Ahmad Rifaie Al Ahmadi Idrisi: salawat


Search This Blog

Showing posts with label salawat. Show all posts
Showing posts with label salawat. Show all posts

Selawat Al Fatih

Salawat Al Fatihiyyah

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِيْ إِلَىٰ صِرَاطِكَ المُسْتَقِيْمِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.

Ya Allah! Limpahkanlah rahmat ke atas penghulu kami Muhammad; pembuka bagi segala yang terkunci, penutup para nabi sebelumnya, penolong kebenaran dengan kebenaran, penunjuk kepada jalanMu yang lurus, dan juga ke atas keluarga dan para sahabatnya dengan sebenar-benar kedudukan dan kadar mereka yang besar.

Fadhilat Salawat Al Fatih

Barangsiapa berselawat dengan dia sekali jua seumurnya nescaya tiada masuk neraka dan sekalinya itu menyamai sepuluh ribu selawat yg lain dan kata setengahnya menyamai enam ratus ribu selawat yang lain mengekali baca akan dia empat puluh hari itu menerima Allah taala akan taubatnya.

(Kitab Al Aqoid Wal Fawaid, TG Haji Daud, Bukit Abal)

Selawat Al FatihSocialTwist Tell-a-Friend

SALAWAT IBADAH YANG PASTI DITERIMA

" SHALAWAT ADALAH PENGHANTAR MA’RIFAT DAN IBADAH YANG PASTI DITERIMA "...

Seorang murid pernah bertanya kepada Syaikh Ali Jum’ah, Mufti Mesir:

“Syaikh, dalam buku Anda tertulis bahwa membaca shalawat adalah satu-satunya ibadah yang pasti diterima oleh Allah. Apakah benar demikian? Mohon penjelasannya.”

Syaikh Ali Jum’ah menjawab:

“Ya benar, saya menulis demikian. Bershalawat Nabi adalah amalan yang pasti diterima oleh Allah. Jika kamu bersedekah, dan kamu ingin dipuji, maka sedekahmu sia-sia. Begitu pula jika kamu shalat karena ingin diperhatikan manusia, shalatmu tanpa pahala. Tapi jika kamu bershalawat, walaupun kamu riya, kamu tetap akan mendapatkan pahala, karena shalawat berhubungan dengan Nabi Allah yang agung, yaitu Nabi Muhammad Saw.”

Shalawat, Satu-satunya Ibadah yang Pasti Diterima

Dalam kitab al-Fawaid al-Mukhtarah, Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni meriwayatkan bahwa Abul Mawahib Imam asy-Syadzili berkata:

رَأَيْتُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلاَةُ اللهِ عَشْرًا لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً هَلْ ذَلِكَ لِمَنْ حَاضَرَ الْقَلْبَ؟ قَالَ لاَ، بَلْ هُوَ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَيَّ وَلَوْ غَافِلاً

“Aku pernah bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad SAW. Aku bertanya,

“Ada hadits yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”

Nabi SAW. menjawab,

“Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat meski tidak faham arti shalawat yang ia baca.”

Allah Swt. memerintahkan para malaikatNya untuk senantiasa memohonkan doa kebaikan dan ampunan bagi orang tersebut (yang membaca shalawat). Terlebih jika ia membaca dengan hati yang hadir, pasti pahalanya sangat besar, hanya Allah yang mengetahuinya. Bahkan, ada sebuah keterangan apabila kita berdoa tidak dimulai dengan memuja Allah Swt., tanpa membaca shalawat, kita disebut sebagai orang yang terburu-buru.

عن فَصَالَةَ بن عُبَيدْ رضى الله عنهما قَالَ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً يَدْعُوْ فِىْ صَلاَتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَجَّلَ هَذَا. ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ اَوْ لِغَيْرِهِ اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُوْ بَعْدُ بِمَا شَاءَ، رواه ابو داود والترمذى وقال حديث صحيح.

Baginda Nabi SAW mendengar ada seseorang yang sedang berdoa tapi tidak dibuka dengan memuja Allah SWT dan tanpa membaca shalawat, Nabi SAW bersabda,

“Orang ini terburu-buru.”

