Ahmad Rifaie Al Ahmadi Idrisi: tauhid


Search This Blog

Showing posts with label tauhid. Show all posts
Showing posts with label tauhid. Show all posts

Aqidah asy'ariyah dan asma wa shifat

.
Aqidah asy'ariyah dan asma wa shifat - 2009/02/25 11:13

Oleh: HABIB MUNZIR ALMUSAWA

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Kesejukan kasih sayang Nya semoga selalu menerangi hari hari anda dg kebahagiaan,

Saudaraku yg kumuliakan,
1. Aqidah Asy’ariyyah adalah aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang mengajarkan bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang wajib yang berjumlah 20 sifat. Begitu juga yang mustahil 20 sifat dan yang jaiz 1 sifat dan yang lainnya yang dapat diketahui dari buku-buku tauhid seperti Kitab Sifat Dua Puluh karangan Habib Usman bin Yahya dan kitab lainnya

Adapun aqidah Asmaa wa sifaat adalah bagian aqidah kelompok yang dikenal dengan Wahabiyyah, dalam aqidah ini mereka mengajarkan bahwa aqidah terbagi tiga bagian yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Ukuhiyyah dan Asmaa wa sifaat.

Perbedaan yang prinsip antara 2 kelompok diatas diantaranya dengan aqidah asmaa wa sifaat mereka berkeyakinan bahwa Allah dengan Zat Nya bersemayam diatas A’rsy sedangkan Ahlussunnah menta’wilkan ayat yang dijadikan dalil oleh mereka yaitu Firman Allah
اَلرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Bahwa Allah tidak bersemayam dengan Zat Nya diatas ‘Arsy secara singkat perbedaan antara keduanya bahwa Ahlussunnah menggunakan ta’wil dalam ayat2 sifat dengan ta’wil yang layak bagi Allah swt dengan segala kesucian Nya sedang mereka tidak menerimanya

2.    Tentu setelah anda tahu bahwa aqidah Asy’ariyyah adalah aqidah Ahlussunnah maka inilah yang harus dipegang sampai wafat. Mudah-mudahan Allah wafatkan kita semua dalam Khusnul Khotimah, Amin

mengenai masalah yg mereka selewengkan adalah masalah takwil, sbgbr :

AYAT TASYBIH

Mengenai ayat mutasyabih yg sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sangat digandrungi oleh sebagian kelompok muslimin sesat masa kini, mereka selalu mencoba menusuk kepada jantung tauhid yg sedikit saja salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada dilangit, mempunyai tangan, wajah dll yg hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid ilahi pada benak muslimin, akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan, maka perlu kita perjelas mengenai ayat ayat dan hadits tersebut.

Sebagaimana makna Istiwa, yg sebagian kaum muslimin sesat sangat gemar membahasnya dan mengatakan bahwa Allah itu bersemayam di Arsy, dengan menafsirkan kalimat ”ISTIWA” dengan makna ”BERSEMAYAM atau ADA DI SUATU TEMPAT” , entah darimana pula mereka menemukan makna kalimat Istawa adalah semayam, padahal tak mungkin kita katakan bahwa Allah itu bersemayam disuatu tempat, karena bertentangan dengan ayat ayat dan Nash hadits lain, bila kita mengatakan Allah ada di Arsy, maka dimana Allah sebelum Arsy itu ada?, dan berarti Allah membutuhkan ruang, berarti berwujud seperti makhluk, sedangkan dalam hadits qudsiy disebutkan Allah swt turun kelangit yg terendah saat sepertiga malam terakhir, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim hadits no.758, sedangkan kita memahami bahwa waktu di permukaan bumi terus bergilir,

maka bila disuatu tempat adalah tengah malam, maka waktu tengah malam itu tidak sirna, tapi terus berpindah ke arah barat dan terus ke yang lebih barat, tentulah berarti Allah itu selalu bergelantungan mengitari Bumi di langit yg terendah, maka semakin ranculah pemahaman ini, dan menunjukkan rapuhnya pemahaman mereka, jelaslah bahwa hujjah yg mengatakan Allah ada di Arsy telah bertentangan dg hadits qudsiy diatas, yg berarti Allah itu tetap di langit yg terendah dan tak pernah kembali ke Arsy, sedangkan ayat itu mengatakan bahwa Allah ada di Arsy, dan hadits Qudsiy mengatakan Allah dilangit yg terendah.

Berkata Al hafidh Almuhaddits Al Imam Malik rahimahullah ketika datang seseorang yg bertanya makna ayat : ”Arrahmaanu ’alal Arsyistawa”, Imam Malik menjawab : ”Majhul, Ma’qul, Imaan bihi wajib, wa su’al ’anhu bid’ah (tdk diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya wajib, bertanya tentang ini adalah Bid’ah Munkarah), dan kulihat engkau ini orang jahat, keluarkan dia..!”, demikian ucapan Imam Malik pada penanya ini, hingga ia mengatakannya : ”kulihat engkau ini orang jahat”, lalu mengusirnya, tentunya seorang Imam Mulia yg menjadi Muhaddits Tertinggi di Madinah Almunawwarah di masanya yg beliau itu Guru Imam Syafii ini tak sembarang mengatakan ucapan seperti itu, kecuali menjadi dalil bagi kita bahwa hanya orang orang yg tidak baik yg mempermasalahkan masalah ini.

Lalu bagaimana dengan firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10), dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yg turut berbai’at pada sahabat.

Juga sebagaimana hadits qudsiy yg mana Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat kepada Ku dengan hal hal yg fardhu, dan Hamba Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya....” (shahih Bukhari hadits no.6137)
Maka hadits Qudsiy diatas tentunya jelas jelas menunjukkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan panca indera lainnya, bagi mereka yg taat pada Allah akan dilimpahi cahaya kemegahan Allah, pertolongan Allah, kekuatan Allah, keberkahan Allah, dan sungguh maknanya bukanlah berarti Allah menjadi telinga, mata, tangan dan kakinya.

Masalah ayat/hadist tasybih (tangan/wajah) dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya.
1.Pendapat Tafwidh ma’a tanzih
2.Pendapat Ta’wil

1. Madzhab tafwidh ma’a tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kpd Allah swt, dg i’tiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan)
Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu;minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dg hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yg juga di pegang oleh Imam Abu hanifah.

dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dg mahluk, bukan seperti para imam yg memegang madzhab tafwidh.

2. Madzhab takwil yaitu menakwilkan ayat/hadist tasybih sesuai dg keesaan dan keagungan Allah swt, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari,Imam Nawawi dll. (syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)
Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam imam ahlussunnah waljamaah.

seperti ayat :
”Nasuullaha fanasiahum” (mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka) (QS Attaubah:67),
dan ayat : ”Innaa nasiinaakum”. (sungguh kami telah lupa pada kalian QS Assajdah 14).

Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam Alqur’an, dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa, tapi berbeda dg sifat lupa pada diri makhluk, karena Allah berfirman : ”dan tiadalah tuhanmu itu lupa” (QS Maryam 64)

Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)

apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita?

Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits Qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Annawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yg dimaksud sakit pada Allah adalah hamba Nya, dan kemuliaan serta kedekatan Nya pada hamba Nya itu, ”wa ma’na wajadtaniy indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan Ku dengan menjenguknya (Syarh Nawawi ala shahih Muslim Juz 16 hal 125)

Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yg berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy).
Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah swt, sebagaimana firman Nya : ”Maha Suci Tuhan Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa apa yg mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas tuhan sekalian alam” . (QS Asshaffat 180-182).
Walillahittaufiq

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a'lam

Sumber:

http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=7&id=21147#21147
Aqidah asy'ariyah dan asma wa shifatSocialTwist Tell-a-Friend

Mengapa tauhid tiga serangkai?

.
— 16/11/2009 3:28 pm
Mengapa tauhid tiga serangkai?

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA

SEJAK kemasukan Islam ke Tanah Melayu, umat Islam di negara ini kuat berpegang dengan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) yang disusun atau diformulasikan oleh dua tokoh terbesar dalam bidang ilmu tauhid iaitu Imam Abu al Hasan al Asy’ari r.a

dan Imam Abu Mansur al Maturidi r.a. Perkara ini telah ditegaskan oleh ulama ulung Tanah Melayu, al Allamah Sheikh Abdullah Fahim.

Beliau juga menyatakan bahawa ia telah menjadi ijmak ulama di Tanah Melayu.

Antara kenyataannya berbunyi: “Tuan-tuan sedia maklum beratus-ratus tahun bahawa orang bangsa Melayu seMelaya ini dari peringkat ke bawah hingga peringkat ke atas; awam-awam, kadi-kadi, ulama-ulama, menteri-menteri, hingga Raja-raja sekalian mereka itu bermazhab dengan mazhab al Imam al Syafi’e r.a ijma’an (ijmak), tiada seorang pun yang bermazhab lain daripada mazhab Syafi’e. Usuluddin atas perjalanan Abi al Hasan al Asy’ari r.a. Diambilkan dari Syuruh dan Hawasyi Ummu al Barahin dan Jauharah dan sebagainya daripada kitab-kitab Melayu”.

Di dalam kitab ini, pendekatan Sifat 20 digunakan bagi memahami permasalahan ketuhanan. Pendekatan ini juga diguna pakai di kebanyakan negara-negara Islam yang berpegang dengan akidah ASWJ seperti di Mesir, Syria dan Morocco.

Ia juga menjadi silibus di kebanyakan universiti di dunia Islam termasuklah universiti Islam terulung di dunia, Universiti al Azhar al Syarif.

Sejak doktrin ini diguna pakai di negara kita, kita berupaya mengecapi nikmat keamanan beragama dan ketamadunan negara. Tidak seperti negara-negara Islam lain yang memakai acuan yang bercanggah dengannya seperti aliran fahaman Syiah, Muktazilah, Musyabbihah dan sebagainya.

Tidak timbul di dalam doktrin Sifat 20 ini soal-soal kepincangan dan percanggahannya dengan akidah ASWJ yang tulen.

Namun, setelah ratusan tahun pendekatan ini digunakan tanpa sebarang masalah dalam menjaga kemurnian tauhid dan akidah umat Islam, timbul desas-desus yang mengatakan bahawa ia diambil dari Falsafah Greek.

Malah, tidak lagi sesuai dijadikan sebagai pendekatan dalam pembelajaran ilmu Tauhid. Sementelahan itu juga, pendekatan tauhid tiga serangkai yang dirumuskan oleh Ibnu Taimiyyah menjadi pengganti Doktrin Sifat 20.

Usaha-usaha untuk menukar pendekatan tauhid tiga serangkai ini dalam kurikulum pendidikan negara juga nampaknya begitu pantas dilakukan.

Persoalannya, kenapakah tiba-tiba pendekatan ini pula yang perlu dipilih sebagai pengajaran ilmu tauhid di negara kita? Adakah pendekatan Sifat 20 mengandungi unsur-unsur yang mengelirukan atau terseleweng dari iktikad ASWJ?

Adakah pembahagian tauhid tiga serangkai ini telah dinaskan oleh syarak dan terdapat dalil-dalil yang menunjukkan ke atasnya? Apakah kita pasrah sahaja dengan pendapat yang mengatakan doktrin Sifat 20 yang kita pegang dan pakai selama ini bukan tauhid yang benar tetapi diambil dari fahaman falsafah Greek.

Jika begitu, semua orang yang berpegang dengan Tauhid 20 mengikut ajaran yang salah dan sesat. Apakah boleh kita terima penyesatan ini yang melibatkan nenek moyang kita, para ulama kita dan majoriti umat Islam di seluruh dunia?

Dibawa Rasullulah SAW

Kita telah sedia maklum, bahawa akidah ASWJ yang diketahui secara umum ialah akidah yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan diikuti oleh sahabat-sahabat baginda.

