالك تجب الصلوة والسلام في العمر مرة وعند الشافعي تجب في التشهد الأخير من كل فرض, وعند غيرهما تجب في كل مجلس مرة وقيل تجب عند ذكره وقيل بجب الإكثار منها من غير تقييد بعدد, وبالجملة فالصلاة على النبي أمرها عظيم وفضلها جسيم. وهي أفضل الطاعات وأجل القربات حتى قال بعض ال عارفين إنها توصل إلى الله تعالى من غير شيخ لأن الشيخ والسند فيها صاحبها ولاأنها تعرض عليه ويصلي على المصلي بخلاف غيرها من الأذكار فلا بد فبها من الشيخ الارف و لا دخلها الشيطان ولم ينتفع صاحبها بها.

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya para ulama telah sepakat atas diwajibkannya membaca shalawat dan salam untuk Baginda Nabi Muhammad SAW. Kemudian mereka berselisih pendapat mengenai kapan kewajiban ini harus dilakukan. Menurut Imam Malik, cukup satu kali dalam seumur hidup. Menurut Imam Syafi’i, wajib dibaca pada waktu tasyahud akhir dalam setiap shalat fardhu. Menurut ulama lainnya, wajib dibaca satu kali dalam setiap majelis. Ada juga ulama yang berpendapat wajib membaca shalawat setiap kali mendengar nama Nabi SAW disebut. Dan ada juga yang mengatakan untuk memperbanyak shalawat tanpa dibatasi bilangan tertentu. Secara umum, membaca shalawat kepada Nabi Saw. merupakan hal yang sangat agung dan keutamaannya sangat banyak.”

“Membaca shalawat merupakan bentuk ibadah yang paling utama dan paling besar pahalanya. Sampai-sampai sebagian kaum ‘arifin mengatakan:

“Sesungguhnya shalawat itu bisa mengantarkan pengamalnya untuk ma’rifat billah meskipun tanpa guru spiritual (mursyid). Karena guru dan sanadnya langsung melalui Nabi SAW.”

Ingat, setiap shalawat yang dibaca seseorang selalu diperlihatkan kepada Nabi SAW. dan beliau Nabi SAW membalasnya dengan doa serupa. Hal ini berbeda dengan dzikir-dzikir (selain shalawat) yang harus melalui guru spiritual (mursyid), yang sudah mencapai maqam ma’rifat. Jika tidak demikian maka akan dimasuki setan dan pengamalnya tidak akan mendapat manfaat apapun.”
(Hasiyah ash-Shawi ‘ala al-Jalalain juz 3 hlm. 287).

Abdurrahman bin Samrah meriwayatkan sebuah hadits yang dituturkan oleh Sa’id bin al-Musayyab, bahwa Nabi SAW bersabda,

“Kulihat seorang dari umatku berjalan di atas shirath, kadang merangkak-rangkak dan kadang bergelantung. Kemudian datanglah shalawat (yang diucapkannya dahulu ketika hidup di dunia) lalu membangunkannya hingga dapat berdiri dan berjalan dengan kakinya, lalu ia diselamatkan oleh shalawatnya.”
(HR. Abu Musa al-Madini dalam at-Targhib wa at-Tarhib, hadits hasan jiddan).

Wasiat-Nasehat Para Ulama tentang Shalawat

Imam Abul Hasan asy-Syadzilli pernah berkata,

“Di akhir zaman tidak ada amalan yang lebih baik daripada bershalawat kepada Rasulullah SAW.”

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan,

“Tidak tertolak shalawat atas Nabi SAW.”

Al-Hafidz asy-Syaraji berkata,

“Semua dzikir tidak diterima kecuali dengan khusyuk dan hadir hatinya kecuali shalawat, maka akan diterima meskipun tanpa khusyuk dan hadirnya hati. Karena itu Abul Hasan al-Bakri berpesan: “Seharusnya tiap hari seseorang jangan kurang membaca shalawat dari 500 kali.”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berwasiat,

“Dengan membaca shalawat, seorang hamba dapat meraih keridhaan Allah Swt., memperoleh kebahagiaan dan restu Allah Swt., berkah-berkah yang dapat dipetik, doa-doa yang terkabulkan, bahkan dia bisa naik ke tingkatan derajat yang lebih tinggi, serta mampu mengobati penyakit hati dan diampuni dosa-dosa besarnya.”

