Mari kita kenali apa itu ROH
Roh terbahagia kepada dua iaitu:
1. Ruhul hayah
2. Ruhul tamyiz
RUHUL HAYAH
Ruhul hayah terdapat pada semua makhluk termasuk manusia, jin, malaikat, binatang dan setiap benda yang bernyawa. Mengikut kajian ahli biologi atau para saintis, batang kayu juga ada roh. Begitu juga pada semua jamadat (benda mati) seperti batu, kayu dan sebagainya.
RUHUL TAMYIZ
Ruhul tamyiz (ruhul amri ) lebih dikenali sebagai akal. Ia tidak ada pada binatang tetapi hanya ada pada manusia, malaikat dan jin. Dengan adanya roh tamyiz inilah maka malaikat, jin dan manusia menjadi makhluk yang mukalaf . Yakni mereka dipertanggungjawabkan untuk mendirikan syariat. Mereka memikul beban untuk mendirikan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Sebaliknya roh tamyiz atau ruhul amri itu tidak ada pada binatang. Binatang hanya ada ruhul hayah dan nafsu tanpa akal. Ia hanya memiliki roh yang memungkinkan seseorang atau binatang itu hidup dengan izin Allah. Jadi roh tamyiz ini tidak ada pada binatang dan seluruh jamadat. Oleh kerana itulah binatang dan jamadat itu tidak mukalaf dan tidak diwajibkan mendirikan syariat. Ia tidak terlibat melaksanakan perintah suruh dan menjauhi perintah larang dari Allah SWT.
Bagi para malaikat, manusia dan jin, mereka wajib melaksanakan perintah suruh dan menjauhi larangan dari Allah. Dengan lain perkataan, mereka dianggap makhluk yang mukalaf yang mesti bertanggungjawab kepada Allah kerana adanya ruhul tamyiz ini.
Roh tamyiz terkenal dengan sebutan akal.
Hadis ada meriwayatkan:
Maksudnya: “Ketika Allah menciptakan akal, Dia memanggil akal itu dan akal itu pun datang. Dia menyuruh akal itu pergi maka pergilah ia. Kemudian Allah berfirman kepada akal: ‘Demi kebesaran dan kemuliaan-Ku, Aku tidak menciptakan sesuatu makhluk yang lebih Aku sayangi daripada kamu. Dan tidak Aku sempurnakan kamu melainkan pada orang yang Aku cintai. Kepadamulah Aku akan menyuruh, melarang dan menyeksa serta memberi pahala’.” (Riwayat Abdullah bin Imam Ahmad)
Inilah yang membedakan antara manusia, jin dan malaikat dengan lain-lain makhluk yang hanya semata-mata ada ruhul hayah . Umpamanya binatang, ia tidak mukalaf. Sebab itu pada binatang walaupun ia berbuat baik, tidak diberi pahala. Ia berbuat jahat pun tidak berdosa. Maka bila mati mereka jadi tanah. Ke Syurga tidak, ke Neraka pun tidak.
Tetapi ketiga-tiga makhluk ini yakni manusia, jin dan malaikat, oleh kerana memiliki akal atau ruhul amri maka mereka akan dibalas baik ke Syurga dengan rahmat-Nya atau ke Neraka dengan keadilan-Nya. Kalau mereka berbuat baik akan diberi pahala. Sebaliknya bila berbuat jahat, mereka berdosa dan akan dicampakkan ke Neraka. Selama ini kita mungkin jarang mendengar tentang istilah roh tamyiz ini. Mungkin kita hanya biasa mendengar tentang istilah roh atau ruhul hayah saja.
Ruhul hayah yang ada pada binatang, manusia, malaikat dan jin, kiranya ia keluar dari badan, mereka akan mati. Kalau ia keluar dari malaikat, malaikat akan mati. Begitu juga kalau ia keluar dari jin, jin akan mati. Kalau ia keluar dari hewan, hewan itu juga akan mati. Kerana ruhul hayah ini menjadi penyebab pada manusia dan lain-lain makhluk itu hidup.
*Manakala roh tamyiz pula, kalau ia keluar dari badan manusia, manusia tidak akan mati.* Sebaliknya ia akan pergi ke alam-alam lain. Mungkin dapat melihat alam malakut, dapat melihat alam roh, dapat melihat alam ghaib, dapat melihat alam kubur, dapat melihat alam Akhirat, dapat melihat alam jin, dapat melihat alam malaikat, alam yang halus-halus (alam mawaraa-ul maddah ) iaitu dapat melihat alam di luar material (kebendaan) ini dengan izin Allah.