Tidak kedapatan langsung, perkataan yang terkeluar daripada Rasulullah SAW dan sahabat baginda yang menyebut tentang tauhid yang digembar-gemburkan oleh pengikut Ibnu Taimiyyah dan Wahhabi ini.

Begitu juga dalam metodologi ASWJ yang telah disusun oleh pelopornya, Imam Abu al Hasan al Asy’ari r.a dan Imam Abu Mansur al Maturidi r.a, tidak pernah menggariskan tauhid ini dalam ruang lingkup akidah ASWJ.

Apa yang kita dapati tauhid ini telah ditimbulkan dan direka oleh Ibnu Taimiyyah dan dikembang biakkan pula oleh anak-anak muridnya sehingga ke generasi Muhammad ibn Abdul Wahhab. Dalam erti kata lain, tauhid inilah yang menjadi pegangan golongan Wahhabi secara khusus.

Sejak dahulu lagi hinggalah ke hari ini, telah terdapat banyak penentangan dan penolakan yang diutarakan oleh ulama terhadap Tauhid 3 Serangkai ini.

Oleh yang demikian, kita melihat di dalam kitab-kitab penulisan ulama ASWJ, terdapat banyak butiran lanjut mengenai penolakan mereka terhadap tauhid yang direka cipta ini.

Jika kita menyoroti dari perspektif ulama tersebut, kita mendapati ulama al Azhar telah bersetuju mengeluarkan kenyataan tentang kesalahan tauhid ini yang sebenarnya telah direka dan dicipta oleh orang-orang yang terkeliru dengan maksud sebenar ayat al-Quran dan hadis.

Justeru, kenapa pula kita perlu memakai pendekatan Tauhid 3 Serangkai yang mengandungi kepincangan dan telah ditolak oleh ulama kecuali Ibnu Taimiyyah dan pengikut-pengikutnya?

Untuk lebih jelas lagi, di bawah ini disenaraikan beberapa cendekiawan dan sarjana Islam dan kitab penulisan mereka yang mengandungi penolakan terhadap ajaran tauhid rekaan ini:

*Al ‘Allamah al Mufassir al Muhaddith Sheikh Yusof al Dijwi RA, Ahli Lembaga Majlis Ulama Besar al Azhar.

Beliau mengeluarkan fatwa penolakan al Azhar terhadap tauhid rububiah dan uluhiah. Kenyataannya ini dipaparkan dalam Majalah Nur al Islam edisi tahun 1933 yang merupakan lidah rasmi al Azhar pada masa itu.

Fatwa yang dikeluarkannya ini, turut dipersetujui oleh ulama al Azhar yang lain tanpa adanya sebarang bangkangan. Sehingga hari ini, fatwa tersebut masih lagi segar. Ini dapat dilihat dalam beberapa majalah yang diiktiraf oleh al Azhar. Antaranya, di dalam majalah al Muslim. Al Muhaddith al ‘Allamah Sheikh Muhammad Zaki Ibrahim r.a telah mengeluarkan kembali fatwa ini dalam majalah tersebut.

*Al Muhaddith al ‘Allamah Sheikh Salamah al Qudha’i al ‘Azzami al Syafi’i r.a dalam kitabnya al Barahin al Sati’ah fi Raddi b’ad al bida’ al Syai’ah.

Kitab ini telah mendapat pengiktirafan dan pujian daripada muhaddith pada zaman tersebut iaitu al ‘Allamah Sheikh Muhammad Zahid al Kauthari r.a.

*Al Allamah al Muhaddith Prof. Dr. Sayyid Muhammad ibn Alawi al Maliki al Hasani, ulama besar di Mekah al Mukarramah dan bekas tenaga pengajar Masjid al Haram yang diakui ilmunya oleh ulama pada zaman ini.

Beliau telah menulis penolakannya terhadap tauhid ini dalam kitabnya Huwallah. Bahkan beliau menyarankan kerajaan Arab Saudi supaya mengkaji semula pengajaran tauhid ini di institusi pengajian rendah, menengah dan Tinggi di dalam Muktamar Hiwar al Watoni di Mekah yang diadakan pada 5/11/1424 hingga 9/11/1424. Ia disebut di dalam kertas kerja beliau yang bertajuk al Ghuluw.

*Mufti Besar Mesir, Prof. Dr. Ali Jumu’ah.

Beliau turut menyentuh masalah ini di dalam laman web beliau ketika menjawab soalan yang dikemukakan kepadanya. Iaitu, tentang seorang pemuda yang mengkafirkan seluruh penduduk kampung kerana bertawassul dengan mendakwa orang yang bertawassul tergolong dalam golongan musyrikin yang beriman dengan tauhid rububiah tetapi tidak beriman dengan tauhid uluhiah.

Beliau menolak sekeras-kerasnya pembahagian tauhid ini dengan mengatakan bahawa pembahagian tauhid ini adalah perkara rekaan yang tidak pernah datang dari Salafussoleh tetapi orang pertama yang menciptanya ialah Sheikh Ibnu Taimiyyah.

Beliau juga menyatakan bahawa pendapat yang menyatakan bahawa tauhid rububiah sahaja tidak mencukupi bagi keimanan seseorang adalah pendapat yang diadakan-diadakan dan bercanggah dengan ijmak kaum Muslimin sebelum Ibnu Taimiyyah.

*Prof. Dr. Muhammad Sa’id al Ramadhan Bouti, Ulama Kontemporari Dunia Islam dari Syria.

Beliau menyatakan dengan tegas bahawa pembahagian tauhid ini adalah bidaah dalam Seminar Pengurusan Fatwa Negara-negara Asean anjuran Universiti Sains Islam Malaysia pada pada 16 hingga 17 April 2005 di Hotel Nikko Kuala Lumpur.

*Prof. Dr. Isa ibn Abdullah Mani’ al Himyari – Mantan Pengarah Jabatan Waqaf dan Hal Ehwal Islam Dubai.

Beliau telah menulis mengenai kepincangan pembahagian tauhid ini di dalam kitabnya yang bertajuk ‘al Fath al Mubin fi Bara’at al Muwahhidin min ‘Aqaid al Musyabbihin.

*Al ‘Allamah Abu Abdullah ‘Alawi al Yamani dalam kitabnya Intabih Dinuka fi Khatorin.

Kitab ini telah mendapat pujian dari lima ulama besar Yaman.

*Al ‘Allamah Abu al Hasanain Abdullah ibn Abdur Rahman al Makki al Syafi’i, ulama besar Mekah.

Beliau juga telah membahaskan masalah ini di dalam kitabnya al Qaul al Wajih fi Tanzih Allah Taala ‘an al Tasybih.

*Dr. Sheikh Yusof al Bakhur al Hasani salah seorang ahli fatwa di Kanada juga telah menulis risalah mengenainya.

*Sheikh Sirajuddin Abbas seorang ulama unggul Indonesia, juga menghuraikan masalah ini yang ditulis dalam versi Melayu dalam kitabnya Akidah Ahli Sunnah wal Jamaah.

Beliau dengan tegas menyatakan bahawa tauhid ini merupakan iktikad rekaan puak Wahhabi dan bukannya iktikad ASWJ.

Dalam satu petikan, beliau menyatakan: Kaum Wahhabi mencipta pengajian baru ini bertujuan untuk menggolongkan orang-orang yang datang menziarahi Makam Nabi SAW di Madinah, orang-orang yang berdoa dengan bertawassul dan orang yang meminta syafaat Nabi SAW serupa dengan orang kafir yang dikatakan bertauhid rububiah itu.

*Al ‘Allamah Muhammad al ‘Arabi ibn al Tabbani al Hasani, Tenaga Pengajar di Masjid al Haram.

Beliau juga turut menulis kepincangan tauhid ini di dalam kitabnya Bara’ah al Asy’ariyyin min ‘Aqaid al Mukhalifin.

*Dr. Umar Abdullah Kamil, sarjana dan pakar ekonomi Arab Saudi serta ahli eksekutif Universiti al Azhar.

Beliau pernah membentangkan kebatilan konsep Tauhid 3 Serangkai ini di dalam Seminar Perpaduan Ummah dan Pemurniaan Akidah anjuran Kerajaan Negeri Pahang pada 25-26 Ogos 2006 dan di Multaqa 3 Ulama Mekah al Mukarramah yang dianjurkan oleh Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Johor pada 20 Februari 2008.

Kertas kerja tersebut telah diterbitkan oleh Sekretariat Penjelasan Hukum Berkenaan Isu-isu Aqidah dan Syariah Majlis Agama Islam Johor.

Beliau turut membahaskan kepincangan pembahagian tauhid ini di dalam kitabnya yang bertajuk Kalimah Hadi’ah fi Bayan Khata’ al Taqsim al Thulasi li al Tauhid (Perkataan yang tenang dalam menjelaskan kesalahan pembahagian yang tiga bagi ilmu Tauhid).

*Al Allamah Abdur Rahman Hasan Habannakah al Maidani.

Beliau juga telah menulis masalah ini secara khusus di dalam kitabnya yang bertajuk Tauhid al Rububiah wa Tauhid al Ilahiyyah wa Mazahib al nas bi al Nisbah Ilaihima.

Ulama-ulama ini telah lama melakukan pengkajian dan penelitian rapi terhadap tauhid tiga serangkai ini.

Kepada pembaca yang prihatin dan bijaksana sebaik-baiknya mendapatkan keterangan lanjut dari kitab-kitab ini terlebih dahulu sebelum berani membuat kesimpulan dan melontarkan pendapat di khalayak ramai.

Asas sahih

Perkara agama apatah lagi berkaitan dengan akidah tidak boleh dibuat kesimpulan sebarangan tetapi perlu merujuk kepada asas yang sahih.

Untuk mempertahankan agama tidak cukup bermodalkan semangat juang dan sijil menjela-jela semata-mata sehingga kita terpekik dan terlolong tidak kena pada tempatnya tetapi memerlukan kemantapan ilmu, kecemburuan terhadap penodaan yang dilakukan ke atas agama dan umatnya, keikhlasan kepada Allah dan hati yang disinari cahaya oleh Allah.

Ibnu Taimiyyah dan pengikut-pengikutnya didapati telah menjadikan konsep pembahagian tauhid ini sebagai batu loncatan untuk mengkafirkan umat Islam.

Mereka telah mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dengan Rasulullah SAW dan wali-wali, orang-orang yang menziarahi kubur dan sebagainya dengan dakwaan orang yang melakukan pekerjaan tersebut bertauhid dengan tauhid rububiah sahaja tetapi tidak tidak bertauhid dengan tauhid uluhiah.

Mereka menyamakan tauhid yang dimiliki oleh orang-orang yang melakukan pekerjaan ini sama dengan orang musyrikin yang menjadikan berhala sebagai sampingan mereka dengan Allah.

Apakah pernah ketika Rasulullah SAW berdakwah, Baginda SAW mengatakan kepada orang yang memeluk Islam kamu telah mempunyai tauhid rububiah tetapi masih belum memiliki tauhid uluhiah?

Apakah boleh kita katakan orang bukan Islam juga mempunyai tauhid seperti orang Islam atau ahli tauhid?

Objektif tauhid Asma’ dan Sifat digembar-gemburkan untuk menyandarkan kepada Allah SAW makna perkataan tangan, mata, bersemayam, ketawa, turun dan sifat penyerupaan yang lain kepada makna yang hakiki yang dikenali di sisi makhluk.

Maha Suci Allah daripada apa yang mereka sifatkan kerana yang demikian itu menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.

Sehubungan dengan ini, umat Islam diseru agar sama-sama berfikir dan meneliti dengan hati yang lapang dan dada yang terbuka rasional perkara ini.