Adapun Syaikh Ibn Athaillah as-Sakandari berkata,

“Siapa yang (merasa) tidak memiliki amalan shalat dan puasa yang banyak untuk menghadap Allah di hari kiamat, maka hendaknya ia perbanyak membaca shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW.”

Al-Quthb al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menyebutkan bahwasanya para ulama berkata,

“Satu shalawat dari Allah cukup untuk seorang hamba, dunia dan akhirat.”

As-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki pernah berpesan,

“Jangan tinggalkan membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Karena bacaan shalawat itu merupakan kunci segala kebaikan dan pintu segala keutamaan untuk agama, dunia dan akhirat.”

Al-Habib Umar bin Hafidz mengatakan,

“Sesungguhnya apabila engkau melakukan ketaatan kepada Allah seumur hidupmu, bahkan Allah berikan di atas umurmu adalah umurnya seluruh manusia untuk digunakan dalam ketaatan kepadaNya, maka sesungguhnya lebih hebat satu shalawat dari Allah Swt."

Muhasabah Diri dan Teruskan Berselawat.

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّم وبَارِك عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الفاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، والخاتِم لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الحقِّ بَالحَقِّ، والهادي إلى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ، صلَّى اللهُ علَيهِ وعَلَى آلِهِ وصحبِهِ، حَقَّ قَدْرِهِ ومِقْدَارِهِ العَظِيم.."

SALAWAT IBADAH YANG PASTI DITERIMASocialTwist Tell-a-Friend

AMALAN SEPANJANG TAHUN

📌AMALAN SEPANJANG TAHUN

(a) Sembahyang Fardhu Berjemaah

(b) Mendirikan sembahyang-sembahyang sunat yang tertentu khususnya sunat Tahajjud dan Witir di waktu malam; Dhuha, Awwabin, Tasbih, Rawatib dan lain-lain termasuk sunat wudhu'.

(c) Membaca al-Quran dan Tafsir

(d) Menghadiri Majlis Ilmu spt ceramah, kelas ugama, majlis zikir dll

(e) Puasa sunat pada hari khamis dan Isnin atau pada 13hb., 14hb., dan 15hb., (dipanggil hari-hari bulan cerah) pada 28hb, 29hb dan 30hb (dipanggil hari-hari bulan gelap). Haram puasa pada Hari Raya Aidilfitri dan Aidiladha iaitu 1 Syawal dan 10 Zulhijjah, hari-hari tasyrik 11, 12 dan 13 Zulhijjah serta 30 Syaaban.

(f) Membaca segala wirid/doa harian.

(g) Bersedekah, berderma dan sebagainya.

(h) Mengerjakan umrah jika mampu, khususnya pada bulan Ramadhan.

(i) Memelihara mulut, mata, telinga dan anggota-anggota lain dari perbuatan maksiat dan yang keji.

(j) Mengingati MATI dan menziarahi saudara/sahabat yang sakit dan yang mati, sembahyang maiyit dan menghantarnya ke kubur.

(k) Menziarahi sahabat handai, saudara mara lebih-lebih lagi orang-orang alim, para ulama' dan tuan-tuan guru.

(l) Amar Maaruf dan Nahi Mungkar

AMALAN SEPANJANG TAHUNSocialTwist Tell-a-Friend

Berkata Sidi Syaikh Ahmad bin Idris R.A

Berkata Imam Tarikat Ahmadiah Sidi Syaikh Ahmad bin Idris Rahmatullah Taala yang masyhur keramatnya (wafat 21 Rajab 1253 Hijrah - peranakan negeri Fas dalam negara Marocco):

أول طريقتي جنون، ووسطها فنون، وآخرها كن فيكون

Ertinya: Permulaan tarikatku ialah “gila” diperkatakan orang. Di pertengahan jalan, datang bermacam-macam ilmu pemberian Allah dengan tak payah belajar. Dan di akhir tarikatku ialah “كن فيكون” - maksudnya datang bermacam-macam keramat jika dikehendaki.