Ini yang berlaku apabila roh tamyiz keluar dari jasad sama ada keluar di waktu kita tidur atau secara jaga. Kiranya roh tamyiz itu keluar di waktu seseorang itu sedang tidur, dia akan dapat mimpi. Bila ia jumpa roh yang suci, seseorang itu akan dapat mimpi yang baik-baik. Tetapi apabila roh tamyiz itu bertemu dengan ruhul khabitah (roh yang jahat) ia akan berjumpa dengan jin yang jahat, syaitan, iblis atau benda-benda yang menakutkan.
Jika ruhul tamyiz ini keluar di waktu jaga, secara yakazah , dia akan dikasyafkan iaitu tabir yang bersifat maddiah dibuka atau diangkat. Ia akan dapat melihat alam malaikat, alam jin, alam kubur, dapat membaca hati orang dan Allah memperlihatkan hakikat manusia itu sendiri atau melihat benda-benda yang jauh darinya seperti manusia lain yang tidak semajelis dengannya. Mungkin manusia yang dilihatnya itu berada di jarak ratusan atau ribuan mil darinya. Apa yang ada pada manusia itu, bagaimana perangai manusia itu, begitulah yang akan dilihat oleh roh. Itulah kelebihan ruhul tamyiz dengan kuasa Allah. Tetapi ruhul
hayah itu bila keluar dari badan mana-mana makhluk, maka makhluk itu akan mati.
Perlu dijelaskan lagi:
1. Malaikat ada roh, ada akal tetapi tidak ada nafsu. Dia mukalaf yang taat atau tabiat makhluknya taat, patuh dan tidak pernah ingkar. Seperti yang disebutkan di dalam Al Quran:
Maksudnya: (Malaikat itu) tidak pernah menderhakaiAllah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim: 6 )
2. Binatang ada roh, ada nafsu tetapi tidak ada akal dan tidak mukalaf. Tidak dipertanggungjawabkan syariat kepada mereka. Bila mati jadi tanah. Tidak ke Syurga dan tidak ke Neraka.
3. Manusia ada roh, ada nafsu dan ada akal. Artinya, ada ketiga-tiga sekali. Kalau diasuh, dididik dan dibersihkan hatinya, ia akan berwatak malaikat yang berupa manusia. Bila tidak dididik dan diasuh atau tidak dibersihkan hatinya, dia akan jadi watak binatang atau watak syaitan yang berupa manusia.
WAJIB MENGAMALKAN TASAWWUF
Seluruh ulama-ulama Ahlus-sunnah berpendirian adalah wajib bagi setiap muslim mengamalkan tasawwuf. Tasawwuf adalah ilmu yang membicarakan tentang ahwal hati, segala penyakit-penyakit hati, sifat-sifat yang tercela dan sifat-sifat terpuji, sekalian syirik khafi serta menunjukkan jalan membaiki hati tersebut melalui zikrullah dan mujahadah. Seluruh Ilmu ini adalah bersumberkan Al-Qur'an dan Hadis Nabi صلى الله عليه وسلم
Ilmu tasawwuf yang wajib diamalkan ada diterangkan di dalam kitab-kitab ulama Ahlus-sunnah seperti Ihya Ulumuddin, Minhajul Abidin, I'anatut-Talibin, Sirrus-Salikin dan Hidayatus-Salikin.
Berkata Imam Ghazali رضي الله عه :
"Bermula ilmu tentang qalbu dan mengenal penyakitnya berupa iri hati, riya' dan semisalnya adalah fardhu 'ain."
Seseorang muslim tidak akan dapat menjadikan dirinya sebagai hamba Allah dengan hanya mengamalkan ilmu fiqh semata-mata. Malah wajib baginya menghimpunkan kedua-duanya; iaitu ilmu fiqh dan ilmu tasawwuf untuk kesejahteraan zahir dan batin. Seperti kata Imam Malik رضي الله عه:
"Sesiapa yang mengamalkan Fiqh tanpa tasawwuf, maka dia fasiq. Sesiapa mengamalkan tasawwuf tanpa fiqh, maka dia zindiq. Mengimpun keduanya itulah yang haq."