Kita seharusnya berbangga dengan ramainya bilangan umat Islam dan berusaha menambah bilangan umat Islam tetapi sebaliknya kita sendiri yang mengecilkan lagi kuantiti umat Islam yang semakin hilang kualitinya hanya kerana permasalahan uluhiah dan rububiah yang sengaja ditimbulkan.

Tidak ada suatu perkara yang lebih buruk daripada mengkafirkan orang Islam yang menyebut kalimah tauhid Laa ilaaha illallah dan mentasdiqkannya di dalam hati.

Banyak kemusnahan yang berlaku di negara-negara Islam disebabkan oleh perkara ini. Kita sendiri telah menyaksikan dengan mata kepala kita bagaimana persengketaan umat Islam telah mencetuskan kelemahan dan kemusnahan terhadap negara-negara Islam seperti di Afghanistan, Yaman, Lebanon, Syria, Mesir dan sebagainya.

Semoga persengketaan dan kehancuran ini tidak terjadi di negara kita Malaysia yang tercinta ini. Justeru, sewajarnya pembahagian ini dibentangkan di atas meja perbincangan secara ilmiah dan profesional serta berlandaskan kepada usul kitab dan sunnah.

Ini hanyalah lontaran awal dari hasil penelitian kami yang dirujuk kepada sumber-sumber yang sahih dan tokoh-tokoh ulama yang berkeahlian. Insya-Allah, penerangan lanjut mengenai tauhid ini akan dikeluarkan pada keluaran akan datang.

Bahan-bahan yang bakal dipersembahkan banyak merujuk kepada kitab penulisan Imam al Haramain al ‘Allamah Ibnu al ‘Arabi al Tabbani bertajuk Bara’ah al Asy’ariyyin. Ia telah diringkaskan oleh al Allamah Prof. Dr. Isa ibn Abdullah Mani’ al Himyari, Mantan Pengarah Jabatan Waqaf dan Hal Ehwal Islam Dubai di dalam kitabnya yang bertajuk ‘al Fath al Mubin fi Bara’at al Muwahhidin min ‘Aqaid al Musyabbihin.

sumber:

http://yayasansofa.com/v1/?p=116

Sambungan

— 30/11/2009 9:41 am
Tauhid tiga serangkai disyariat dalam Islam?

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA

MINGGU ini kita menyambung kembali persoalan tauhid tiga serangkai yang telah pun diberikan lontaran awal pada dua minggu lepas. Sebelum soalan pertama dilontarkan mengenai tauhid tiga serangkai atau tauhid tiga bahagian yang diformulasikan atau direka oleh Ibnu Taimiyyah ini, sebaiknya kita melihat dahulu secara ringkas definisi yang diberikan kepada ketiga-tiga tauhid ini.

Tauhid rububiah didefinisikan dengan makna mengesakan Allah pada ciptaan, pemerintahan, takdir, pentadbiran dan perbuatan-Nya serta dalam memberikan suatu kesan.

Manakala tauhid uluhiah didefinisikan dengan makna mengesakan Allah dalam hal peribadatan tanpa mengambil seorang manusia pun bersama Allah sebagai sembahan.

Tauhid Asma’ dan Sifat pula didefinisikan dengan makna mengesakan Allah pada apa yang dinamakan dan disifatkan dengan diri-Nya, sebagaimana yang terdapat di dalam kitab-Nya atau yang didapati daripada lidah nabi-Nya yang telah menetapkan dengan apa yang telah ditetapkan bagi diri-Nya.

Dalam membincangkan pembahagian ini, maka perkara utama yang perlu dipersoalkan dan bincangkan ialah adakah pembahagian ini telah dinaskan oleh syarak dan terdapat dalil-dalil yang menunjukkan ke atasnya? Adakah pembahagian ini merupakan perkara yang disyariatkan ataupun perkara baru yang dicipta (bidaah)?

Persoalan ini, mengandungi beberapa jawapan:

Jawapan Pertama

Ibnu Taimiyyah yang merupakan pereka pembahagian tauhid ini mendakwa dirinya bermazhab Hanbali.
Namun Imam Ahmad ibnu Hanbal r.a. sendiri, yang dikatakan menjadi tempat sandaran bagi orang-orang yang melakukan pembahagian tauhid bidaah ini, tidak pernah menyatakan bahawa tauhid itu mempunyai beberapa bahagian; tauhid rububiah, tauhid uluhiah dan tauhid asma’ dan sifat.

Beliau juga tidak pernah menyatakan bahawa sesiapa yang tidak mengetahui tauhid uluhiah, tidak dikira makrifatnya tentang tauhid rububiah kerana tauhid rububiah ini telah diketahui oleh orang musyrikin.

Sesungguhnya akidah Imam Ahmad ibn Hanbal r.a telah disusun di dalam kitab-kitab karangan pengikutnya. Misalnya, di dalam kitab biografinya yang ditulis oleh Ibnu Jauzi dan lain-lainnya, tidak terdapat langsung pembahagian tauhid rekaan ini. Maka dari manakah Ibnu Taimiyyah mengambil tauhid ini?

Jawapan Kedua

Tidak berkata walau seorang daripada Sahabat-sahabat Nabi r.a: “Sesungguhnya tauhid itu ialah tauhid rububiah dan tauhid uluhiah, dan sekiranya seseorang tidak mengetahui tentang tauhid uluhiah, maka tidak dikira makrifahnya tentang tauhid rububiyyah kerana tauhid rububiah ini telah diketahui oleh orang musyrikin”.
Justeru, saya mencabar kepada setiap orang yang mempunyai ilmu yang mendalam, supaya menaqalkan kepada kami pembahagian yang diada-adakan ini daripada sahabat-sahabat Nabi r.a, sekalipun dengan mengemukakan satu riwayat yang lemah.

Jawapan Ketiga

Tidak terdapat dalam sunnah Nabi SAW yang luas dan menjadi penjelas kepada kitab Allah, sama ada dalam kitab-kitab hadis sahih, sunan-sunan, musnad-musnad dan mu’jam-mu’jam yang menyebut bahawa Nabi SAW pernah bersabda dan mengajar sahabat-sahabatnya, bahawa tauhid itu terbahagi kepada tauhid uluhiah dan juga rububiah yang telah diketahui oleh orang musyrik.

Sekiranya berkumpul jin dan manusia bersama-sama mereka untuk menetapkan bahawa pembahagian ini adalah datang daripada Nabi SAW dengan isnadnya, sekalipun dengan isnad yang lemah, nescaya mereka tidak akan mampu untuk mendatangkannya walaupun dengan satu jalan.

Jawapan Keempat

Telah tercatat dalam sunnah yang banyak, bahawa dalam dakwah Rasulullah SAW mengajak manusia kepada Allah, Baginda SAW menyeru mereka ke arah penyaksian kalimah syahadah: Tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Nabi Muhammad adalah pesuruh Allah. Baginda SAW juga mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala.

Di antara hadis yang paling masyhur menyebut tentang perkara ini ialah hadis Muaz ibnu Jabal r.a. Ketika beliau diutuskan oleh Nabi SAW ke Yaman, Baginda SAW bersabda kepadanya: Serulah mereka kepada penyaksian “Bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawa Nabi Muhammad adalah pesuruh Allah”. Sekiranya mereka mentaatinya, maka hendaklah kamu khabarkan kepada mereka bahawa diwajibkan ke atas mereka solat lima waktu sehari semalam. (riwayat al-Bukhari dalam Sahihnya)

Diriwayatkan oleh pengarang kitab Sunan dan Ibnu Hibban, bahawa seorang Arab Badawi memberitahu Rasulullah SAW bahawa dia telah melihat anak bulan. Lantas Rasulullah SAW memerintahkan supaya berpuasa dan Baginda SAW tidak menyoalnya melainkan tentang pengakuannya terhadap kalimah syahadah. (diriwayatkan oleh Abu Daud, al Nasaei, al Tirmizi dan lain-lain)

Sekiranya tauhid itu terbahagi kepada tiga bahagian sebagaimana yang mereka perkatakan, maka sudah tentulah Nabi SAW menyeru sekelian manusia kepada tauhid uluhiah yang tidak mereka ketahui dan bukannya tauhid rububiah kerana mereka telah mengetahuinya.

Demikian juga, perlulah Baginda SAW bersabda kepada Muaz r.a, “Serulah mereka kepada tauhid uluhiah,” dan Baginda SAW bertanya terlebih dahulu kepada orang Arab Badawi yang melihat anak bulan Ramadan, “Adakah kamu mengetahui tentang tauhid uluhiah dan perbezaan di antara tauhid ini dengan tauhid rububiah, dan adakah kamu mengetahui tauhid asma’ dan sifat?”

Jawapan Kelima

Di dalam kitab Allah yang ternyata tidak dicemari dengan kebatilan, tidak membezakan di antara tauhid uluhiah dan tauhid rububiah.

Begitu juga tidak dikatakan kepada mereka: Sesiapa yang tidak mengetahui tauhid uluhiahtidak dikira imannya, bahkan dia adalah lebih kafir daripada Firaun dan Haman. Tetapi Allah SWT memerintahkan dengan kalimah tauhid secara mutlak sebagaimana firman Allah SWT kepada Nabi-Nya dalam surah Muhammad ayat 19: Ketahuilah, bahawasanya tiada Tuhan melainkan Allah. Begitu jugalah dengan keseluruhan ayat tauhid yang disebut di dalam al-Quran.

Sekiranya kamu kehendaki, maka bacalah surah al-Ikhlas yang menyamai sepertiga al-Quran. Adakah kamu mendapati di dalamnya ayat yang membezakan di antara uluhiah dan rububiah sebagaimana yang mereka sangkakan?

Jawapan Keenam

Melalui pembahagian yang direka ini, memberi kefahaman kepada kita, seolah-olah Allah masih belum lagi menyempurnakan agama-Nya. Kemudian, datang seseorang yang kononnya untuk menyempurnakan agama Allah yang masih lagi mempunyai kekurangan dan menjelaskan tentang tauhid dan pembahagiannya kepada manusia pada kurun ke-7 Hijrah.

Pada kurun ini, lahirnya pembahagian tauhid uluhiah, rububiah, asma’ dan sifat yang dicetuskan oleh Ibnu Taimiyyah (661- 724 H). Seolah-olah semua umat tidak mengetahui tentang apa yang diperkenalkan oleh pemuka-pemuka pembahagian tauhid rekaan ini.

Selepas kita mengetahui jawapan daripada soalan pertama ini, yakinlah kita dengan sempurna bahawa tauhid ini tidak mempunyai sumber yang sah daripada al-Quran dan hadis.

Ia menunjukkan bahawa pembahagian ini hanyalah rekaan semata-mata. Persoalan kedua akan dikemukakan pada minggu hadapan, insya-Allah.

Sumber:

http://yayasansofa.com/v1/?p=39

Sambungan

— 07/12/2009 9:36 am
Tauhid uluhiah dan rububiah

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA

Menyorot ruangan Relung Cahayaminggu lepas, kita telah pun mempersoalkan dan membincangkan secara ringkas tentang sumber tauhid tiga serangkai ini.

Setelah kita mengetahui dengan jelas bahawa pembahagian tauhid kepada tiga ini tidak mempunyai sumber yang sahih di sisi syarak, maka pada minggu ini kami ingin mengajak pembaca menghalusi lagi penelitian tentang permasalahan ini agar kebenaran akan terserlah dan kebatilan akan terpadam.

Memandangkan pereka tauhid bidaah ini mengklasifikasikan tauhid kepada tiga, maka kami ingin mengemukakan persoalan, apakah terdapat perbezaan di antara tauhid uluhiah dan rububiah?
Sebelum persoalan ini dijawab, kami ingin berkongsi dengan pembaca tentang jawapan ringkas melalui e-mel yang kami terima daripada seorang pembaca yang pro-tauhid tiga serangkai ini.