Kemudian Nabi SAW mengundang orang itu, lalu ia atau orang lainnya dinasehati,

“Jika diantara kalian berdoa, maka harus diberi pujian kepada Allah Swt., membaca shalawat, lalu berdoalah sesuai dengan apa yang dikehendaki.”
(HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)

Apalagi jika bertepatan dengan hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat di dalamnya. Karena Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadits:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّ مِنْ اَفْضَلِ اَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَاَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَاِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ رواه ابو داود.

“Hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat di hari itu, karena shalawat kalian dihaturkan kepadaku.”

Ulama sepakat bahwa shalawat pasti diterima, karena dalam rangka memuliakan Rasulullah SAW Ada penyair yang berkata:

أَدِمِ الصَّلاَةَ عَلَى مُحَمَّدٍ  #  فَقَبُوْلُهَا حَتْمًا بِغَيْرِ تَرَدُّدٍ
أَعْمَالُنَا بَيْنَ الْقَبُوْلِ وَرَدِّهَا # اِلاَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

“Senantiasalah membaca shalawat, sebab shalawat pasti diterima. Adapun amal yang lain mungkin saja diterima atau ditolak, kecuali shalawat pasti diterima.”

Shalawat Penghantar Ma’rifat

واعلموا أن العلماء إتفقوا على وجوب الصلة والسلام على النبي صلى الله عليه وسلم , ثم اختلفوا في تعيين الواجب فعند مالك تجب الصلوة والسلام في العمر مرة وعند الشافعي تجب في التشهد الأخير من كل فرض, وعند غيرهما تجب في كل مجلس مرة وقيل تجب عند ذكره وقيل بجب الإكثار منها من غير تقييد بعدد, وبالجملة فالصلاة على النبي أمرها عظيم وفضلها جسيم. وهي أفضل الطاعات وأجل القربات حتى قال بعض ال عارفين إنها توصل إلى الله تعالى من غير شيخ لأن الشيخ والسند فيها صاحبها ولاأنها تعرض عليه ويصلي على المصلي بخلاف غيرها من الأذكار فلا بد فبها من الشيخ الارف و لا دخلها الشيطان ولم ينتفع صاحبها بها.

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya para ulama telah sepakat atas diwajibkannya membaca shalawat dan salam untuk Baginda Nabi Muhammad SAW. Kemudian mereka berselisih pendapat mengenai kapan kewajiban ini harus dilakukan. Menurut Imam Malik, cukup satu kali dalam seumur hidup. Menurut Imam Syafi’i, wajib dibaca pada waktu tasyahud akhir dalam setiap shalat fardhu. Menurut ulama lainnya, wajib dibaca satu kali dalam setiap majelis. Ada juga ulama yang berpendapat wajib membaca shalawat setiap kali mendengar nama Nabi SAW disebut. Dan ada juga yang mengatakan untuk memperbanyak shalawat tanpa dibatasi bilangan tertentu. Secara umum, membaca shalawat kepada Nabi Saw. merupakan hal yang sangat agung dan keutamaannya sangat banyak.”

“Membaca shalawat merupakan bentuk ibadah yang paling utama dan paling besar pahalanya. Sampai-sampai sebagian kaum ‘arifin mengatakan:

“Sesungguhnya shalawat itu bisa mengantarkan pengamalnya untuk ma’rifat billah meskipun tanpa guru spiritual (mursyid). Karena guru dan sanadnya langsung melalui Nabi SAW.”

Ingat, setiap shalawat yang dibaca seseorang selalu diperlihatkan kepada Nabi SAW. dan beliau Nabi SAW membalasnya dengan doa serupa. Hal ini berbeda dengan dzikir-dzikir (selain shalawat) yang harus melalui guru spiritual (mursyid), yang sudah mencapai maqam ma’rifat. Jika tidak demikian maka akan dimasuki setan dan pengamalnya tidak akan mendapat manfaat apapun.”
(Hasiyah ash-Shawi ‘ala al-Jalalain juz 3 hlm. 287).