" SHALAWAT ADALAH PENGHANTAR MA’RIFAT DAN IBADAH YANG PASTI DITERIMA "...
Seorang murid pernah bertanya kepada Syaikh Ali Jum’ah, Mufti Mesir:
“Syaikh, dalam buku Anda tertulis bahwa membaca shalawat adalah satu-satunya ibadah yang pasti diterima oleh Allah. Apakah benar demikian? Mohon penjelasannya.”
Syaikh Ali Jum’ah menjawab:
“Ya benar, saya menulis demikian. Bershalawat Nabi adalah amalan yang pasti diterima oleh Allah. Jika kamu bersedekah, dan kamu ingin dipuji, maka sedekahmu sia-sia. Begitu pula jika kamu shalat karena ingin diperhatikan manusia, shalatmu tanpa pahala. Tapi jika kamu bershalawat, walaupun kamu riya, kamu tetap akan mendapatkan pahala, karena shalawat berhubungan dengan Nabi Allah yang agung, yaitu Nabi Muhammad Saw.”
Shalawat, Satu-satunya Ibadah yang Pasti Diterima
Dalam kitab al-Fawaid al-Mukhtarah, Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni meriwayatkan bahwa Abul Mawahib Imam asy-Syadzili berkata:
رَأَيْتُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلاَةُ اللهِ عَشْرًا لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً هَلْ ذَلِكَ لِمَنْ حَاضَرَ الْقَلْبَ؟ قَالَ لاَ، بَلْ هُوَ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَيَّ وَلَوْ غَافِلاً
“Aku pernah bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad SAW. Aku bertanya,
“Ada hadits yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”
Nabi SAW. menjawab,
“Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat meski tidak faham arti shalawat yang ia baca.”
Allah Swt. memerintahkan para malaikatNya untuk senantiasa memohonkan doa kebaikan dan ampunan bagi orang tersebut (yang membaca shalawat). Terlebih jika ia membaca dengan hati yang hadir, pasti pahalanya sangat besar, hanya Allah yang mengetahuinya. Bahkan, ada sebuah keterangan apabila kita berdoa tidak dimulai dengan memuja Allah Swt., tanpa membaca shalawat, kita disebut sebagai orang yang terburu-buru.
عن فَصَالَةَ بن عُبَيدْ رضى الله عنهما قَالَ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً يَدْعُوْ فِىْ صَلاَتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَجَّلَ هَذَا. ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ اَوْ لِغَيْرِهِ اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُوْ بَعْدُ بِمَا شَاءَ، رواه ابو داود والترمذى وقال حديث صحيح.
Baginda Nabi SAW mendengar ada seseorang yang sedang berdoa tapi tidak dibuka dengan memuja Allah SWT dan tanpa membaca shalawat, Nabi SAW bersabda,
“Orang ini terburu-buru.”
Kemudian Nabi SAW mengundang orang itu, lalu ia atau orang lainnya dinasehati,
“Jika diantara kalian berdoa, maka harus diberi pujian kepada Allah Swt., membaca shalawat, lalu berdoalah sesuai dengan apa yang dikehendaki.”
(HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)
Apalagi jika bertepatan dengan hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat di dalamnya. Karena Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadits:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّ مِنْ اَفْضَلِ اَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَاَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَاِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ رواه ابو داود.
“Hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat di hari itu, karena shalawat kalian dihaturkan kepadaku.”
Ulama sepakat bahwa shalawat pasti diterima, karena dalam rangka memuliakan Rasulullah SAW Ada penyair yang berkata:
أَدِمِ الصَّلاَةَ عَلَى مُحَمَّدٍ # فَقَبُوْلُهَا حَتْمًا بِغَيْرِ تَرَدُّدٍ
أَعْمَالُنَا بَيْنَ الْقَبُوْلِ وَرَدِّهَا # اِلاَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ
“Senantiasalah membaca shalawat, sebab shalawat pasti diterima. Adapun amal yang lain mungkin saja diterima atau ditolak, kecuali shalawat pasti diterima.”