Namun, jawapan yang mewakili penghantar tidak menjawab persoalan yang diutarakan pada minggu lepas.

Beliau hanya mengemukakan hujah hasil dari pemikiran Ibnu Taimiyyah seperti yang dapat dilihat di dalam kitab-kitabnya, sedangkan hujah Ibnu Taimiyyah ini telah lama disangkal oleh ulama ahli sunnah.

Perlu kita fahami, tidak semua ilmu yang diformulasikan atau semua hasil istiqra’ (telaah) atau pemikiran seseorang itu boleh diterima jika tidak sejajar dengan al-Quran dan sunnah.

Apatah lagi, ilmu yang berkaitan dengan akidah yang mesti dirujuk dengan rapi dan betul kepada sumber yang sahih lagi mutawatir. Jika wujud kepincangan, maka ia tertolak sama sekali.

Kepincangan itu telah pun dibincangkan oleh ulama dan telah pun kami paparkan dan akan kami sebutkan, insya-Allah.

Menurut penghantar e-mel itu lagi, mengingkari tauhid tiga ini bererti tidak bertafaqquh terhadap kitab Allah, tidak mengetahui kedudukan Allah, mengetahui sebahagian dan tidak mengetahui sebahagian yang lainnya.

Dengan spontan benak hati kami bertanya, inikah jawapan yang sepatutnya kami peroleh daripada seseorang yang merasa telah bertafaqquh dengan kitab Allah?

Kami juga agak terkejut dengan kenyataan ini. Jika mereka yang mengingkari tauhid tiga ini dianggap tidak bertafaqquh dengan kitab Allah, bagaimanakah kedudukan ulama dan para sarjana yang telah saya sebutkan pada siri pertama yang mengingkari pembahagian tauhid ini?

Apakah al-Azhar, sebuah universiti yang diiktiraf oleh dunia Islam, mempunyai ulama dan tokoh-tokoh yang lemah kefahamannya tentang kitab Allah? Bagaimana pula dengan Mufti Mesir yang telah menafikan dengan lantang perkara ini di dalam fatwanya?

Apa pun jawapan yang dikemukakan oleh pro tauhid tiga serangkai ini, ia telah kami rujuk di dalam kitab asalnya yang sememangnya tersimpan kemas di perpustakaan kami.

Ramai ulama yang telah menjawabnya, cuma pada keluaran kali ini kami tidak berkesempatan untuk menyertakannya.
Sebaiknya kita tinggalkan dahulu tajuk ini dan kembali kepada persoalan hari ini.

Kenapa soalan ini dikemukakan dan sebelum persoalan ini dijawab, kami ingin nyatakan di sini bahawa melalui tauhid tiga serangkai ini didapati perekanya, Ibnu Taimiyyah dan pengikut-pengikutnya telah menyatakan bahawa:

1. Orang musyrik atau orang yang menyekutukan Allah adalah ahli tauhid (orang yang mengesakan Allah) dengan tauhid rububiah.

2. Tauhid orang musyrik ini samalah dengan tauhid sebahagian orang Islam yang bertawassul, beristighathah dan bertabarruk dengan para nabi dan orang-orang soleh.

Ini bermaksud orang Islam yang bertawassul (memohon kepada Allah melalui perantaraan), beristighathah (menyeru minta tolong) dan bertabarruk (ambil berkat) samalah dengan orang musyrik kerana tidak memiliki tauhid uluhiah kerana dianggap menyembah apa yang ditawassulkan.

Kenyataannya berbunyi: “Tauhid rububiah sahaja tidak menafikan kekufuran seseorang dan tidak mencukupi bagi keimanan/keislaman seseorang”. (Risalah Ahli al Suffah H: 34.)

“Sesungguhnya orang-orang musyrik adalah ahli tauhid dengan tauhid rububiah. Mereka tidak termasuk dari kalangan ahli tauhid uluhiah kerana telah mengambil sembahan-sembahan yang lain untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT”.

Mereka juga menyatakan: “Sesungguhnya orang-orang Islam yang bertawassul dan beristighathah dengan para Nabi dan orang-orang soleh serta bertabarruk dengan mereka (para nabi dan orang-orang soleh), adalah kufur. Bahkan, kekufuran mereka lebih dahsyat daripada kekufuran Abu Lahab, Firaun, Haman dan lain-lain”. (Fatawa Ibni Taimiyyah 14/380).

Ini adalah antara kenyataan yang tidak ditulis dan tidak ditemui di dalam kebanyakan kitab-kitab berkaitan pembahagian tauhid ini di Malaysia.

Di negara kita, tauhid ini masih berada dalam peringkat pengenalan. Tetapi jika kita merujuk kepada kitab Ibnu Taimiyyah, Muhammad ibn Abdul Wahhab dan pemuka-pemukanya, kenyataan ini banyak ditulis di dalam kitab-kitab mereka. Inilah natijah sebenar yang akan kita dapati dari pembahagian tauhid ini.

Oleh kerana itu, kita dapati di kebanyakan negara timur tengah yang telah lama memakai tauhid ini berlaku pergolakan, perpecahan dan pembunuhan akibat gejala sembarangan mengkafirkan dan menghalalkan darah umat Islam yang dianggap menyanggahi tauhid ini.

Malah, dengan tauhid inilah menyebabkan berlakunya keruntuhan kepada Empayar Uthmaniyyah yang merupakan empayar terbesar Islam suatu ketika dahulu. Insya-Allah, perinciannya akan kami susuli pada keluaran akan datang.

Apa yang pasti, kenyataan Ibnu Taimiyyah ini jelas bertentangan dengan dalil-dalil syarak dan telah diketahui secara dharuri di sisi ulama.

Bagi menjelaskan tentang kesalahan dan kebatilan pendapat mereka ini, maka soalan ini dijawab: Sesungguhnya tidak ada perbezaan di antara tauhid uluhiah dan tauhid rububiah.

Kedua-duanya adalah perkara yang sama dan tidak boleh dipisahkan serta tidak menerima sebarang pembahagian. Allah tidak menerima daripada hamba-hamba-Nya, melainkan akidah tauhid yang tulus dan suci kepada-Nya, Tuhan sekelian alam, yang dilafazkan dengan lidah, diiktikad dengan hati, diamalkan dengan anggota jasad dan dimanifestasikan dengan kalimah (Laa Ilaaha Illallah).

Dengan perkara inilah, semua Nabi dan Rasul diutuskan.
Adakah orang kafir ahli tauhid?
Terhadap pendapat yang menyatakan bahawa orang kafir dan musyrik sejak zaman berzaman adalah ahli tauhid dengan tauhid rububiah dan para Rasul a.s tidak diutuskan melainkan dengan tauhid uluhiah.

Jawabnya: Hakikatnya, pendapat ini merupakan suatu perkara yang telah menutup pintu kebenaran dan hakikat, menyalahi akal dan syarak dan mendustai penjelasan daripada nas-nas al-Quran dan sunnah.

Perkara ini juga merupakan perkara bidaah yang sesat dan tidak terdapat pada umat salaf yang terawal. Tauhid seperti ini meruntuhkan akidah dan bersifat saling bercanggah.

Dalam satu masa, mereka telah menjadikan sekelompok orang Islam sebagai ahli tauhid dan bukan ahli tauhid. Ini suatu perkara yang pelik.

Sedangkan, realitinya ialah seseorang itu mesti berada di salah satu kedudukan, iaitu sama ada berada dalam kedudukan ahli tauhid atau pun musyrik. Tidak boleh seseorang itu berada di antara dua keadaan (tauhid dan kufur).

Kepercayaan mereka juga tentang ketauhidan orang musyrik dengan tauhid rububiah tidaklah benar. Bahkan dakwaan ini adalah suatu penipuan yang ditolak sama sekali oleh akal dan naqal.
Insya-Allah, kami akan mengemukakan dalil-dalil dari akal dan naqal pada minggu hadapan.

Sesungguhnya perkara yang paling pelik ialah menganggap orang kafir sebagai ahli tauhid dan menganggap orang Islam yang telah mengucapkan kalimah tauhid sebagai bukan ahli tauhid.

Renungilah! Berfikir sesaat lebih baik daripada beribadat 70 tahun. Ibadah Abu Darda’ r.a yang paling utama selepas melaksanakan kefarduan ialah bertafakur kerana dengannya dia sampai kepada hakikat suatu perkara dan membezakan di antara yang hak dan batil.

Bahkan, dengannya juga dia dapat menilik kerosakan dan helah nafsu yang halus, tipu daya dunia, dan mengenali helah-helah untuk lebih berwaspada dengannya.

Sumber:
http://yayasansofa.com/v1/?p=35
Mengapa tauhid tiga serangkai?SocialTwist Tell-a-Friend

Sifat 20

.
Bermula Mu’alim hamba [Buya Abdul Karim bin Muhammad Nur – Kerinci Indonesia] menyusun sebuah kitab yang menjadi pegangan seluruh murid beliau yang ditulis menggunakan huruf jawi (Arab Melayu), mudah-mudahan Allah meredhai dan mengizinkan hamba mengutarakannya dalam forum ini tanpa melanggar adab.

Bismillahirrahmanirrahiim…

Adapun Mubadi ilmu tauhid itu sepuluh perkara:

1. Nama ilmu ini yaitu ilmu Tauhid, ilmu Kalam, ilmu Sifat, ilmu Ussuluddin, ilmu ‘Aqidul Iman

2. Tempat ambilannya : yaitu diterbitkan daripada Qur’an dan Hadits

3. Kandungannya yaitu mengandung pengetahuan dari hal membahas ketetapan pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-rasulNya, daripada beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperoleh I’tikad yang yakin (kepercayaan yang putus/Jazam sekira-kira menaikkan perasaan/Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.

4. Tempat bahasannya atau Maudu’nya kepada empat tempat:

a. Pada Zat Allah Ta’ala dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padaNya dan sifat-sifat yang harus padaNya.

b. Pada zat rasul-rasul dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padanya dan sifat-sifat yang harus padanya

c. Pada segala kejadian dari segi jirim dan jisim dan aradh sekira-kira keadaannya itu jadi petunjuknya dan dalil bagi wujud yang menjadikan dia

d. Pada segala pegangan dan kepercayaan dengan kenyataan yang didengar daripada perkhabaran rasul-rasul Allah seperti hal-hal surga dan neraka dan hari kiamat

5. Faedah ilmu ini yaitu dapat mengenal Tuhan dan percaya akan rasul dan mendapat kebahagian hidup didunia dan hidup di akhirat yang kekal.

6. Nisbah ilmu ini dengan lain-lain ilmu, yaitu ilmu ini ialah ilmu yang terbangsa kepada agama islam dan yang paling utama sekali dalam agama islam.

7. Orang yang menghantarkan ilmu ini atau mengeluarkannya yaitu, yang pertama mereka yang menghantarkan titisan ilmu tauhid dengan mendirikan dalilnya untuk menolak perkataan meraka yang menyalahi ialah dari pada ulama-ulama yang mashur yaitu Imam Abu Al hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur At Maturidi tetapi mereka pertama yang menerima ilmu tauhid daripada Allah Ta’ala ialah nabi Adam alaihissalam, dan yang akhir sekali Nabi Muhammad SAW.