Abdurrahman bin Samrah meriwayatkan sebuah hadits yang dituturkan oleh Sa’id bin al-Musayyab, bahwa Nabi SAW bersabda,

“Kulihat seorang dari umatku berjalan di atas shirath, kadang merangkak-rangkak dan kadang bergelantung. Kemudian datanglah shalawat (yang diucapkannya dahulu ketika hidup di dunia) lalu membangunkannya hingga dapat berdiri dan berjalan dengan kakinya, lalu ia diselamatkan oleh shalawatnya.”
(HR. Abu Musa al-Madini dalam at-Targhib wa at-Tarhib, hadits hasan jiddan).

Wasiat-Nasehat Para Ulama tentang Shalawat

Imam Abul Hasan asy-Syadzilli pernah berkata,

“Di akhir zaman tidak ada amalan yang lebih baik daripada bershalawat kepada Rasulullah SAW.”

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan,

“Tidak tertolak shalawat atas Nabi SAW.”

Al-Hafidz asy-Syaraji berkata,

“Semua dzikir tidak diterima kecuali dengan khusyuk dan hadir hatinya kecuali shalawat, maka akan diterima meskipun tanpa khusyuk dan hadirnya hati. Karena itu Abul Hasan al-Bakri berpesan: “Seharusnya tiap hari seseorang jangan kurang membaca shalawat dari 500 kali.”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berwasiat,

“Dengan membaca shalawat, seorang hamba dapat meraih keridhaan Allah Swt., memperoleh kebahagiaan dan restu Allah Swt., berkah-berkah yang dapat dipetik, doa-doa yang terkabulkan, bahkan dia bisa naik ke tingkatan derajat yang lebih tinggi, serta mampu mengobati penyakit hati dan diampuni dosa-dosa besarnya.”

Adapun Syaikh Ibn Athaillah as-Sakandari berkata,

“Siapa yang (merasa) tidak memiliki amalan shalat dan puasa yang banyak untuk menghadap Allah di hari kiamat, maka hendaknya ia perbanyak membaca shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW.”

Al-Quthb al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menyebutkan bahwasanya para ulama berkata,

“Satu shalawat dari Allah cukup untuk seorang hamba, dunia dan akhirat.”

As-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki pernah berpesan,

“Jangan tinggalkan membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Karena bacaan shalawat itu merupakan kunci segala kebaikan dan pintu segala keutamaan untuk agama, dunia dan akhirat.”

Al-Habib Umar bin Hafidz mengatakan,

“Sesungguhnya apabila engkau melakukan ketaatan kepada Allah seumur hidupmu, bahkan Allah berikan di atas umurmu adalah umurnya seluruh manusia untuk digunakan dalam ketaatan kepadaNya, maka sesungguhnya lebih hebat satu shalawat dari Allah Swt."

Muhasabah Diri dan Teruskan Berselawat.

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّم وبَارِك عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الفاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، والخاتِم لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الحقِّ بَالحَقِّ، والهادي إلى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ، صلَّى اللهُ علَيهِ وعَلَى آلِهِ وصحبِهِ، حَقَّ قَدْرِهِ ومِقْدَارِهِ العَظِيم.."

SALAWAT IBADAH YANG PASTI DITERIMASocialTwist Tell-a-Friend

Sejarah Muallif Kitab Dalail Al-Khairat

SEJARAH MUALLIF KITAB DALAIL AL-KHAIRAT

Sayyid Abu Abdillah Muhammad ibn Sulaiman Al-Jazuli

Tulisan ini adalah sebagian dari sejarah perjalanan seorang imam yang alim dan amil, seorang wali Allah swt. yang besar dan sempurna yang ma’rifat kepada Allah swt. yang muhaqqik dan wasil kepada-Nya, seorang tokoh terkemuka pada zamannya, yang berbeda pada masanya, Sayyid Abu Abdillah Muhammad ibn Sulaiman Al-Jazuli rodliyallahu ‘anhu yang mengarang kitab dalailul khairat.