Shalawat Penghantar Ma’rifat
واعلموا أن العلماء إتفقوا على وجوب الصلة والسلام على النبي صلى الله عليه وسلم , ثم اختلفوا في تعيين الواجب فعند مالك تجب الصلوة والسلام في العمر مرة وعند الشافعي تجب في التشهد الأخير من كل فرض, وعند غيرهما تجب في كل مجلس مرة وقيل تجب عند ذكره وقيل بجب الإكثار منها من غير تقييد بعدد, وبالجملة فالصلاة على النبي أمرها عظيم وفضلها جسيم. وهي أفضل الطاعات وأجل القربات حتى قال بعض ال عارفين إنها توصل إلى الله تعالى من غير شيخ لأن الشيخ والسند فيها صاحبها ولاأنها تعرض عليه ويصلي على المصلي بخلاف غيرها من الأذكار فلا بد فبها من الشيخ الارف و لا دخلها الشيطان ولم ينتفع صاحبها بها.
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya para ulama telah sepakat atas diwajibkannya membaca shalawat dan salam untuk Baginda Nabi Muhammad SAW. Kemudian mereka berselisih pendapat mengenai kapan kewajiban ini harus dilakukan. Menurut Imam Malik, cukup satu kali dalam seumur hidup. Menurut Imam Syafi’i, wajib dibaca pada waktu tasyahud akhir dalam setiap shalat fardhu. Menurut ulama lainnya, wajib dibaca satu kali dalam setiap majelis. Ada juga ulama yang berpendapat wajib membaca shalawat setiap kali mendengar nama Nabi SAW disebut. Dan ada juga yang mengatakan untuk memperbanyak shalawat tanpa dibatasi bilangan tertentu. Secara umum, membaca shalawat kepada Nabi Saw. merupakan hal yang sangat agung dan keutamaannya sangat banyak.”
“Membaca shalawat merupakan bentuk ibadah yang paling utama dan paling besar pahalanya. Sampai-sampai sebagian kaum ‘arifin mengatakan:
“Sesungguhnya shalawat itu bisa mengantarkan pengamalnya untuk ma’rifat billah meskipun tanpa guru spiritual (mursyid). Karena guru dan sanadnya langsung melalui Nabi SAW.”
Ingat, setiap shalawat yang dibaca seseorang selalu diperlihatkan kepada Nabi SAW. dan beliau Nabi SAW membalasnya dengan doa serupa. Hal ini berbeda dengan dzikir-dzikir (selain shalawat) yang harus melalui guru spiritual (mursyid), yang sudah mencapai maqam ma’rifat. Jika tidak demikian maka akan dimasuki setan dan pengamalnya tidak akan mendapat manfaat apapun.”
(Hasiyah ash-Shawi ‘ala al-Jalalain juz 3 hlm. 287).
Abdurrahman bin Samrah meriwayatkan sebuah hadits yang dituturkan oleh Sa’id bin al-Musayyab, bahwa Nabi SAW bersabda,
“Kulihat seorang dari umatku berjalan di atas shirath, kadang merangkak-rangkak dan kadang bergelantung. Kemudian datanglah shalawat (yang diucapkannya dahulu ketika hidup di dunia) lalu membangunkannya hingga dapat berdiri dan berjalan dengan kakinya, lalu ia diselamatkan oleh shalawatnya.”
(HR. Abu Musa al-Madini dalam at-Targhib wa at-Tarhib, hadits hasan jiddan).
Wasiat-Nasehat Para Ulama tentang Shalawat
Imam Abul Hasan asy-Syadzilli pernah berkata,
“Di akhir zaman tidak ada amalan yang lebih baik daripada bershalawat kepada Rasulullah SAW.”
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan,
“Tidak tertolak shalawat atas Nabi SAW.”
Al-Hafidz asy-Syaraji berkata,
“Semua dzikir tidak diterima kecuali dengan khusyuk dan hadir hatinya kecuali shalawat, maka akan diterima meskipun tanpa khusyuk dan hadirnya hati. Karena itu Abul Hasan al-Bakri berpesan: “Seharusnya tiap hari seseorang jangan kurang membaca shalawat dari 500 kali.”
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berwasiat,
“Dengan membaca shalawat, seorang hamba dapat meraih keridhaan Allah Swt., memperoleh kebahagiaan dan restu Allah Swt., berkah-berkah yang dapat dipetik, doa-doa yang terkabulkan, bahkan dia bisa naik ke tingkatan derajat yang lebih tinggi, serta mampu mengobati penyakit hati dan diampuni dosa-dosa besarnya.”
Adapun Syaikh Ibn Athaillah as-Sakandari berkata,
“Siapa yang (merasa) tidak memiliki amalan shalat dan puasa yang banyak untuk menghadap Allah di hari kiamat, maka hendaknya ia perbanyak membaca shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW.”