8. Hukumnya, yaitu fardhu ‘ain bagi tiap-tiap orang yang mukallaf laki-laki atau perempuan mengetahui sifat-sifat yang wajib, yang mustahil dan yang harus pada Allah Ta’ala dengan jalan Ijmal atau ringkasan begitu juga bagi rasul-rasul Allah dan dengan jalan tafsil atau uraian

9. Kelebihannya yaitu semulia-mulia dan setinggi-tinggi ilmu daripada ilmu yang lain-lain, karena menurut haditsnya nabi: Inallahata’ala lam yafrid syai’an afdola minattauhid wasshalati walaukana syai’an afdola mintu laf tarodohu ‘ala malaikatihi minhum raakitu wa minhum sajidu, artinya, Tuhan tidak memfardukan sesuatu yang terlebih afdhol daripada mengEsakan Tuhan. Jika ada sesuatu terlebih afdhol daripadanya niscaya tetaplah telah difardhukan kepada malaikatnya padahal setengah daripada malaikatnya itu ada yang ruku’ selamanya dan setengah ada yang sujud selamanya dan juga ilmu tauhid ini jadi asal bagi segala ilmu yang lain yang wajib diketahui dan lagi karena mulia , yaitu Zat Tuhan dan rasul dan dari itu maka jadilah maudu’nya semulia-mulia ilmu dalam agama islam.

10. Kesudahan ilmu ini yaitu dapat membedakan antara I’tikad dan kepercayaan syah dengan yang batil dan dapat pula membedakan antara yang menjadikan dengan yang dijadikan atau antara yang Qadim dengan yang muhadasNya

Ilmu Tauhid

Adapun pendahuluan masuk pada menjalankan ilmu tauhid itu berhimpun atas tiga perkara:

1. Khawas yang lima yaitu, Pendengar, Penglihat, Pencium, Perasa lidah dan Penjabat

2. Khabar Mutawatir, yaitu khabar yang turun menurun. Adapun khabar mutawatir itu dua bahagi:

a. Khabar Mutawatir yang datang daripada lidah orang banyak

b. Khabar Mutawatir yang datang daripada lidah rasul-rasul

3. Kandungannya yaitu mengandung pengetahuan dari hal membahas ketetapan pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-rasulNya, daripada beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperoleh I’tikad yang yakin (kepercayaan yang putus/Jazam sekira-kira menaikkan perasaan/Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Aqal

Adapun ‘Aqal itu dua bahagi :

1. ‘Aqal Nazori, yaitu aqal yang berkehendak kepada fikir dan keterangan.

2. ‘Aqal Doruri, yaitu aqal yang tiada berkehendak kepada fikir dan keterangan.

Adapun Hukum ‘Aqal itu tiga bahagi:

1. Wajib ‘Aqal, yaitu barang yang tiada diterima oleh aqal akan tiadanya maka wajib adanya (Zat, Sifat dan Af’al Allah)

2. Mustahil ‘Aqal, yaitu barang yang tiada diterima oleh aqal akan adanya maka mustahil adanya (Segala kebalikan daripada sifat yang wajib, sekutu)

3. Harus ‘Aqal, yaitu barang yang diterima oleh akal akan adanya atau tiadanya (Alam dan segala isinya yang baharu/diciptakan)

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Mumkinun (Baharu Alam)

Adapun yang wajib bagi ‘Alam mengandung empat perkara:

1. Jirim, yaitu barang yang beku bersamaan luar dan dalam seperti, batu, kayu, besi dan tembaga

2. Jisim, yaitu barang yang hidup memakai nyawa tiada bersamaan luar dalam seperti manusia dan binatang

3. Jauhar Farad, barang yang tiada boleh dibelah-belah atau dibagi-bagi seperti asap, abu dan kuman yang halus-halus

4. Jauhar Latief, yaitu Jisim yang halus seperti ruh, malaikat, jin, syaiton dan nur

Wajib bagi Jirim, Jisim, Jauhar Farad dan Jauhar Latief bersifat dengan empat sifat:

1. Tempat, maka wajib baginya memakai tempat seperti kiri atau kanan, atas atau bawah, hadapan atau belakang

2. Jihat, maka wajib baginya memakai jihat seperti utara atau selatan, barat atau timur, jauh atau dekat

3. Berhimpun atau bercerai

4. Memakai ‘arad, yaitu gerak atau diam, besar atau kecil, panjang atau pendek dan memakai rasa seperti manis atau masam, masam atau tawar dan memakai warna-warna seperti hitam atau putih, merah atau hijau dan memakai bau-bauan seperti harum atau busuk

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Hukum Adat Thobi’at

Adapun yang wajib bagi hukum adat Thobi’at yang dilakukan didalam dunia ini sahaja, seperti makan, apabila makan maka wajib kenyang sekedar yang dimakan begitu juga api apabila bersentuh dengan kayu yang kering maka wajib terbakar, dan pada benda yang tajam yang apabila dipotongkan maka wajib putus atau luka.

Dan begitu juga pada air apabila diminum maka wajib hilang dahaga sekedar yang diminum. Adapun yang mustahil pada adat Thobi’at itu tiada sekali-kali seperti makan tiada kenyang, minum tiada hilang dahaga, dipotong dengan benda yang tajam tiada putus atau luka dan dimasukkan didalam api tiada terbakar. Akan tetapi yang mustahil pada adat itu sudah berlaku pada nabi Ibrahim as di dalam api tiada terbakar dan pada nabi Isma’il as dipotong dengan pisau yang tajam diada putus atau luka .

Adapun yang mustahil pada adat itu jika berlaku pada rasul-rasul dinamakan Mu’jizat, jika berlaku pada nabi-nabi dinamakan Irhas, jika pada wali-wali dinamakan Karamah, dan jika pada orang yang ta’at dinamakan Ma’unah dan jika berlaku pada orang kafir atau orang fasik yaitu ada empat macam:

1. dinamakan Istidraj pada Johirnya bagus dan hakikat menyalahi

2. dinamakan Kahanah yaitu pada tukang tenung

3. dinamakan Sa’uzah yaitu pada tukang sulap mata

4. dinamakan Sihir yaitu pada tukang sihir

Mohon ampunan dan RedhaMu yaa Allah,…

Itulah yang telah terdahulu banyak hamba ungkapkan (terlanjur) di topik-topik yang ada dalam BSC ini, untuk selanjutnya hamba, Insya Allah, akan memohon izin dahulu kepada Mu’alim hamba, sebab ada beberapa huraian penting yang hamba wajib meminta izin dahulu pada beliau, diantaranya: Hukum Syara’, Hakikat Makrifat beserta huraian dalil bagi Sifat-Sifat yang wajib bagi ‘aqal tentang keTuhanan:

-Sifat Nafsiyah

-Sifat Salbiyah

-Sifat Ma’ani

-Sifat Ma’nawiyah

lalu dibahagi menjadi dua bahagi:

-Sifat Istighna (28 Aqa’id)

-Sifat Iftikhor (22 Aqa’id)

yang menghasilkan faham hakikat nafi mengandung isbat, isbat mengandung nafi (50 Aqa’id), lalu berlanjut pada huraian Sifat-sifat bagi Rasul, ditambah empat perkara rukun iman (18 Aqa’id), menghasilkan penjelasan aqa’idul iman yang 5 (lima jenis), aqa’idul iman 50, aqa’idul iman 60, aqa’idul iman 64, aqa’idul iman 66 dan aqa’idul iman 68.

Baharulah disimpulkan menjadi 4 rukun Syahadat dan adab-adabnya, serta menjelaskan penjelasan zikir, serta makna asma ALLAH

InsyaAllah….

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

MA’RIFAT

Adapun hakikat Ma’rifat itu berhimpun atas tiga perkara:

1. ‘Itikad Jazam, yaitu ‘Itikad yang putus tiada syak, dzon dan waham

2. Muwafikulilhaq, yaitu Muafakat dengan yang sebenarnya mengikut Al Qur’an dan Hadits

3. Mu’addalil yaitu beserta dalil

Adapun Dalil itu dua bahagi:

1. Dalil naqal (naqli), yaitu Al Qur’an dan Hadits.

2. Dalil aqal (aqli), yaitu aqal kita

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Adapun dalil wujud Allah Ta’ala pada orang awam yaitu Baharu alam seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an : Allahu khaliqu kullu syai’in, artinya: Allah Ta’ala yang menjadikan tiap-tiap sesuatu

Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawas :

1. ‘Itikat jazam, tiada syak, dzon dan waham

2. Muwafakat ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan Ilham Ilahi

3. Dalil pada dirinya, seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an: wa fii amfusikum afala tubsiruun, artinya: pada diri kamu tiadakah kamu lihat, dan juga Hadits Rasullullah, Man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, artinya barang siapa mengenal dirinya bahwasanya mengenal Tuhannya.

Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawasul khawas:

1. I’tikad jazam, tiada sak, dzon dan waham

2. Muwafakat Ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan kasaf Ilahi terkaya ia daripada dalil yakni tiada berkehendak lagi kepada dalil (Aqal dhoruri) terus ia ma’rifat kepada Allah Ta’ala.

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Adapun Ma’rifat itu tiga martabat:

1. Ilmul yaqin, yaitu segala Ulama

2. ‘Ainul yaqin, yaitu segala Aulia

3. Haqqul yaqin, yaitu segala Anbiya

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

SIFAT-SIFAT KETUHANAN

Adapun yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat:

1. Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud

2. Sifat Salbiyah yaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniat

3. Sifat Ma’ani, yaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam

4. Sifat Ma’nawiyah, yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun

Dibahagi lagi menjadi dua sifat (Pendekatan secara nafi dan isbat)

1. Sifat Istighna’ yaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhu binafsihi, Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttaqallimun

2. Sifat Iftikor, yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun dan Wahdaniah

SIFAT-SIFAT KETUHANAN

Adapun yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat:

1. Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud

2. Sifat Salbiyah yaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniat

3. Sifat Ma’ani, yaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam

4. Sifat Ma’nawiyah, yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun

Dibahagi lagi menjadi dua sifat (Pendekatan secara nafi dan isbat)

1. Sifat Istighna’ yaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhu binafsihi, Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttaqallimun

2. Sifat Iftikor, yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun dan Wahdaniah

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Bahagian I: Sifat Nafsiyah:

Wujud, artinya ada, yang ada itu dzat Allah Ta’ala, lawannya ‘Adum, artinya tiada yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada karena jikalau Allah Ta’ala itu tiada niscaya tiadalah perobahan pada alam ini. Alam ini jadilah statis (tak ada masa, rasa dll), dan tiadalah diterima ‘aqal jika semua itu (perobahan) terjadi dengan sendirinya.

Jikalau alam ini jadi dengan sendirinya niscaya jadilah bersamaan pada suatu pekerjaan atau berat salah satu maka sekarang alam ini telah nyata adanya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini dan teratur tersusun segala pekerjaannya maka menerimalah aqal kita wajib adanya Allah Ta’ala dan mustahil lawannya tiada. Adapun dalilnya yaitu firmannya dalam Al Qur’an:

Allahu kholiqu kullu syai’in

artinya, Allah Ta’ala jualah yang menjadikan tiap-tiap sesuatu.

Adapun Wujud itu sifat Nafsiyah ada itulah dirinya hak Ta’ala. Adapun ta’rif sifat nafsiyah itu: Hiya huwa wala hiya ghoiruku, artinya, sifat inilah dzat hak Ta’ala, tiada ia lain daripadanya yakni sifat pada lafadz dzat pada makna

Adapun Hakikat sifat nafsiyah itu : Hiya lhalul wajibatu lizzati maadaamati azzatu ghoiru mu’alalahi bi’illati, artinya: hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu tiada dikarenakan dengan suatu karena yakni adanya yaitu tiada karena jadi oleh sesuatu dan tiada Ia terjadi dengan sendirinya dan tiada Ia menjadikan dirinya sendiri dan tiada Ia berjadi-jadian.

Adapun Wujud itu dikatakan sifat Nafsiyah karena wujud menunjukkan sebenar-benar dirinya dzat tiada lainnya dan tiada boleh dipisahkan wujud itu lain daripada dzat seperti sifat yang lain-lain.