KELAHIRAN & NASAB

Beliau dilahirkan di daerah Jazulah yaitu di sebuah kabilah dari Barbar di pantai negeri Maghrib (maroko) Afrika. Beliau belajar di Fas yaitu sebuah kota yang cukup ramai yang terletak tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dengan Mesir. Jarak antara Fas dan Mesir kira-kira 36 derajat 17 daqiqoh atau sekitar 4.064 KM. Di kota Fas beliau belajar hingga sangat benyak menguasai ilmu yang bermacam-macam sehingga namanya tersohor, kemudian beliau mengarang kitab “Dalail al-Khairat”.

Adapun nasabnya adalah Sayyid Abu Abdillah Muhammad ibn Sulaiman ibn Abdurrahman ibn Abu Bakar ibn Sulaiman ibn Ya’la ibn Yakhluf ibn Musa ibn ‘Ali ibn Yusuf ibn Isa ibn Abdullah ibn Jundur ibn Abdurrahman ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Hsan ibn Ismail ibn Ja’far ibn Abdullah ibn Hasan ibn Hasan ibn Ali ibn Abu Tholib Karramallahu Wajhah.

SEJARAH MENJELANG MENGARANG KITAB DALAILUL KHAIRAT

Adapun sebab musabab beliau mengarang kitab Dalailul Khairat adalah karena pada suatu saat beliau singgah di suatu desa bertepatan dengan waktu (habisnya) sholat dhuhur. Tetapi beliau tidak menjumpai seorang pun yang dapat beliau tanyai untuk mendapatkan air wudlu. Akhirnya beliau menemukan sebuah sumur yang tidak ada timbanya, maka beliau berputar-putar di sekitar sumur dalam keadaan bingung karena tidak menemukan alat untuk menimba air. Tetapi kemudian beliau dilihat oleh seorang anak perempuan kecil yang berusia sekitar tujuh tahun.

Anak itu bertanya kepada Sayyid Muhammad Al-Jazuli.
“ya syaikh, kenapa anda nampak kebingungan berputar-putar disekitar sumur?”
Syaikh menjawab, “saya Muhammad ibn Sulaiman”
Anak itu bertanya lagi, “apa yang hendak tuan kerjakan?”
Syaikh menjawab, “waktu sholat dhuhurku sudah sempit, tetapi saya belum mendapatkan air untuk berwudlu”
Anak kecil itu bertanya lagi,
“apakah dengan namamu yang sudah terkenal itu tidak bisa (hanya sekedar) mendapatkan air wudlu dari dalam sumur? Tunggulah sebentar!”

Kemudian anak kecil itu mendekat ke bibir sumur dan meniupnya sekali, tiba-tiba airnya mengalir dan memancarkan di sekitar sumur seperti sungai besar. Kemudian anak kecil itu pulang ke rumahnya, dan syaikh Muhammad pun segera berwudlu dan melaksanakan shalat dluhur. Setelah itu Syaikh Muhammad Al-Jazuli bergegas mendatangi rumah anak perempuan kecil itu, sesampainya disana beliau mengetuk pintu.

Anak itu berkata, “siapa itu?”
Syaikh menjawab, “wahai anak perempuanku, saya bertanya kepadamu, saya bersumpah demi Allah swt. yang menciptakan kamu dan menunjukkan kepadamu terhadap Nabi Muhammad saw. saya hendak menanyakan tentang satu hal, saya mohon kamu mau menceritakan kepadaku dengan apakah kamu bisa mendapat martabat yang tinggi?”
Lalu anak perempuan kecil itu menjawab, “kalaulah tidak karena sumpahmu, tentulah aku tidak akan menceritakannya. Saya mendapatkan keistimewaan itu karena membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw”.