Al-Quthb al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menyebutkan bahwasanya para ulama berkata,
“Satu shalawat dari Allah cukup untuk seorang hamba, dunia dan akhirat.”
As-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki pernah berpesan,
“Jangan tinggalkan membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Karena bacaan shalawat itu merupakan kunci segala kebaikan dan pintu segala keutamaan untuk agama, dunia dan akhirat.”
Al-Habib Umar bin Hafidz mengatakan,
“Sesungguhnya apabila engkau melakukan ketaatan kepada Allah seumur hidupmu, bahkan Allah berikan di atas umurmu adalah umurnya seluruh manusia untuk digunakan dalam ketaatan kepadaNya, maka sesungguhnya lebih hebat satu shalawat dari Allah Swt."
Muhasabah Diri dan Teruskan Berselawat.
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّم وبَارِك عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الفاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، والخاتِم لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الحقِّ بَالحَقِّ، والهادي إلى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ، صلَّى اللهُ علَيهِ وعَلَى آلِهِ وصحبِهِ، حَقَّ قَدْرِهِ ومِقْدَارِهِ العَظِيم.."
YAQAZAH DALAM TAREKAT AHMADIYYAH IDRISIYYAH
Dalam tradisi keilmuwan tarekat Ahmadiyyah Idrisyyah, tarekat ini mempunyai dua bentuk silsilah iaitu silsilah muttasil dan silsilah uwaisiyyah barzakhiyyah yang menghubungkan Sayyid Ahmad ibn Idris dengan Rasulullah s.a.w (al-Sakandari ).
Silsilah uwaisiyyah barzakhiyyah berlaku melalui perjumpaan rohani Sayyid Ahmad ibn Idris dengan Nabi Muhammad s.a.w secara mushafahah dan Yaqazah.
Pertemuan ini beliau telah diberikan amalan secara khusus oleh Rasulullah s.a.w iaitu tahlil khusus, Selawat al-cAzimiyyah dan Istighfar al-Kabir (al-Jaafari 1998, Sedgwick 2005, Hamdan 1992).
Rentetan penerimaan amalan khusus ini beliau telah mendirikan sebuah Tarekat Muhammadiyyah dan dikenali sebagai Tarekat Ahmadiyyah Idrisiyyah sehingga kini. Walau bagaimanapun, kajian mendapati bahawa tidak terdapat suatu pertikaian dalam kalangan ulama’ sezamannya termasuk Shaykh Muhammad ibn Abd al-
Wahhab (1703-1792) sendiri mengenai silsilah Tarekat Ahmadiyyah Idrisiyyah samada silsilah muttasil mahupun silsilah Uwaisiyyah barzhakhiyyah.
Hal ini disebabkan oleh ketokohan, keilmuan dan ketinggian kerohanian Sayyid Ahmad ibn Idris yang telah diperakui dan diiktiraf oleh guru-gurunya dan ulama-ulama sezamannya (Sedgwick 2005, Hamdan 1992).
Pengiktirafan terhadap beliau dalam keilmuan dan kerohanian ini disebut di dalam kitab Jamci Karamat al-Awliya’ oleh Shaykh Yusuf bin Ismacil al-Nabhani. Di samping itu, sebelum Sayyid Ahmad ibn Idris memperkenalkan tarekat Muhammadiyyah atau dikenali selepas beliau sebagai tarekat Ahmadiyyah, beliau telah pun mempunyai asas kerohanian yang kuat sehingga mendapat keizinan mengajar dalam tiga buah tarekat sufi iaitu al-Shadhiliyyah, al-Khidiriyyah alAziziyyah dan al-Khalwatiyyah (al-Jaafari 1998, Sedgwick 2005, Hamdan 1992).
Berdasarkan kepada perkara ini, dapatlah difahami mengapa silsilah dan amalan dalam tarekat Ahmadiyyah yang diterima secara Yaqazah dan mushafahah daripada Nabi s.a.w tidak dipertikai oleh para ulama sezaman dan selepasnya. Penerimaan talqin dan amalan tarekat oleh Sayyid Ahmad bin Idris secara langsung daripada Nabi s.a.w bukan sesuatu yang baharu, tetapi ia adalah harus dan pernah berlaku pada ulama sufi terdahulu seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sufi muktabar. Hal ini telah dibincangkan oleh Shaykh Abd al-Wahhab al-Sharani di dalam kitabnya al-Anwar al-Qudsiyyah.