Adapun Wujud itu tiga bahagi:

1. Wujud Haqiqi, yaitu dzat Allah Ta’ala maka wujud-Nya itu tiada permulaan dan tiada kesudahan maka wujud itu bersifat Qadimdan Baqa’, inilah wujud sebenarnya

2. Wujud Mujazi, yaitu dzat segala makhluk maka wujudnya itu ada permulaan dan ada kesudahan tiada bersifat Qadim dan Baqa’, sebab wujudnya itu dinamakan wujud Mujazi karena wujudnya itu bersandarkan Qudrat Iradat Allah Ta’ala

3. Wujud ‘Ardy, yaitu dzat ‘Arodul wujud maka wujudnya itu ada permulaan dan tiada kesudahan seperti ruh, syurga, neraka, Arasy, Kursi dan lain-lain

Adapun yang Mawujud selain Allah Ta’ala dua bahagi

1. Mawujud dalam ‘alam sahadah, yaitu yang di dapat dengan khawas yang lima seperti langit, bumi, kayu, manusia, binatang dan lain-lain

2. Mawujud didalam ‘alam ghaib yang tiada didapat dengan khawas yang lima tetapi didapat dengan nur iman dan Kasaf kepada siapa-siapa yang dikaruniakan Allah Ta’ala seperti Malaikat, Jin, Syaitan, Nur dan lain-lain.

Adapun segala yang Mawujud itu lima bahagi:

1. Mawujud pada Zihin yaitu ada pada ‘aqal

2. Mawujud pada Kharij yaitu ada kenyataan bekas

3. Mawujud pada Khayal yaitu seperti bayang-bayang dalam air atau yang didalam mimpi

4. Mawujud pada Dalil yaitu ada pada dalil seperti asap tanda ada api

5. Mawujud pada Ma’rifat yaitu dengan pengenalan yang putus tiada dapat diselingi lagi terus Ia Ma’rifat kepada Allah Ta’ala

Membicarakan Wujud-Nya dengan jalan dalil:

1. Dalil yang didapat dari Khawas yang lima tiada dapat didustakan

2. Dalil yang didapat dari Khabar Mutawatir tiada dapat didustakan

3. Dalil yang didapat daripada ‘Aqal tiada dapat didustakan

4. Dalil yang didapat daripada Rasulullah tiada dapat didustakan

5. Dalil yang didapat daripada firman Allah Ta’ala tiada dapat didustakan

SIFAT-SIFAT KETUHANAN

Adapun yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat:

1. Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud

2. Sifat Salbiyah yaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniat

3. Sifat Ma’ani, yaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam

4. Sifat Ma’nawiyah, yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun

Dibahagi lagi menjadi dua sifat (Pendekatan secara nafi dan isbat)

1. Sifat Istighna’ yaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhu binafsihi, Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttaqallimun

2. Sifat Iftikor, yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun dan Wahdaniah

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Bahagian II: Sifat Salbiyah

Adapun hakikat sifat Salbiyah itu: wahiya dallat ‘alallafiy maalaa khaliyqu billahi ‘aza wajalla, artinya barang yang menunjukkan atas menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala yaitu lima sifat:

1. QIDAM, artinya Sedia

2. BAQA’ artinya Kekal,

3. MUKHALAFATUHULILKHAWADITS artinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.

4. QIYAMUHU BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendiriNya.

5. WAHDANIAH, artinya Esa

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

1. QIDAM, artinya Sedia

Adapun hakikat Qidam ibarat dari menafikan ada permulaan bagi Wujud-Nya yakni tiada permulaan, lawannya Hudusy artinya baharu yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia baharu karena jikalau Ia baharu niscaya jadilah Wujud-Nya itu wujud yang harus, tiadalah Ia wajibal wujud maka sekarang telah terdahulu wajibal wujud baginya maka menerimalah aqal kita wajib baginya bersifat Qadim dan mustahil lawannya baharu , adapun dalilnya firmannya dalam Al Qur’an: huwal awwalu, artinya Ia juga yang awal.

Adapun Qadim nisbah pada nama empat perkara:

a. Qadim Haqiqi, yaitu dzat Allah Ta’ala

b. Qadim Sifati, yaitu sifat Allat Ta’ala

c. Qadim Idofi, yaitu Qadim yang bersandar seperti dahulu bapa daripada anak

d. Qadim Zamani, yaitu masa yang telah lalu sekurang-kurangnnya setahun

2. BAQA’ artinya Kekal

Adapun hakikat Baqa’ itu ibarat menafikan ada kesudahan bagi Wujud-Nya, yakni tiada kesudahan, lawannya Fana’ artinya binasa yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia binasa, jikalau Ia binasa jadilah Wujud-Nya itu wujud yang baharu, apabila Ia baharu tiadalah Ia bersifat Qadim maka sekarang telah terdahulu bagi-Nya wajib bersifat Qadim maka menerimalah aqal kita wajib bagi-Nya bersifat Baqa dan mustahil lawannya binasa, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wayabqo wajhu robbikauzuljalali wal ikrom, artinya kekal dzat Tuhan kamu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.

Adapun yang Kekal itu dua bahagi:

a. Kekal Haqiqi, yaitu dzat dan sifat Allah Ta’ala

b. Kekal Ardy, yaitu kekal yang dikekalkan, menerima hukum binasa jikalau dibinasakan Allah Ta’ala, karena ia sebahagian daripada mumkinun, tetapi tiada dibinasakan maka kekallah ia, maka kekalnya itu dinamakan kekal ‘Ardy, seperti ruh, arasy, kursi, kalam, lauh mahfudh, surga, neraka, bidadari dan telaga nabi.

3. MUKHALAFATUHULILKHAWADITSI artinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu

Adapun Hakikat Mukhalafatuhulilhawadits itu diibaratkan menafikan dzat dan sifat dan af’al Allah Ta’ala dengan segala sesuatu yang baharu, yakni tiada bersamaan dengan segala yang baharu, lawannya Mumassalatuhulilhawadits, artinya bersamaan dengan segala sesuatu yang baharu. Tiada diterima oleh aqal dikatakan Allah Ta’ala itu bersamaan dzat-Nya dan sifat-Nya dan af’al-Nya dengan segala yang baharu, karena jikalau bersamaan dengan segala yang baharu maka tiadalah Ia bersifat Qadim dan Baqa’, sebab segala yang baharu menerima hukum binasa, maka sekarang telah terdahulu wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Qadim dan Baqa’, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat mukhalafatuhulilhawadits, dan mustahil lawannya Mumasalatu lilhawadits, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an:

laisa kamislihi syaiin wa huwassami’ul bashir, artinya tiada seumpama Allah Ta’ala dengan segala sesuatu dan Ia mendengar dan melihat.

Adapun bersalahan dzat Allah Ta’ala dengan dzat yang baharu karena dzat Allah Ta’ala bukan jirim atau jisim dan bukan jauhar atau ‘aradh dan tiada dijadikan, tiada bertempat, tiada berjihat, tiada bermasa atau dikandung masa dan tiada beranak atau diperanakkan.

Bersalahan sifat Allah Ta’ala dengan sifat yang baharu karena sifat Allah Ta’ala Qadim dan ‘Aum takluknya, seperti Sami’ Allah Ta’ala takluk pada segala yang mawujud.

Adapun sifat yang baharu itu tiada ia Qadim dan tiada ‘Aum takluknya, tetapi takluk pada setengah perkara jua seperti yang baharu mendengar ia pada yang berhuruf dan bersuara dan yang tiada berhuruf dan bersuara tiada ia mendengar atau yang jauh atau yang tersembunyi seperti gerak-gerak yang dalam hati dan begitu jua sifat-sifat yang lain tiada serupa dengan sifat Allah Ta’ala.

Adapun bersalahan perbuatan Allah Ta’ala dengan perbuatan yang baharu karena perbuatan Allah Ta’ala itu memberi bekas dan tiada dengan alat perkakas dan tiada dengan minta tolong dan tiada mengambil faedah dan tiada yang sia-sia.

Adapun perbuatan yang baharu tiada memberi bekas dan dengan alat perkakas atau dengan minta tolong dan mengambil faedah.

4. QIYAMUHU BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya

Adapun hakikat Qiyamuhu binafsihi itu ibarat daripada menafikan berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia, yakni tiada berkehendak kepada tempat berdiri dan tiada berkehendak kepada yang menjadikannya.

Mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan tiada berdiri dengan sendiriNya, karena Ia zat bukan sifat, jikalau Ia sifat, maka berkehendak kepada tempat berdiri karena sifat itu tiada boleh berdiri dengan sendirinya.

Dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Ia karena Ia Qadim, jikalau berkehendak Ia kepada yang menjadikan Dia, maka jadilah Ia baharu, apabila ia baharu tiadalah ia bersifat Qadim dan Baqa’ dan Mukhalafatuhulilhawadits.

Maka sekarang menerimalah aqal kita, wajib diterima oleh aqal, bagi Allah Ta’ala itu bersifat Qiyamuhubinafsihi dan mustahil lawannya An-laayakuunu ko’imambinafsihi, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Innallaha laghniyyun ‘anil ‘alamiin, artinya Allah Ta’ala itu terkaya daripada sekalian alam.

Adapun segala yang Mawujud menurut berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia itu empat bahagi:

a. Tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia dan tiada berkehendak kepada tempat berdiri, yaitu zat Allah Ta’ala

b. Berdiri pada zat Allah Ta’ala dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia, yaitu sifat Allah Ta’ala

c. Tiada berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala jirim yang baharu

d. Berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala ‘aradh yang baharu

5. WAHDANIAH, artinya Esa

Adapun hakikat Wahdaniah itu ibarat menafikan kammuttasil (berbilang-bilang atau bersusun-susun atau berhubung-hubung) dan kammumfasil (bercerai-cerai banyak yang serupa) pada zat, pada sifat, dan pada af’al.

Lawannya An-yakunu wahidan, artinya tiada ia esa. Mustahil tiada diterima oleh akal sekali-kali dikatakan tiada Ia Esa, karena jikalau tiada Ia Esa tiadalah ada alam ini karena banyak yang memberi bekas.

Seperti dikatakan ada dua atau tiga tuhan, kata tuhan yang satu keluarkan matahari dari barat, dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari timur, dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari utara atau selatan, karena tiga yang memberi bekas. Tentu kalau tuhan yang satu itu mengeluarkan matahari itu dengan sekehendakknya umpamanya disebelah barat, tentu pula tuhan yang lain meniadakkannya dan mengadakan lagi menurut kehendaknya umpamanya disebelah timur atau utara atau selatan, karena tiga-tiga tuhan itu berkuasa mengadakan dan meniadakan maka kesudahannya matahari itu tiada keluar.

Maka sekarang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana keadaan atau perjalanan didalam alam ini semuanya teratur dengan baiknya maka menerimalah aqal kita wajib diterima aqal Wahdaniah bagi Allah Ta’ala dan mustahil lawannya berbilang-bilang atau bercerai-cerai.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Qul huwallahu ahad, artinya katakanlah oleh mu (Muhammad) Allah Ta’ala itu Esa, yakni Esa zat dan Esa sifat dan Esa Af’al.

Adapun Wahdaniah pada zat menafikan dua perkara:

a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun seperti dikatakan zat Allah Ta’ala itu berdarah, berdaging dan bertulang urat, atau dikatakan zat Allah Ta’ala itu kejadian daripada anasir yang empat.

b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa, umpama dikatakan ada zat yang lain seperti zat Allah Ta’ala yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

Maka Kammuttasil dan Kammumfasil itulah yang hendak kita nafikan pada zat Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua perkara ini maka barulah dikatakan Ahadiyyatuzzat, yakni Esa dzat Allah Ta’ala.