Setelah peristiwa itu kemudian Syaikh Muhammad Al-Jazuli mengarang kitab Dalailul Khairat di kota Fas. Sebelum beliau menyebarluaskan kitab itu, beliau mendapat ilham untuk pulang kembali ke tanah kelahirannya. Maka beliau kembali dari Fas ke desa di tepi daerah Jazulah. Kemudian beliau dengan kesendiriannya itu bertemu Syaikh Abu Abdillah Muhammad ibn Abdullah as-Shaghir, seorang penduduk dipinggiran desa dan beliau berguru Dalail kepadanya. Kemudian Syaikh Muhammad Al-Jazuli melaksanakan kholwat untuk beribadah selama 14 tahun dan kemudian keluar dari kholwatnya untuk mengabdikan diri dan menyempurnakan pentashihan kitab Dalailul Khairat pada hari jum’at, 6 Rabi’ul Awwal 862 H. Delapan tahun sebelum beliau wafat.

WAFATNYA SANG MUALLIF

Beliau wafat ketika melaksanakan shalat subuh pada sujud yang pertama pada tanggal 16 Rabi’ul Awwal 870 H. Beliau dimakamkan setelah waktu shalat dhuhur pada hari itu juga di tengah masjid yang beliau bangun. Sebagian dari keramatnya adalah setelah 77 tahun dari wafatnya beliau, makam beliau dipindahkan ke Marakisy (Maroko). Ketika jenazah beliau dikeluarkan dari kubur, keadaannya masih utuh seperti ketika beliau dimakamkan. Rambut dan jenggot beliau masih nampak bersih dan jelas seperti pada hari beliau dimakamkan.

Makam beliau sering diziarahi oleh banyak orang. Sebagian besar dari peziarah membaca kitab Dalailul Khairat disana, sehingga dijumpai di makam itu bau minyak misik yang amat harum karena begitu banyak dibacakan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, para sahabat, dan keluarganya. Kisah wangi semerbak adalah sebagian dari sejarah Syaikh Muhammad Al-Jazuli. Sejarah yang lain tentang beliau bahwa para oarang shaleh dari berbagai penjuru dari masa ke masa senantiasa membaca dan mengamalkan kitab beliau, yaitu Dalail Al-Khairat.

Akhirnya beliau mendapat predikat sebagai seutama-utamanya orang yang bersama Rasulullah SAW. kelak karena banyaknya pengikut beliau yang membaca shalawat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Seutama-utama manusia bersamaku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak membaca shalawat untukku”.

Syaikh al-Khafidh Abu Na’im berkata, “Sejarah besar tentang Syaikh Muhammad Al-Jazuli ini benar-benar sesuai dengan hadits dan fatwa para sahabat tentang membaca shalawat kepada nabi ini saya telah menukilnya meskipun banyak para ulama yang mengetahuinya secara pasti”.

Wallahu a’lam bish-showab.....

Sejarah Muallif Kitab Dalail Al-KhairatSocialTwist Tell-a-Friend

KELEBIHAN BERSELAWAT KE ATAS NABI MUHAMMAD S.A.W

.
Al-Sheikh Abdul Kadir Al-Jelani Al-Hasani, Quddisa sirruhu menyatakan tentang kelebihan berselawat ke atas Nabi Muhammad s.a.w. di dalam kitabnya al-Safinah al-Qadiriyyah. Beliau meriwayatkan daripada Ibnu Farhun berkata: Berselawat kepada Nabi Muhammad s.a.w. itu mempunyai empat puluh dua kelebihan. Hal ini tertulis di dalam kitabnya ‘Hadaiq al-Anwar’:-

1.Melaksanakan perintah Allah.

2.Bersamaan dengan selawat Allah kepada Rasulullah s.a.w.

3.Bersamaan dengan selawat para malaikat.

4.Mendapat ganjaran sepuluh kali selawat daripada Allah atas setiap kali selawat yang diucapkan (selawat daripada Allah bererti rahmat).

5.Dikurniakan oleh Allah sepuluh darjat atas tiap-tiap satu selawat.

6.Dituliskan oleh malaikat sepuluh kebaikan atas setiap selawat.

7.Dihapuskan oleh Allah sepuluh kejahatan atas setiap selawat.

8.Segala doa akan diperkenankan oleh Allah.

9.Mendapat syafaat daripada Rasulullah s.a.w.