Berkata Sidi Syaikh Ahmad bin Idris R.ASocialTwist Tell-a-Friend

YAQAZAH DALAM TAREKAT AHMADIYYAH IDRISIYYAH

YAQAZAH DALAM TAREKAT AHMADIYYAH IDRISIYYAH

Dalam tradisi keilmuwan tarekat Ahmadiyyah Idrisyyah, tarekat ini mempunyai dua bentuk silsilah iaitu silsilah muttasil dan silsilah uwaisiyyah barzakhiyyah yang menghubungkan Sayyid Ahmad ibn Idris dengan Rasulullah s.a.w (al-Sakandari ).

Silsilah uwaisiyyah barzakhiyyah berlaku melalui perjumpaan rohani Sayyid Ahmad ibn Idris dengan Nabi Muhammad s.a.w secara mushafahah dan Yaqazah.

Pertemuan ini beliau telah diberikan amalan secara khusus oleh Rasulullah s.a.w iaitu tahlil khusus, Selawat al-cAzimiyyah dan Istighfar al-Kabir (al-Jaafari 1998, Sedgwick 2005, Hamdan 1992).

Rentetan penerimaan amalan khusus ini beliau telah mendirikan sebuah Tarekat Muhammadiyyah dan dikenali sebagai Tarekat Ahmadiyyah Idrisiyyah sehingga kini. Walau bagaimanapun, kajian mendapati bahawa tidak terdapat suatu pertikaian dalam kalangan ulama’ sezamannya termasuk Shaykh Muhammad ibn Abd al-
Wahhab (1703-1792) sendiri mengenai silsilah Tarekat Ahmadiyyah Idrisiyyah samada silsilah muttasil mahupun silsilah Uwaisiyyah barzhakhiyyah.

Hal ini disebabkan oleh ketokohan, keilmuan dan ketinggian kerohanian Sayyid Ahmad ibn Idris yang telah diperakui dan diiktiraf oleh guru-gurunya dan ulama-ulama sezamannya (Sedgwick 2005, Hamdan 1992).

Pengiktirafan terhadap beliau dalam keilmuan dan kerohanian ini disebut di dalam kitab Jamci Karamat al-Awliya’ oleh Shaykh Yusuf bin Ismacil al-Nabhani. Di samping itu, sebelum Sayyid Ahmad ibn Idris memperkenalkan tarekat Muhammadiyyah atau dikenali selepas beliau sebagai tarekat Ahmadiyyah, beliau telah pun mempunyai asas kerohanian yang kuat sehingga mendapat keizinan mengajar dalam tiga buah tarekat sufi iaitu al-Shadhiliyyah, al-Khidiriyyah alAziziyyah dan al-Khalwatiyyah (al-Jaafari 1998, Sedgwick 2005, Hamdan 1992).

Berdasarkan kepada perkara ini, dapatlah difahami mengapa silsilah dan amalan dalam tarekat Ahmadiyyah yang diterima secara Yaqazah dan mushafahah daripada Nabi s.a.w tidak dipertikai oleh para ulama sezaman dan selepasnya. Penerimaan talqin dan amalan tarekat oleh Sayyid Ahmad bin Idris secara langsung daripada Nabi s.a.w bukan sesuatu yang baharu, tetapi ia adalah harus dan pernah berlaku pada ulama sufi terdahulu seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sufi muktabar. Hal ini telah dibincangkan oleh Shaykh Abd al-Wahhab al-Sharani di dalam kitabnya al-Anwar al-Qudsiyyah.

Dalam bab Sanad al-talqin al-sufi beliau telah meriwayatkan bahawa penerimaan amalan secara Yaqazah dan mushafahah ini telah berlaku kepada beberapa guru beliau seperti Shaykh Ibrahim al-Matbuli dan Shaykh Ali al-Khawwas , Shaykh Abu Madyan, Shaykh cAbd al-Rahim al-Qanawi, Shaykh Musa al-Zawli, Shaykh Abu Hassan al-Shadhili, Shaykh Abu cAbbas al-Mursi, Shaykh Abu Sacud bin Abi al-cAshacir, dan Shaykh Jalal al-Din al-Suyuti. Shaykh Ali al-Khawwas berpendapat bahawa seseorang itu tidak sampai kepada martabat Arif bilAllah sehingga berjumpa dan bertemu dengan Nabi Muhammad s.a.w secara Yaqazah
dan mushafahah (al-Shacrani, t.th ; 1988).