Adapun Wahdaniah pada sifat menafikan dua perkara:

a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun sifat, seperti dikatakan ada pada Allah Ta’ala dua Qudrat atau dua Ilmu atau dua Sami’ yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa seperti dikatakan ada Qudrat yang lain atau Ilmu yang lain seperti Qudrat dan Ilmu Allah Ta’ala.

Maka Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada sifat Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua itu maka baharulah dikatakan Ahadiyyatussifat, yakni Esa sifat Allah Ta’ala.

Adapun Wahdaniah pada af’al menafikan dua perkara:

a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berhubung atau minta tolong memperbuat suatu perbuatan, seperti dikatakan Allah Ta’ala jadikan kuat pada nasi mengenyangkan dan kuat pada air menghilangkan dahaga dan kuat pada api membakar dan kuat pada tajam memutuskan yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak perbuatan yang memberi bekas, seperti dikatakan ada perbuatan yang lain memberi bekas seperti perbuatan Allah Ta’ala, yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

Maka Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada af’al Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua ini maka baharulah kita dikatakan Ahadiyyatull af’al, yakni Esa perbuatan Allah Ta’ala.

Bahagian III: Sifat Ma’ani

Adapun hakikat sifat Ma’ani itu: wahiya kullu sifatu maujudatun qo’imatun bimaujuudatun aujabat lahu hukman, artinya tiap-tiap sifat yang berdiri pada yang maujud (wajibalwujud / zat Allah Ta’ala) maka mewajibkan suatu hukum (yaitu Ma’nawiyah)

Sifat Ma’ani ini maujud pada zihin dan maujud pula pada kharij, ada tujuh perkara:

1. QUDRAT artinya Kuasa, Takluk pada segala mumkinun

2. IRADAT artinya Menentukan, takluk pada segala mumkinun

3. ILMU artinya Mengetahui, takluk pada segala yang wajib, mustahil dan ja’iz bagi aqal.

4. HAYAT artinya Hidup, tiada takluk, tetapi syarat bagi aqal kita menerima adanya sifat-sifat yang lain.

5. SAMA’ artinya Mendengar, takluk pada segala yang maujud.

6. BASYAR artinya Melihat, takluk pada segala yang maujud.

7. KALAM artinya Berkata-kata

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

1. Qudrat artinya Kuasa

Adapun hakikat Qudrat itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia mengadakan dan meniadakan bagi segala mumkin muafakat dengan Iradat-Nya. Adapun arti mumkin itu barang yang harus adanya atau tiadanya

Adapun mumkin itu empat bahagi:

a. Mumkin Maujuud ba’dal ‘adum, yaitu mumkin yang pada masa sekarang, dahulu tiada, seperti: langit, bumi dan kita semuanya.

b. Mumkin Ma’dum ba’dal wujud, yaitu mumkin yang tiada pada masa sekarang ini dahulunya ada, seperti: nabi Adam as, dan datok-datok nenek kita yang sudah tiada.

c. Mumkin sayuzad, yaitu mumkin yang akan datang seperti hari kiamat, syurga dan neraka.

d. Mumkin Ilmu Allah annahu lamyujad, yaitu mumkin yang didalam Ilmu Allah Ta’ala, tetapi tiada dijadikan seperti hujan emas, Air laut rasanya manis, dan banyak yang lain lagi.

Lawannya ‘Ujdzun artinya lemah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu lemah, karena jikalau Ia lemah niscaya tiadalah ada alam ini karena yang lemah itu tiada dapat memperbuat suatu perbuatan. Maka sekarang alam ini telah nyata adanya bagaimana yang kita lihat sekarang ini, maka menerimalah aqal kita wajib diterima aqal, bagi-Nya bersifat Qudrat dan mustahil lawannya ‘Ujdzun.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu ‘ala kulli sai’in-qodir, artinya Allah Ta’ala itu berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.

Tetaplah dalam Hakikat Qudrat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Qudrat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan lemah.

* Qudrat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan lemah.

* Qudrat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.

* Qudrat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.

* Qudrat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

2. Iradat artinya Menentukan

Adapun hakikat Iradat itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala maka dengan Dia menentukan sekalian mumkin adanya atau tiadanya,muafakat dengan Ilmu-Nya.

Adapun Iradat Allah Ta’ala menentukan enam perkara:

a. Menentukan mumkin itu Ada atau tiadanya

b. Menentukan Tempat mumkin itu

c. Menentukan Jihat mumkin itu

d. Menentukan Sifat mumkin itu

e. Menentukan Qadar mumkin itu

f. Menentukan Masa mumkin itu

Lawannya Karahat artinya tiada menentukan atau tiada berkehendak, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada menentukan atau tiada berkehendak, karena jikalau tiada Ia menentukan atau tiada Ia berkehendak mengadakan alam ini atau meniadakan alam ini niscaya tiadalah baharu (Berubah) alam ini maka sekarang alam ini telah nyata adanya perubahan, ada siang ada malam, ada yang datang ada yang pergi, seperti yang telah kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Iradat dan mustahil lawannya Karahat.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: fa’allu limaa yuriy d’, artinya berbuat Allah Ta’ala dengan barang yang ditentukan-Nya.

Adapun Iradat dengan amar dan nahi itu tiada berlazim karena:

Ada kalanya disuruh tetapi tiada dikehendaki seperti Abu jahal, Abu lahab dan segala pengikutnya.

Ada kalanya disuruh dan dikehendaki seperti Abu Baqa’r dan segala sahabat yang lain.

Ada kalanya tiada disuruh dan tiada dikehendaki seperti kafir yang banyak.

Adakalanya tiada disuruh tetapi dikehendaki seperti mengerjakan yang haram dan makruh seperti Nabi Adam as dan Hawa.

Tetaplah dalam Hakikat Iradat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Iradat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan Karahat.

* Iradat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan Karahat.

* Iradat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.

* Iradat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.

* Iradat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

3. Ilmu artinya Mengetahui

Adapun hakikat Ilmu itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala maka dengan Dia Mengetahui pada yang wajib, pada yang mustahil, dan pada yang harus.

Adapun yang wajib itu zat dan sifatNya, maka mengetahui Ia zatNya dan sifatNya yang Kamalat.

Adapun yang mustahil itu yaitu yang menyekutui ketuhanannya atau yang kekurangan baginya maka mengetahui Ia tiada yang menyekutui bagi ketuhanan-Nya dan yang kekurangan pada-Nya.

Adapun yang harus itu sekalian alam ini maka mengetahui Ia segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi dan tiada terdinding yang dalam Ilmu-Nya sebesar jarah jua pun, semuanya diketahui-Nya dengan Ilmu-Nya yang Qadim

Lawannya Jahil, artinya bodoh, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia Jahil atau bodoh karena jikalau ia Jahil atau bodoh niscaya tiadalah teratur atau tersusun segala pekerjaan didalam alam ini maka sekarang alam ini telah teratur dan tersusun dengan baiknya, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Ilmu dan mustahil lawannya Jahil atau bodoh.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu bikulli syai’in ‘alimun, artinya Allah Ta’ala mengetahui tiap-tiap sesuatu.

Tetaplah dalam Hakikat Ilmu itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Ilmu Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan jahil.

* Ilmu Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan jahil.

* Ilmu Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.

* Ilmu Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.

* Ilmu Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

4. Hayat artinya Hidup

Adapun hakikat Hayat itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia zohirlah sifat yang lain-lain.

Lawannya maut artinya mati, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia mati karena jikalau Ia mati niscaya tiadalah ada sifat yang lain seperti Qudrat, Iradat dan Ilmu maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat hayat dan mustahil lawannya maut.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: huwal hayyuladzii laa yamuut, artinya Dia yang Hidup yang tiada mati.

Tetaplah dalam Hakikat Hayat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Hayat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan maut.

* Hayat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan maut.

* Hayat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.

* Hayat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.

* Hayat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain)

5. Sami’ artinya Mendengar

Adapun hakikat Sami’ itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia mendengar segala yang mawujud sama ada yang mawujud itu Qadim atau Muhadas.

Adapun mawujud yang Qadim yaitu dzat dan Sifat-Nya, maka mendengar Ia akan Kalam-Nya yang tiada berhuruf dan bersuara, dan yang muhadas yaitu sekalian alam ini maka mendengar Ia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi, maka tiada terdinding pendengarannya oleh sebab jauh atau tersembunyi.

Lawannya Sumum, artinya pekak atau tuli yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia pekak atau tuli karena jikalau Ia pekak atau tuli niscaya tiadalah dapat Ia memperkenankan seruan makhluk-Nya padahal Menyuruh Ia kepada sekalian makhluk-Nya dengan meminta seperti firman-Nya dalam Al Qur’an: ud’uunii astajib lakum, artinya mintalah olehmu kepadaKu niscaya Aku perkenankan.

Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Sami’ dan mustahil lawannya Sumum, pekak atau tuli, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu sami’un ‘alimun, artinya Allah Ta’ala itu yang mendengar dan yang mengetahui .

Tetaplah dalam Hakikat Sami’ itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Sami’ Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan pekak.

* Sami’ Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan pekak.

* Sami’ Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.

* Sami’ Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.

* Sami’ Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

6. Bashir artinya Melihat

Adapun hakikat Bashir itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia melihat segala yang mawujud sama ada yang mawujud itu Qadim atau muhadas.

Adapun mawujud yang Qadim itu dzat dan sifat-Nya, maka melihat Ia akan dzat-Nya yang tiada berupa dan berwarna dan sifat-Nya yang kamalat.

Adapun mawujud yang muhadas itu sekalian alam ini maka melihat Ia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang lagi akan diadakan.

Tiada terdinding yang pada penglihatan-Nya oleh sebab jauh atau sangat halusnya atau sangat kelamnya.

Lawannya ‘Umyun, artinya buta, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia buta karena jikalau Ia buta maka jadilah Ia kekurangan. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Taa’la itu bersifat Bashir dan mustahil lawannya ‘Umyun atau buta

Adapun dalilnya firman-Nya dalam AlQur’an: wallahu bashirun bimaa ta’maluun, artinya Allah Ta’ala itu melihat apa yang kamu kerjakan.

Tetaplah dalam Hakikat Bashir itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Bashir Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan buta.

* Bashir Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan buta.

* Bashir Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.

* Bashir Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.

* Bashir Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

7. Kalam artinya Berkata-kata

Adapun hakikat Kalam itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia berkata-kata pada yang wajib seperti firman-Nya: fa’lam annahu laailahaillalah, artinya ketahui oleh mu bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah, dan berkata-kata pada yang mustahil dengan firman-Nya: laukana fiyhima alihatun illallah lafasadatu, artinya jikalau ada tuhan yang lain selain daripada Allah maka binasalah segala-galanya. dan berkata pada yang harus dengan firman-Nya: wallahu holaqokum wamaa ta’maluun, artinya Allah Ta’ala jua Yang menjadikan kamu dan barang perbuatan kamu.

Lawannya Bukmum, artinya kelu atau bisu yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia bisu atau kelu karena jikalau Ia bisu atau Kelu tiadalah dapat Ia menyuruh atau mencegah dan menceritakan segala perkara seperti hari kiamat, syurga, neraka dan lain-lain. Maka sekarang suruh dan cegah itu ada pada kita seperti suruh kita sembahyang dan cegah kita berbuat ma’siat. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala itu bersifat Kalam dan mustahil lawannya bukmum, kelu atau bisu. Adapun dalilnya friman-Nya dalam Al Qur’an: wa kallamallaahu muusa taqlimaan, artinya berkata-kata Allah Ta’ala dengan nabi Musa as dengan sempurna kata.