10.Mendapat keampunan Allah serta akan ditutup segala keaiban.

11.Allah akan menutupi segala dukacita.

12.Dikurniakan maqam hampir kepada Rasulullah s.a.w.

13.Mendapat darjat al-Sidq.

14.Ditunaikan segala hajat.

15.Salam sejahtera pada hari kiamat.

16.Allah dan para malaikat akan berselawat ke atas individu yang berselawat.

17.Mendapat khabar gembira daripada Allah dengan balasan syurga.

18.Salam sejahtera pada huru-hara hari kiamat.

19.Rasulullah s..a.w. akan menjawab secara langsung ke atas setiap selawat yang dibacakan.

20.Mudah mengingat semula perkara-perkara yang lupa.

21.Mendapat kedudukan yang baik pada hari kiamat serta tidak akan kecewa pada hari itu.

22.Tidak akan merasai fakir.

23.Terpelihara daripada dihinggapi sifat bakhil.

24.Mendapat kesejahteraan daripada doa Rasulullah s.a.w. kepada yang berselawat.

25.Selawat akan menjemput setiap pengucapanya ke jalan syurga.

26.Menjauhkan seseorang itu daripada terlibat dalam majlis-majlis yang tidak disebut padanya nama Allah dan Rasul-Nya atau daripada majlis-majlis lagha.

27.Berselawat menyempurnakan kalam pujian Allah apabila disebut (di dalam doa), maka akan disambut selepas itu dengan kalimah selawat ke atas Nabi Muhammad s.a.w.

28.Selamat melintasi titian Sirat al-Mustaqim pada hari kiamat.

29.Disambut oleh Allah pada hari kiamat dengan kata-kata pujian yang lunak.

30.Mendapat balasan rahmat yang luas daripada Allah.

31.Mendapat keberkatan daripada Allah.

32.Mendapat kesempurnaan iman.

33.Kasih dan cinta kepada Rasulullah s.a.w.

34.Mendapat hidayah Allah dan dikurniakan hati yang sentiasa hidup mengingati Allah.

35.Setiap selawat yang dibaca akan dibentangkan di hadapan Rasulullah s.a.w. secara langsung.

36.Teguh pendirian dengan kebenaran.

37.Berselawat bererti kita menggunakan sebahagian hak-hak Rasulullah s.a.w. ke atas diri kita. Di samping itu ianya dianggap sebagai mensyukuri nikmat Allah yang mengurniakan dan mengutuskan Rasulullah s.a.w. kepada kita.

38.Berselawat juga bererti zikrullah, bersyukur serta mengikut segala nikmat yang dikurniakan oleh Allah.

39.Berselawat bererti melengkapkan pengertian berdoa dan memohon kepada Allah, ke atas Rasulullah s.a.w. dan kepada diri sendiri.

40.Antara kelebihan yang paling hebat kepada setiap individu ialah akan terjelma gambaran Rasulullah s.a.w. di dalam jiwanya.

41.Dikurniakan oleh Allah maqam seorang Syeikh dan Murabbi.

42.Mendapat kebahagiaan, ketenangan hidup didunia dan akhirat.

Sumber
KELEBIHAN BERSELAWAT KE ATAS NABI MUHAMMAD S.A.WSocialTwist Tell-a-Friend

Keutamaan Salawat


Fadilah (keutamaan) bershalawat atas nabi sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran bahwa Allah Swt. dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat atas Nabi Muhammad Saw., seperti terlihat dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersha-lawat untuk Nabi… .” (QS.33:56).

Penggalan ayat ini menunjukkan bahwa Allah Swt. melimpahkan rahmat bagi Nabi Muhammad Saw. dan para malaikat memintakan ampunan bagi Nabi Muhammad Saw. Karena itu, pada lanjutan ayat tersebut, Allah Swt. menyuruh orang-orang mukmin supaya bershalawat dan memberi shalawat kepada Nabi Muhammad Saw.: “…Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Untuk mengetahui keutamaan apakah yang diperoleh orang-orang yang bershalawat, baiklah kita perhatikan maksud-maksud hadis yang di bawah lni.
Bersabda Nabi Saw.