Walaupun begitu, bukan kesemua ahli sufi yang pernah mengalami pengalaman secara Yaqazah dan menerima amalan daripada Rasulullah s.a.w. menubuhkan sebuah tarekat baru seperti Sayyid Ibrahim Rashidi, Sayyid Muhammad al-Dandarawi dan Shaykh Soleh bin Muhammad al-Jacafari. Sebaliknya, mereka terus menjadi pengikut setia dan pemimpin yang mengamalkan Tarekat Ahmadiyyah Idrisiyyah.

YAQAZAH DALAM TAREKAT AHMADIYYAH IDRISIYYAHSocialTwist Tell-a-Friend

Kata-Kata Hikmah Sayyid Ahmad Ibn Idris

Di antara kata-kata hikmah Sayyid Ahmad ibn Idris ra. yang begitu memberi kesan dalam menyampaikan cahaya manhajnya di dalam ilmu Tasawwuf dan berdakwah kepada Allah ialah:

"Tasawwuf ialah mengosongkan hati hanya untuk Allah swt dan memandang kecil selainNya."

"Makanan terpenting bagi diri ialah zikrullah."

"Benar merupakan keimanan, kerana sesiapa yang benar pada perkataannya, maka kata-katanya tidak akan ditolak. Dan tidak disifatkan al Quran sebagai mukjizat melainkan kerana kebenarannya, tidak akan didatangi sesuatu kebatilan sama ada di hadapan atau belakangnya."

"Sabar ialah sifat yang membezakan di antara hati orang yang beriman dengan yang lainnya."

"Khalwat itu jika tidak terhasil di dalamnya futuh (dibukakan oleh Allah), akan terhasil di dalamnya cahaya pada masa yang akan datang."

"Setiap perkara yang menyibukkan kamu daripada Allah, maka ia adalah celaka."

"Sesungguhnya setiap fitnah yang berlaku di dalam alam ini, sebabnya ialah kerana membelakangi perintah Allah."

"Orang yang hidup, akan terasa apabila dicucuk dengan jarum tetapi orang yang mati tidak terasa sekalipun dipotong dengan pedang-pedang yang tajam. (Begitu jugalah dengan hati yang mati, tidak akan terkesan dengan sebarang peringatan walau pun banyak. Tetapi hati yang hidup akan terkesan apabila diberikan peringatan walaupun sedikit)."

"Sifat ta'sub (ekstrim); membentuk puak masing-masing dan kemudiannya menuduh sesat di antara satu sama lain sehingga seolah-olah wujud pelbagai agama yang berbeza. Perkara inilah yang tidak kami redhai dan kami tegah ke atas setiap Muslim kerana mereka adalah daripada umat yang satu yang menjadi sebaik-baik umat, mempunyai Nabi yang satu, Kitab yang satu dan Kiblat yang satu. Maka bagaimana boleh terjadi perpecahan dan ta'sub? Kami sentiasa menegah manusia daripadanya."

Beliau sering mengungkapkan kata-kata hikmah:

"Sekiranya kamu suka kapada kaum (sufi), maka ikutilah jalan mereka; Mereka tidak sampai kepada Allah melainkan dengan memutuskan hubungan selain Allah."

"Beri'tiqad benarlah kamu, kamu akan mendapatkan keuntungan, dan masuklah kamu ke dalam kesejahteraan (agama Islam), kamu akan memperolehi keselamatan."

Kata-Kata Hikmah Sayyid Ahmad Ibn IdrisSocialTwist Tell-a-Friend

KARAMAH SIDI AHMAD IBNI IDRIS

KARAMAH SIDI AHMAD IBNI IDRIS

Telah bercerita Sidi Ibrahim Ar Rashidi :

Seorang lelaki telah membeli daging dan di letakkan dalam pakaian nya. Di dalam perjalanan pulang dia telah singgah di masjid dan bersolat dibelakang Sidi Ahmad Ibni Idris. Setelah solat dia pun pulang ke rumahnya membawa daging tersebut

Setibanya di rumah dia telah meletakan daging tersebut dalam kuali dan menyalakan api. Tetapi kuali tersebut tidak mahu panas. Dia menambahkan lagi api agar semakin besar, namun tidak mendatangkan sebarang kesan kepada daging tersebut.