Adapun Kalam Allah Ta’ala itu satu sifat jua tiada Ia berbilang tetapi berbagi-bagi dipandang dari segi perkara yang dikatakan-Nya apabila Ia menunjukkan kepada suruh maka dinamakan amar seperti suruh sembahyang dan puasa dan lain-lain, jika Ia menunjukkannya kepada cegah atau larangan maka dinamakan nahi seperti cegah berjudi., minum arak dan lain-lain, jika Ia menunjukkan pada cerita dinamakan akhbar, seperti cerita raja Fir’aun , Namrudz, dan lain-lain. jika Ia menunjukkan pada khabar gembira dinamakan Wa’ad seperti balas syurga pada orang beriman dan ta’at dan lian-lain, jika Ia menunjukkan pada khabar menakutkan maka dinamakan Wa’id, seperti janji balas neraka dan azab bagi orang yang berbuat maksiat dan kafir.

Tetaplah dalam Hakikat Kalam itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Kalam Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan kelu.

* Kalam Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan kelu.

* Kalam Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, tiada terdinding dan tiada berhuruf atau bersuara.

* Kalam Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.

* Kalam Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

Bahagian IV: Sifat Ma’nawiyah

Adapun hakikat sifat ma’nawiyah itu: hiyal halul wajibatu lidzati madaamati lidzati mu’allalati bi’illati, artinya hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu dikarenakan suatu karena yaitu Ma’ani, umpama berdiri sifat Qudrat pada dzat maka baru dinamakan dzat itu Qadirun, artinya Yang Kuasa, Qudrat sifat Ma’ani, Qadirun sifat Ma’nawiah maka berlazim-lazim antar sifat Ma’ani dengan sifat Ma’nawiah, tiada boleh bercerai yaitu tujuh sifat pula:

1. QADIRUN, artinya Yang Kuasa, melazimkan Qudrat berdiri pada dzat

2. MURIIDUN, artinya Yang Menentukan maka melazimkan Iradat yang berdiri pada dzat

3. ‘ALIMUN, artinya Yang Mengetahui maka melazimkan ‘Ilmu yang berdiri pada dzat

4. HAYYUN, artinya Yang Hidup melazimkan Hayyat yang berdiri pada dzat

5. SAMI’UN, artinya Yang Mendengar melazimkan Sami’ yang berdiri pada dzat

6. BASIRUN, artinya Yang Melihat melazimkan Basir yang berdiri pada dzat

7. MUTTAKALLIMUN, artinya Yang Berkata-kata melazimkan Kalam yang berdiri pada dzat

Bahagian V: Sifat Istighna

Artinya sifat Kaya, Hakikat sifat Istighna: mustaghniyun ’angkullu maa siwahu, artinya Kaya Allah Ta’ala itu daripada tiap-tiap yang lain.

Apabila dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lain, maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sebelas (11) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sebelas (11) sifat itu maka tiadalah dapat dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lainnya.

Adapun sifat wajib yang 11 itu ialah:

Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Kiyamuhubinafsihi, Sami’, Basir, Kalam, Sami’un, Basirun dan Muttakalimun.

Selain sebelas (11) sifat yang wajib itu ada tiga (3) sifat yang harus (Jaiz) yang termasuk pada sifat Istighna yaitu

1. Mahasuci dari pada mengambil faedah pada perbuatan-Nya atau pada hukum-Nya, lawannya mengambil faedah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau mengambil faedah tiadalah Kaya Ia daripada tiap-tiap yang lainnya karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia pada menghasilkan hajat-Nya

2. Tiada wajib Ia menjadikan alam ini. Lawannya wajib yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau wajib Ia menjadikan alam ini tiadalah Ia Kaya daripada tiap-tiap yang lainnya, karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia kepada yang menyempurnakan-Nya

3. Tiada memberi bekas suatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya. Lawannya memberi bekas yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau memberi sesuatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya tiadalah Kaya Ia pada tiap-tiap yang lainnya karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia mengadakan sesuatu dengan wasitoh

Bahagian VI: Sifat Ifthikhor

Artinya sifat berkehendak: hakikat sifat Ifthikhor: wamuftaqirun ilaihi kullu maa ’adaahu, artinya berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya.

Apabila dikatakan berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sembilan (9) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sembilan (9) sifat ini maka tiadalah dapat berkehendak tiap-tiap yang lainya kepada-Nya,

Adapun sifat wajib yang sembilan (9) itu adalah:

1. Qudrat

2. Iradat

3. Ilmu

4. Hayat

5. Qodirun

6. Muridun

7. ‘Alimun

8. Hayyun

9. Wahdaniah

Selain dari sembilan (9) sifat yang wajib itu ada dua (2) sifat yang harus termasuk pada sifat Ifthikhor:

1. Baharu sekalian alam ini. Lawannya Qodim yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau alam ini Qodim tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya karena lajim ketika itu bersamaan derejat-Nya

2. Tiada memberi bekas sesuatu daripada kainatnya dengan tobi’at atau dzatnya. Lawannya memberi bekas yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau memberi bekas sesuatu daripada kainat dengan tobi’at niscaya tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya karena lajim ketika itu terkaya sesuatu daripadaNya.

Maka sekarang telah nyata pada kita bahwa duapuluh delapan (28) sifat Istighna dan duapuluh dua (22) sifat Ifthikhar maka jumlahnya jadi limapuluh (50) ‘akaid yang terkandung didalam kalimah laa ilaha ilallaah, maka jadilah makna hakikat laa ilaha ilallaah itu dua: laa mustaghniyun angkullu maasiwahu, artinya tiada yang kaya dari tiap-tiap yang lainnya dan wa muftaqirun ilaihi kullu ma’adahu, artinya dan berkehendak tiap-tiap yang lain kepadaNya.

Ini makna yang pertama maka daripada makna yang dua itu maka jadi empat (4):

1. Wajibal wujud, yaitu yang wajib adanya.

2. Ishiqoqul ibadah, yaitu yang mustahak bagi-Nya ibadah

3. Kholikul ‘alam, yaitu yang menjadikan sekalian alam

4. Maghbudun bihaqqi, yaitu yang disembah dengan sebenar-benarnya.

Ini makna yang kedua maka daripada makna yang empat (4) itu jadi satu (1) yaitu:

Laa ilaha ilallaah, Laa ma’budun ilallah, artinya tiada Tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah.

Ini makna yang ketiga penghabisan maka jadilah kalimah laa ilaha ilallaah itu menghimpun nafi dan isbat

Adapun yang dinafikan itu sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor berdiri pada yang lain dengan mengatakan: laa ilaha dan diisbatkan sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor itu berdiri pada dzat Allah Ta’ala dengan mengatakan kalimah Ilallaah

Laa = nafi, Ilaha = menafi, ila = isbat, Allah = meng-isbat

Yang kedua kalimah laa ilaha ilallaah itu nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi sepeti sabda nabi : laa yufarriqubainannafi wal-isbati wamamfarroqu bainahumaa fahuwa kaafirun, artinya Tiada bercerai antara nafi dan isbat dan barang siapa menceraikan kafir.

Seperti asap dengan api. Asap itu bukan api dan asap itu tidak lain daripada api. Asap tetap asap dan api tetap api: tetapi asap itu menunjukkan ada api inilah artinya nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi. Tiada bercerai dan tiada bersekutu.

AQAI’DUL IMAN

Adapun Aqa’idul Iman itu lima bahagi:

1. Aqa’idul Iman 50, yaitu dengan ringkas untuk mengesahkan iman kita dan wajib diketahui bagi tiap-tiap orang islam yang baligh lagi beraqal laki-laki atau perempuan yang mula hendak mengerjakan ibadah kepada Allah Ta’ala, jikalau tiada kita mengetahui Aqa’idul Iman yang ringkas ini maka tiadalah syah ibadah kita kepada Allah Ta’ala yaitu 20 sifat yang wajib dan 20 sifat yang mustahil dan 1 sifat yang harus maka dijumlahkan jadi 41 dan 4 sifat yang wajib bagi rasul dn 4 sifat pula yang mustahil dan 1 sifat yang harus pada rasul maka jadi 9, maka dijumlahkan dengan 41, jadi 50 Aqa’id

2. Aqa’idul Iman 60

3. Aqa’idul Iman 64

4. Aqa’idul Iman 66

5. Aqa’idul Iman 68

Adapun Aqa’idul Iman yang empat (4) kemudian ini untuk ma’rifat yaitu untuk membedakan dzat Allah Ta’ala dengan dzat yang baharu, dan membedakan sifat Allah Ta’ala dengan sifat yang baharu dan membedakan perbuatan Allah Ta’ala dengan perbuatan yang baharu, maka kesemuanya itu benar, hanya perselisihannya pada Rukun Iman sahaja, setengahnya tiada dimasukkan Rukun Iman yang 4 perkara, maka jadi 60, setengahnya dimasukkan Rukun Iman tetapi tiada dimasukkan lawannya, maka jadi 64, dan setengahnya dimasukkan Rukun Iman yang 4 perkara dan lawannya , maka jadilah 68 dan yang 66 tiada masyhur sebab tiada dimasukkan satu (1) sifat yang wajib bagi Rasul dan lawannya maka inilah sebab menjadi 66.

Maka baharulah jadi Syahadat itu dua (2) bahagi:

1. Syahadat Tauhid, yaitu Ashadu anllaa ilaha ilallah

2. Syahadat Rasul, yaitu Ashadu ana muhammadarrasuulullaah

Adapun Fardhu Syahadat itu dua perkara:

1. Diikrarkan dua kalimah itu dengan lidah

2. Ditasdiqkan makna itu kedalam hati

Syarat Syahadat itu empat perkara:

1. Diketahui apa isi didalam dua kalimah itu

2. Diikrarkan dua kalimah itu dengan lidah

3. Ditasdiqkan maknanya itu kedalam hati

4. Diyakinkan sungguh-sungguh didalam hati

Rukun Syahadat itu empat perkara:

1. Mengisbatkan dzat Allah Ta’ala dzat yang wajibal wujud

2. Mengisbatkan sifat Allah Ta’ala sifat yang kamalat atau sifat yang kesempurnaan

3. Mengisbatkan af’al Allah Ta’ala memberi bekas dan yang berlaku dalam alam ini semua perbuatannya

4. Mengisbatkan kebenaran Rasulullah dan Muhammad itu benar-benar pesuruh Allah

Kesempurnaan Syahadat itu empat (4) perkara:

1. Diketahui

2. Diikrarkan dengan lidah

3. Ditasdiqkan maknanya didalam hati

4. Diamalkan dari dalam hati hingga melimpah keseluruh anggota

Yang Membinasakan Syahadat itu empat (4) perkara:

1. Syak hatinya pada Allah Ta’ala

2. Menduakan Allah Ta’ala

3. Menyangkal dirinya dijadikan Allah Ta’ala

4. Tiada mengisbatkan dzat, sifat dan af’al Allah Ta’ala dan kebenaran Rasul

Adapun dzikir itu tiga (3) bahagian

1. Dzikir lidah yaitu: Laa ilaha ilallah

2. Dzikir hati yaitu: Allah

3. Dzikir sirr yaitu: Huwa

Adapun Laa ilaha ilallaah dzikir orang Syari’at

Adapun Allah… Allah… dzikir orang Tarikat

Adapun Huwa… Huwa… dzikir orang Hakikat

Laa ilaha ilallaah itu makanan Jasmani

Allah… Allah… itu makanan Qalbu

Huwa… Huwa… itu makanan Ruhani

ALLAH

Alif = Dzat

Lam = Sifat

Lam = Af’al

Ha = Asma’
Sifat 20SocialTwist Tell-a-Friend

Popular Posts

Segala bahan bacaan disini adalah untuk umum dan HAK CIPTA ITU MILIK ALLAH SEMUANYA. Anda boleh ambil sebagai bahan rujukan ataupun bahan posting di blog-blog atau website anda TANPA PERLU MEMBERI SEBARANG KREDIT KEPADA BLOG INI.