Dalam bab Sanad al-talqin al-sufi beliau telah meriwayatkan bahawa penerimaan amalan secara Yaqazah dan mushafahah ini telah berlaku kepada beberapa guru beliau seperti Shaykh Ibrahim al-Matbuli dan Shaykh Ali al-Khawwas , Shaykh Abu Madyan, Shaykh cAbd al-Rahim al-Qanawi, Shaykh Musa al-Zawli, Shaykh Abu Hassan al-Shadhili, Shaykh Abu cAbbas al-Mursi, Shaykh Abu Sacud bin Abi al-cAshacir, dan Shaykh Jalal al-Din al-Suyuti. Shaykh Ali al-Khawwas berpendapat bahawa seseorang itu tidak sampai kepada martabat Arif bilAllah sehingga berjumpa dan bertemu dengan Nabi Muhammad s.a.w secara Yaqazah
dan mushafahah (al-Shacrani, t.th ; 1988).
Walaupun begitu, bukan kesemua ahli sufi yang pernah mengalami pengalaman secara Yaqazah dan menerima amalan daripada Rasulullah s.a.w. menubuhkan sebuah tarekat baru seperti Sayyid Ibrahim Rashidi, Sayyid Muhammad al-Dandarawi dan Shaykh Soleh bin Muhammad al-Jacafari. Sebaliknya, mereka terus menjadi pengikut setia dan pemimpin yang mengamalkan Tarekat Ahmadiyyah Idrisiyyah.
Di antara kata-kata hikmah Sayyid Ahmad ibn Idris ra. yang begitu memberi kesan dalam menyampaikan cahaya manhajnya di dalam ilmu Tasawwuf dan berdakwah kepada Allah ialah:
"Tasawwuf ialah mengosongkan hati hanya untuk Allah swt dan memandang kecil selainNya."
"Makanan terpenting bagi diri ialah zikrullah."
"Benar merupakan keimanan, kerana sesiapa yang benar pada perkataannya, maka kata-katanya tidak akan ditolak. Dan tidak disifatkan al Quran sebagai mukjizat melainkan kerana kebenarannya, tidak akan didatangi sesuatu kebatilan sama ada di hadapan atau belakangnya."
"Sabar ialah sifat yang membezakan di antara hati orang yang beriman dengan yang lainnya."
"Khalwat itu jika tidak terhasil di dalamnya futuh (dibukakan oleh Allah), akan terhasil di dalamnya cahaya pada masa yang akan datang."
"Setiap perkara yang menyibukkan kamu daripada Allah, maka ia adalah celaka."
"Sesungguhnya setiap fitnah yang berlaku di dalam alam ini, sebabnya ialah kerana membelakangi perintah Allah."
"Orang yang hidup, akan terasa apabila dicucuk dengan jarum tetapi orang yang mati tidak terasa sekalipun dipotong dengan pedang-pedang yang tajam. (Begitu jugalah dengan hati yang mati, tidak akan terkesan dengan sebarang peringatan walau pun banyak. Tetapi hati yang hidup akan terkesan apabila diberikan peringatan walaupun sedikit)."
"Sifat ta'sub (ekstrim); membentuk puak masing-masing dan kemudiannya menuduh sesat di antara satu sama lain sehingga seolah-olah wujud pelbagai agama yang berbeza. Perkara inilah yang tidak kami redhai dan kami tegah ke atas setiap Muslim kerana mereka adalah daripada umat yang satu yang menjadi sebaik-baik umat, mempunyai Nabi yang satu, Kitab yang satu dan Kiblat yang satu. Maka bagaimana boleh terjadi perpecahan dan ta'sub? Kami sentiasa menegah manusia daripadanya."
Beliau sering mengungkapkan kata-kata hikmah:
"Sekiranya kamu suka kapada kaum (sufi), maka ikutilah jalan mereka; Mereka tidak sampai kepada Allah melainkan dengan memutuskan hubungan selain Allah."
"Beri'tiqad benarlah kamu, kamu akan mendapatkan keuntungan, dan masuklah kamu ke dalam kesejahteraan (agama Islam), kamu akan memperolehi keselamatan."