Artinya: “Barangsiapa bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya sepuluh kali.” (HR. Muslim dari Abû Hurairah).

Artinya: “Bahwasanya bagi Allah Tuhan semesta alam ada beberapa malaikat yang diperintah berjalan di muka bumi untuk memperhatikan keadaan hamba-Nya. Mereka me-nyampaikan kepadaku (sabda Nabi) akan segala salam yang diucapkan oleh ummatku.” (HR. Ahmad. Al-Nasâ’i dan Al-Darimî).

Artinya: “Barangsiapa bershalawat untukku dipagi hari sepuluh kali dan di petang hari sepuluh kali, mendapatlah ia syafa’atku pada hari qiamat.” (HR. Al-Thabrânî)

Artinya: “Manusia yang paling utama terhadap diriku pada hari qiamat, ialah manusia yang paling banyak bershalawat untukku.” (HR. Al-Turmudzî).

Artinya: “Jibril telah datang kepadaku dan berkata: ‘Tidakkah engkau ridha (merasa puas) wahai Muhammad, bahwasanya tak seorang pun dari umatmu bershalawat untukmu satu kali, kecuali aku akan bershalawat untuknya sebanyak sepuluh kali? Dan tak seorang pun dari umatmu mengucapkan salam kepadamu, kecuali aku akan meng-ucapkan salam kepadanya sebanyak sepuluh kali?! (HR. Al-Nasâ’i dan Ibn Hibban, dari Abû Thalhah).

Sabda Rasulullah Saw. yang Artinya: “Barangsiapa -ketika mendengar azan dan iqamat mengucapkan: “Allâhumma Rabba Hâdzih al-Da’wât al-Tâmmah, wa al-Shalât al-Qâ’imati, shalli ‘alâ muhammadin ‘abdika wa Rasûlika, wa A’tihi al-Washîlata wa al-Fadhîlata, wa al-Darâjata al-Râfi’ata, wa al-Syafâ’ata yawm al-Qiyâmati (Artinya: “Ya Allah, ya Tuhannya seruan yang sempurna ini, serta shalat yang segera didirikan ini, limpahkanlah shalawat untuk Muhammad, hamba dan rasul-Mu. Dan berilah ia wasilah dan fadilah serta derajat yang amat tinggi dan (izin untuk) bersyafaat pada hari Kiamat)…, maka (bagi siapa yang mengucapkan doa tersebut) niscaya akan beroleh syafaatku kelak.”

Al-Ghazali didalam kitabnya Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn menceritakan seorang dari mereka (seorang dari kalangan ulama, sufi, ahli ibadah dsb.) pernah berkata: “Sementara aku menulis (catatan tentang) beberapa hadis, aku selalu mengiringinya dengan menuliskan shalawat untuk Nabi Saw., tanpa melengkapinya dengan salam untuk beliau. Malamnya aku berjumpa dengan beliau dalam mimpi, dan beliau berkata kepadaku: ‘Tidakkah sebaiknya engkau melengkapi shalawatmu untukku dalam bukumu itu?’ Maka sejak itu, tak pernah aku mengucapkan shalawat kecuali melengkapinya dengan ucapan salam untuk beliau.”

Diriwayatkan dari Abû Al-Hasan, katanya: “Aku pernah berjumpa dengan Nabi Saw. dalam mimpi, lalu kukatakan kepada beliau: ‘Ya Rasulullah, apa kiranya ganjaran bagi Al-Syâfi’i, ketika ia bershalawat untukmu dalam kitabnya: Al-Risâlah dengan ungkapan: ‘Semoga Allah bershalawat atas Muhammad setiap kali ia disebut oleh para penyebut, dan setiap kali sebutan tentangnya dilalaikan oleh para pelalai?’ Maka Nabi Saw. menjawab: ‘Karena ucapannya itu, ia dibebaskan dari keharusan menghadapi perhitungan (hisab pada hari Kiamat).’”