Berita ini di sampaikan kepada Sidi Ahmad Ibni Idris, beliau berkata "berikanlah khabar gembira, sesiapa yang bersolat bersama kami tidak akan di makan oleh api"

KARAMAH SIDI AHMAD IBNI IDRISSocialTwist Tell-a-Friend

KELEBIHAN AURAD SIDI AHMAD IBNI IDRIS

KELEBIHAN AURAD SIDI AHMAD IBNI IDRIS

Wirid-wirid yang telah diajarkan oleh asy-Syaikh Ahmad ibn Idris kepada murid-murid beliau mempunyai satu keistimewaan, yakni ia adalah hasil daripada apa yang telah diajarkan kepada beliau oleh rohaniah Rasulullah SAW sendiri .
Telah bercerita asy-Syaikh Ahmad ibn Idris di dalam kitab yang berjudul Kunuz al-Jawahir an-Nuraniyyah Fi Qawa‘id TarÏqah asy-Syazhiliyyah:

Selepas aku mencapai penetapan di dalam tarekat ini di atas tangan guruku Abi al-Qasim al-Wazir, semoga beliau dirahmati Allah SWT, dan naik melalui bimbingannya sehingga sampai ke alam al-ghaib, dan dengan itu aku telah menjadi seorang mukmin yang sebenar-benarnya, maka aku telah bertemu selepas kematiannya, semoga beliau dirahmati Allah Taala, dengan Rasulullah SAW (yakni berlakunya perkara ini di alam al-arwah dan bukan di alam nyata).

Turut serta di dalam perhimpunan suri (yakni perhimpunan yang bukan berbentuk fizikal) itu ialah al-Khaidir ‘alaihissalam. Rasulullah SAW telah menyuruh al-Khaidir ‘alaihissalam mengajarku segala zikir Tareqah Ad Sayidzilliah, maka dia pun mengajarku di hadapanRasulullah SAW.

Setelah itu, Rasulullah SAW telah menyuruh al-Khaidir ‘alaihissalam mengajarku amalan yang dapat menghimpunkan segala zikir dan selawat dan istighfar, dan yang terlebih besar pahalanya, dan terlebih banyak bilangannya (yakni yang terlebih tinggi nilainya).
Dia (yakni al-Khaidir ‘alaihissalam) telah bertanya kepada baginda (yakni Rasulullah SAW), “Apakah ia, wahai Rasulullah SAW?”

Maka baginda telah mengajarku Zikir Al Makhsus yang telah diulangi oleh baginda sebanyak tiga kali. Aku juga telah disuruh mengulangi bacaan itu, maka aku pun melakukannya.
Setelah itu, baginda telah membaca pula selawat Al Azhimiah, dan aku telah mengulangi bacaan baginda itu. Kemudian, baginda telah membaca pula Istighfar Al Kabir , dan aku telah mengulangi bacaan baginda itu . . . .

Aku telah dipakaikan dengan beberapa cahaya serta kekuatan yang bersifat Muhammadiah, dan telah direzekikan juga kepadaku beberapa penglihatan yang bersifat ilahiyyah.

Setelah itu, bersabda baginda kepadaku, “Wahai Ahmad, telah aku berikan kepadamu kunci-kunci tujuh petala langit dan tujuh petala bumi, dan ia adalah Zikir Al Makhsus dan Selawat Al Azhimiah  dan Istighfar Al Kabir. Satu kali membacanya itu adalah seperti kadar dunia dan akhirat, dan apa yang terkandung di dalam kedua-duanya, dan yang digandakan pula [kadarnya] beberapa gandaan . . .”