KARAMAH SIDI AHMAD IBNI IDRIS
Telah bercerita Sidi Ibrahim Ar Rashidi :
Seorang lelaki telah membeli daging dan di letakkan dalam pakaian nya. Di dalam perjalanan pulang dia telah singgah di masjid dan bersolat dibelakang Sidi Ahmad Ibni Idris. Setelah solat dia pun pulang ke rumahnya membawa daging tersebut
Setibanya di rumah dia telah meletakan daging tersebut dalam kuali dan menyalakan api. Tetapi kuali tersebut tidak mahu panas. Dia menambahkan lagi api agar semakin besar, namun tidak mendatangkan sebarang kesan kepada daging tersebut.
Berita ini di sampaikan kepada Sidi Ahmad Ibni Idris, beliau berkata "berikanlah khabar gembira, sesiapa yang bersolat bersama kami tidak akan di makan oleh api"
KELEBIHAN AURAD SIDI AHMAD IBNI IDRIS
Wirid-wirid yang telah diajarkan oleh asy-Syaikh Ahmad ibn Idris kepada murid-murid beliau mempunyai satu keistimewaan, yakni ia adalah hasil daripada apa yang telah diajarkan kepada beliau oleh rohaniah Rasulullah SAW sendiri .
Telah bercerita asy-Syaikh Ahmad ibn Idris di dalam kitab yang berjudul Kunuz al-Jawahir an-Nuraniyyah Fi Qawa‘id TarÏqah asy-Syazhiliyyah:
Selepas aku mencapai penetapan di dalam tarekat ini di atas tangan guruku Abi al-Qasim al-Wazir, semoga beliau dirahmati Allah SWT, dan naik melalui bimbingannya sehingga sampai ke alam al-ghaib, dan dengan itu aku telah menjadi seorang mukmin yang sebenar-benarnya, maka aku telah bertemu selepas kematiannya, semoga beliau dirahmati Allah Taala, dengan Rasulullah SAW (yakni berlakunya perkara ini di alam al-arwah dan bukan di alam nyata).
Turut serta di dalam perhimpunan suri (yakni perhimpunan yang bukan berbentuk fizikal) itu ialah al-Khaidir ‘alaihissalam. Rasulullah SAW telah menyuruh al-Khaidir ‘alaihissalam mengajarku segala zikir Tareqah Ad Sayidzilliah, maka dia pun mengajarku di hadapanRasulullah SAW.
Setelah itu, Rasulullah SAW telah menyuruh al-Khaidir ‘alaihissalam mengajarku amalan yang dapat menghimpunkan segala zikir dan selawat dan istighfar, dan yang terlebih besar pahalanya, dan terlebih banyak bilangannya (yakni yang terlebih tinggi nilainya).
Dia (yakni al-Khaidir ‘alaihissalam) telah bertanya kepada baginda (yakni Rasulullah SAW), “Apakah ia, wahai Rasulullah SAW?”
Maka baginda telah mengajarku Zikir Al Makhsus yang telah diulangi oleh baginda sebanyak tiga kali. Aku juga telah disuruh mengulangi bacaan itu, maka aku pun melakukannya.
Setelah itu, baginda telah membaca pula selawat Al Azhimiah, dan aku telah mengulangi bacaan baginda itu. Kemudian, baginda telah membaca pula Istighfar Al Kabir , dan aku telah mengulangi bacaan baginda itu . . . .
Aku telah dipakaikan dengan beberapa cahaya serta kekuatan yang bersifat Muhammadiah, dan telah direzekikan juga kepadaku beberapa penglihatan yang bersifat ilahiyyah.
Setelah itu, bersabda baginda kepadaku, “Wahai Ahmad, telah aku berikan kepadamu kunci-kunci tujuh petala langit dan tujuh petala bumi, dan ia adalah Zikir Al Makhsus dan Selawat Al Azhimiah dan Istighfar Al Kabir. Satu kali membacanya itu adalah seperti kadar dunia dan akhirat, dan apa yang terkandung di dalam kedua-duanya, dan yang digandakan pula [kadarnya] beberapa gandaan . . .”