Dalam kitab yang sama (Ihya) Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa sesungguhnya berlipatganda-nya pahala shalawat atas Nabi Saw. adalah karena shalawat itu bukan hanya mengandung satu kebaikan saja, melainkan mengandung banyak kebaikan, sebab di dalamnya ter-cakup :

1. Pembaharuan iman kepada Allah.
2. Pembaharuan iman kepada Rasul.
3. Pengagungan terhadap Rasul.
4. Dengan inayah Allah, memohon kemuliaan baginya.
5. Pembaharuan iman kepada Hari Akhir dan berbagai kemuliaan.
6. Dzikrullah.
7. Menyebut orang-orang yang shalih.
8. Menampakkan kasih sayang kepada mereka.
9. Bersungguh-sungguh dan tadharru’ dalam berdoa.
10. Pengakuan bahwa seluruh urusan itu berada dalam kekuasaan Allah

Masih banyak keutamaan-keutamaan bagi orang-orang yang melakukan atau membaca shalawat atas Nabi. Namun penyusun hanya menukil beberapa hadis dan qawl (perkataan) ulama.
Adapun faedah atau manfaat bershalawat atas Nabi Muhammad Saw. sebagaimana dijelaskan hadis-hadis di atas terdapat sembilan belas perkara, yakni:

1. Memperoleh curahan rahmat dan kebajikan dari pada Allah Swt.;
2. Menghasilkan kebaikan, meninggikan derajat dan menghapuskan kejahatan;
3. Memperoleh pengakuan kesempurnaan iman, apabila kita membacanya 100 Kali;
4. Menjauhkan kerugian, penyesalan dan digolongkan ke dalam golongan orang-orang yang shalih;
5. Mendekatkan diri kepada Allah;
6. Memperoleh pahala seperti pahala memerdekakan budak;
7. Menghasilkan syafa’at;
8. Memperoleh penyertaan dari Malaikat rahmah;
9. Memperoleh hubungan yang rapat dengan Nabi; Seseorang yang bershashalawat dan bersalam kepada Nabi, shalawat dan salamnya itu disampaikan kepada Nabi;
10. Membuka kesempatan berbicara dengan Nabi Saw.;
11. Menghilangkan kesusahan, kegundahan dan meluaskan rezeki;
12. Melapangkan dada. Apabila seseorang membaca shalawat 100 kali, maka Allah akan melapangkan dadanya dan memberikan penerangan yang sinar seminarnya ke dalam hatinya;
13. Menghapuskan dosa. Apabila seseorang membaca dengan tetap tiga kali setiap hari, maka Allah akan menghapuskan dosanya;
14. Menggantikan shadaqah bagi orang yang tidak sanggup bershadaqah;
15. Melipatgandakan pahala yang diperoleh. Apabila seseorang bershalawat di hari Jumat, maka Tuhan akan memberikan kepadanya pahala yang berlipat ganda;
16. Mendekatkan kedudukan kepada Rasulullah di hari qiamat. Menyebabkan doa bisa diterima oleh Allah.
17. Menyebabkan doa bisa diterima oleh Allah;
18. Melepaskan diri dari kebingungan di hari qiamat. Apabila seseorang meninggalkan shalawat kepada Nabi, maka ia akan menghadapi kebingungan dan kekacauan di hari mahsyar

Memenuhi satu hak Nabi, atau menunaikan suatu tugas ibadat yang diwajibkan atas kita Apabila sese-orang tidak bershalawat, berartilah ia enggan memenuhi suatu haq Nabi yang wajib ia penuhi;

Rujukan : http://tarekatqodiriyah.wordpress.com/2009/07/22/keutamaan-shalawat
Keutamaan SalawatSocialTwist Tell-a-Friend

Popular Posts

Segala bahan bacaan disini adalah untuk umum dan HAK CIPTA ITU MILIK ALLAH SEMUANYA. Anda boleh ambil sebagai bahan rujukan ataupun bahan posting di blog-blog atau website anda TANPA PERLU MEMBERI SEBARANG KREDIT KEPADA BLOG INI.