Kemudian Rasulullah SAW telah mengajarku selepas itu, dengan tiada perantaraan (wasitah). Baginda telah mengimlakkan (dictated) kepadaku [beberapa waktu kemudian] al-Mahamid Al Thamaniah, al-Ahzab dan al Solawat (Selawat 14). Maka aku telah menuliskannya seperti mana yang telah diajarkan kepadaku, dan aku telah membahagikanAl Ahzab dan Al Solawat kepada tujuh bahagian untuk dibacakan satu bahagian pada setiap hari - dengan khusyuk dan perendahan diri (khuduk) bagi orang yang belum sampai, dan dengan kehadiran hati (Hudur) dan rasa (dzauq) dan penyaksian (musyahadah) bagi orang yang sudah sampai.

Maka jadilah aku pula mengajar murid-muridku seperti yang telah diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW kepadaku, dan aku telah iktibarkan pula perkara-perkara yang tersebut itu daripada beberapa syarat . . . .

Dan pada suatu waktu yang lain pula, telah berkata asy-Syaikh Ahmad ibn Idris:-
Para penghulu bagi tarekat ini telah mengambil cara mereka melalui perantara-perantara, tetapi aku telah mengambil tarekat ini langsung daripada baginda Rasulullah SAW (yakni melalui jalan rohani), tanpaadanya seorang perantara.
Maka tarekatku ini adalah Muhammadiah Al Ahmadiah, awalnya dan akhirnya adalah Nur Muhammad . . . .

Telah bercerita lagi asy-Syaikh Ahmad Ibn Idris:
Setiap nabi mempunyai satu doa yang diperkenankan [oleh Allah], dan setiap wali mempunyai satu permintaan di sisi an-Nabi SAW yang diperkenankan [oleh an Nabi SAW].

Tatkala sampai waktunya, aku telah membuat permintaan kepada Rasulullah SAW agar memberikan penjagaan kepada para sahabatku dengan zat (yakni rohaniah) baginda yang khas, di dalam urusan bantuan rohani (madad).

Maka baginda telah berkata, “Sesiapa yang menisbahkan dirinya kepadamu (yakni mengambil tarekat yang berasal daripada asy-Syaikh Ahmad Ibn Idris), tiada akan aku serahkan dia untuk penjagaan yang lain daripadaku, dan tiada akan aku jadikan dia tanggungjawab bagi yang lain daripadaku. Akulah yang menjadi penjaganya dan yang akan bertanggungjawab ke atasnya.”

Telah berkata asy-Syaikh Ahmad Ibn Idris bahawa Rasulullah SAW telah berkata kepadanya:
Sesiapa yang mengambil tarekat ini dan bersungguh-sungguh di dalamnya, akan dituliskan dia di dalam daftar Allah yang tertinggi, yang tidak akan diubahkan dan tidak akan digantikan [nama-nama di dalam kandungannya].

Telah berkata lagi asy-Syaikh Ahmad Ibn Idris:
Tarekatku ini, tiadalah keadaannya melainkan pada langkah yang pertama di sini, dan pada langkah yang kedua [sudah pun berada] di sisi Allah.

Telah berkata lagi asy-Syaikh Ahmad ibn Idris:
Anak-anakku (yakni anak-anak murid atau para pengikut asy-Syaikh Ahmad ibn Idris) akan terlepas daripada fitnah-fitnah di akhir zaman.

KELEBIHAN AURAD SIDI AHMAD IBNI IDRISSocialTwist Tell-a-Friend

(SIRI 6) KENALI AL IMAM AHMAD IBN IDRIS

SIRI 6: KARYA AL IMAM AHMAD IBN IDRIS

Al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris mempunyai kitab karangan yang banyak. Ada di antara kitabnya dibawa oleh anak-anak muridnya yang ditugaskan untuk berdakwah di tempat-tempat lain di serata dunia Islam. Ada yang telah terbakar ketika berlaku kebakaran di dalam biliknya selepas kewafatannya dan yang masih tinggal hanyalah beberapa buah kitab yang dikumpulkan. Sebahagian daripadanya telah dicetak, manakala sebahagian yang lain masih kekal dalam bentuk manuskrip.

Di antara kitab karangannya yang masih tinggal dalam bentuk cetakan dan manuskrip ialah:

1. Tafsir Basmalah
2. Tafsir Surah al Fatihah
3. Tafsir Hizib yang pertama daripada surah al Baqarah
4. Tafsir ayat (إِنَّ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ)
5. Al ‘Iz al Masun fi Tafsir surah al Tin wa al Zaitun
6. Tafsir Surah al Dhuha dan al Insyirah
7. Tafsir Surah al Kauthar
8. Tafsir potongan ayat-ayat al Quran
9. Al Nafahaat al Rabbaniyyah fi Syarh Hadith al Sunnah al Muhammadiyyah “al Ma’rifah Ra’su Mali”
10. Al Nafahaat al Kubra
11. Risalah Kaimiya’ al Yaqin
12. Syarah ‘Aqidah Imam al Syafi’i
13. Syarh Husul al Haqiqah bi Nuzm Usul al Tariqah li al ‘Arif Billah Salman ibn Abi al Qasim al Ahdali
14. Risalah al Asas
15. Risalah al Qawa’id
16. Risalah Perbincangan Sayyid Ahmad ibn Idris dengan Fuqaha’ Najd
17. Risalah mengenai Khalwat
18. Syarah hadith: (صَلِّ صَلَاةَ المُوَدِّع)
19. Syarah empat buah hadith iaitu:
- الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ
- إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
- الحلَالُ بَيِّنٌ وَالحَرَامُ بَيِّنٌ
- مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَركُهُ مَا لَا يَعْنِيْهِ
20. Syarah Qasidah Imam Junaid al Baghdadi  di dalam ilmu tasawwuf iaitu:
تَوَضَّأ بِمَاءِ الغَيْبِ إِنْ كُنْتَ ذَا سِرٍّ..
21. Al ‘Iqd al Nafis fi Nuzum Jawahir al Tadris (kitab yang mengandungi jawapan-jawapan yang dijawab oleh al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris  dalam majlis pengajiannya)
22. Risalah Mengenai Zikir
23. Risalah penolakan terhadap orang yang menggunakan pendapat akal semata-mata
24. Khutbah Nikah
25. Khutbah Dua Hari Raya dan Minta Hujan
26. Risalah mengenai Tasawuf dan Suluk
27. Ruh al Sunnah (kitab ini mengandungi hadith-hadith pilihannya)

Ini merupakan kitab-kitab al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris  sebagaimana yang dinyatakan oleh cicitnya Sayyid Ahmad Mustafa. Beliau juga menyimpan koleksi surat-surat al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris yang dihantar kepada sahabat-sahabat dan murid-muridnya. Semua surat tersebut mengandungi jawapan bagi soalan-soalan ilmiah yang dihantar kepadanya sebagai salah satu jalan untuk memberikan bimbingan dan tunjuk ajar kepada muridnya.

Disediakan oleh:

Markaz Buhuth wal Dirasat
Institut al Imam Ahmad ibn Idris

Gambar: Prof Dr Sayyid Abdul Wahab al Tazi, Syeikh Masyaikh Tarekat al Ahmadiyyah al Idrisiyyah Dunia merangkap Penasihat Kehormat Institut al Imam Ahmad ibn Idris Malaysia

(SIRI 6) KENALI AL IMAM AHMAD IBN IDRISSocialTwist Tell-a-Friend

(SIRI 5) KENALI AL IMAM AHMAD IBN IDRIS

SIRI 5: PUJIAN ULAMA’ TERHADAP AL IMAM AHMAD IBN IDRIS

Al Imam al Akbar Sayyid Ahmad ibn Idris adalah seorang ulama’ yang menjadi sebutan di kalangan ulama’ yang lain. Mereka telah merakamkan biografi al Imam al Akbar Sayyid Ahmad ibn Idris dalam bahan-bahan penulisan mereka.Tidak kurang pula, yang mencatatkan saat-saat keemasan dan pengalaman yang begitu bermanfaat ketika bersama al Imam al Akbar Sayyid Ahmad ibn Idris.

Di antara mereka ialah al ‘Allamah Sayyid Muhammad ibn Ali ibn ‘Uqail. Beliau pernah berkata:

“Saya mengenali Sayyid Ahmad ibn Idris semenjak berhijrah ke Makkah pada tahun 1234H. Saya dapati beliau merupakan seorang ulama’ besar yang mempunyai ilmu ma’rifah, syariah dan hakikat yang tiada tolok bandingannya.”

Kehebatan ilmu makrifah al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris yang mendalam turut diperakui oleh ulama’ syari’e pada zaman ini seperti Sayyid Abdur Rahman al Ahdal (Mufti Zabid, Yaman) dan Qadhi Abdur Rahman al Bahlaqi yang menjawat jawatan Ahli Jawatankuasa Majlis Ulama’ Feqah di Yaman. Ulama’ Yaman dan Syam yang seangkatan dengannya juga sering memujinya.

Di antaranya, Qadhi Muhammad ibn Ali al Syaukani. Beliau sering memuji al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris dan menggalakkan orang ramai agar tekun belajar dengan beliau. Begitu juga ulama’ yang lain seperti al Hafiz Sayyid Abdullah ibn Muhammad al Amir, saudaranya seorang ulama’ Muhaqqiqin Qasim ibn Muhammad dan anak saudaranya, al Allamah Yusuf ibn Ibrahim.

Mufti Zabid Yaman, Syeikh al Islam, Sayyid Abdur Rahman ibn Sulaiman al Ahdal berkata:

“Kedatangannya kepada saya diibaratkan seperti kedatangan kesejahteraan kepada orang yang sakit dan penyembuh kepada orang yang luka.”

Seorang ulama’ Muhaqqiqin, al Imam al Akbar Sayyid Muhammad ibn Ali As Sanusi menyebut:

“Saya telah menimba banyak ilmu pengetahuan daripada al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris. Saya juga telah mempelajari daripadanya tentang kehalusan dan kesempurnaan ilmu hadith, tafsir, tasawuf dan lain-lain lagi dengan penerangannya yang unik.”

Sayyid Muhammad Uthman al Mirghani berkata:

“Sekiranya kedua-dua belah telinga kamu mendengar ketinggian kata-katanya yang menyentuh tentang hakikat-hakikat yang dalam atau pun pintu hati kamu diketuk dengan kebesaran kata-katanya tentang Hadharat Tuhan yang halus, nescaya kamu akan berkata:“Saya bersumpah dengan nama Allah dan kemuliaan Rasulullah bahawa tiada seorang pun dari kalangan Auliya’ yang dijadikan sepertinya dan tiada seorang pun ahli makrifah yang dikurniakan makrifah ketuhanan yang setanding dengannya, sepertimana yang telah saya saksikan.”

Disediakan oleh:
Markaz al Buhuth wal Dirasat
Institut al Imam Ahmad ibn Idris

(SIRI 5) KENALI AL IMAM AHMAD IBN IDRISSocialTwist Tell-a-Friend

(SIRI 4) KENALI UMDAH TAREKAT

SIRI 4: MURID-MURID AL IMAM AHMAD IBN IDRIS

Di antara barisan anak murid yang berada di bawah pentarbiahannya ialah:

1. Sayyid Muhammad ibn Ali As Sanusi (Khalifah Utama al Imam Sayyid Ahmad ibn Idris al Hasani)

2. Sayyid al Tayyib ibn Muhammad ibn Idris

3. Sayyid Muhammad Uthman al Mirghani

4.Sayyid Abdur Rahman ibn Sulaiman al Ahdali

5. Syeikh Ibrahim al Rasyid ibn al Qadhi Soleh

6. Qadhi al Hasan ibn Ahmad al Dhamdi

7. Al ‘Allamah Ahmad ibn Muhammad al Sowi

8. Syeikh Muhammad al Madani

9. Syeikh Muhammad al Majzub al Sawakini

10. Syeikh Muhammad ‘Abid al Sindi dan lain-lain lagi.

Disediakan oleh:

Markaz al Buhuth wal Dirasat
Institut al Imam Ahmad ibn Idris

(SIRI 4) KENALI UMDAH TAREKATSocialTwist Tell-a-Friend

Popular Posts

Segala bahan bacaan disini adalah untuk umum dan HAK CIPTA ITU MILIK ALLAH SEMUANYA. Anda boleh ambil sebagai bahan rujukan ataupun bahan posting di blog-blog atau website anda TANPA PERLU MEMBERI SEBARANG KREDIT KEPADA BLOG INI.