Kemudian Rasulullah SAW telah mengajarku selepas itu, dengan tiada perantaraan (wasitah). Baginda telah mengimlakkan (dictated) kepadaku [beberapa waktu kemudian] al-Mahamid Al Thamaniah, al-Ahzab dan al Solawat (Selawat 14). Maka aku telah menuliskannya seperti mana yang telah diajarkan kepadaku, dan aku telah membahagikanAl Ahzab dan Al Solawat kepada tujuh bahagian untuk dibacakan satu bahagian pada setiap hari - dengan khusyuk dan perendahan diri (khuduk) bagi orang yang belum sampai, dan dengan kehadiran hati (Hudur) dan rasa (dzauq) dan penyaksian (musyahadah) bagi orang yang sudah sampai.
Maka jadilah aku pula mengajar murid-muridku seperti yang telah diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW kepadaku, dan aku telah iktibarkan pula perkara-perkara yang tersebut itu daripada beberapa syarat . . . .
Dan pada suatu waktu yang lain pula, telah berkata asy-Syaikh Ahmad ibn Idris:-
Para penghulu bagi tarekat ini telah mengambil cara mereka melalui perantara-perantara, tetapi aku telah mengambil tarekat ini langsung daripada baginda Rasulullah SAW (yakni melalui jalan rohani), tanpaadanya seorang perantara.
Maka tarekatku ini adalah Muhammadiah Al Ahmadiah, awalnya dan akhirnya adalah Nur Muhammad . . . .
Telah bercerita lagi asy-Syaikh Ahmad Ibn Idris:
Setiap nabi mempunyai satu doa yang diperkenankan [oleh Allah], dan setiap wali mempunyai satu permintaan di sisi an-Nabi SAW yang diperkenankan [oleh an Nabi SAW].
Tatkala sampai waktunya, aku telah membuat permintaan kepada Rasulullah SAW agar memberikan penjagaan kepada para sahabatku dengan zat (yakni rohaniah) baginda yang khas, di dalam urusan bantuan rohani (madad).
Maka baginda telah berkata, “Sesiapa yang menisbahkan dirinya kepadamu (yakni mengambil tarekat yang berasal daripada asy-Syaikh Ahmad Ibn Idris), tiada akan aku serahkan dia untuk penjagaan yang lain daripadaku, dan tiada akan aku jadikan dia tanggungjawab bagi yang lain daripadaku. Akulah yang menjadi penjaganya dan yang akan bertanggungjawab ke atasnya.”
Telah berkata asy-Syaikh Ahmad Ibn Idris bahawa Rasulullah SAW telah berkata kepadanya:
Sesiapa yang mengambil tarekat ini dan bersungguh-sungguh di dalamnya, akan dituliskan dia di dalam daftar Allah yang tertinggi, yang tidak akan diubahkan dan tidak akan digantikan [nama-nama di dalam kandungannya].
Telah berkata lagi asy-Syaikh Ahmad Ibn Idris:
Tarekatku ini, tiadalah keadaannya melainkan pada langkah yang pertama di sini, dan pada langkah yang kedua [sudah pun berada] di sisi Allah.
Telah berkata lagi asy-Syaikh Ahmad ibn Idris:
Anak-anakku (yakni anak-anak murid atau para pengikut asy-Syaikh Ahmad ibn Idris) akan terlepas daripada fitnah-fitnah di akhir zaman.
SIRI 6: KARYA AL IMAM AHMAD IBN IDRIS
Al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris mempunyai kitab karangan yang banyak. Ada di antara kitabnya dibawa oleh anak-anak muridnya yang ditugaskan untuk berdakwah di tempat-tempat lain di serata dunia Islam. Ada yang telah terbakar ketika berlaku kebakaran di dalam biliknya selepas kewafatannya dan yang masih tinggal hanyalah beberapa buah kitab yang dikumpulkan. Sebahagian daripadanya telah dicetak, manakala sebahagian yang lain masih kekal dalam bentuk manuskrip.
Di antara kitab karangannya yang masih tinggal dalam bentuk cetakan dan manuskrip ialah:
1. Tafsir Basmalah
2. Tafsir Surah al Fatihah
3. Tafsir Hizib yang pertama daripada surah al Baqarah
4. Tafsir ayat (إِنَّ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ)
5. Al ‘Iz al Masun fi Tafsir surah al Tin wa al Zaitun
6. Tafsir Surah al Dhuha dan al Insyirah
7. Tafsir Surah al Kauthar
8. Tafsir potongan ayat-ayat al Quran
9. Al Nafahaat al Rabbaniyyah fi Syarh Hadith al Sunnah al Muhammadiyyah “al Ma’rifah Ra’su Mali”
10. Al Nafahaat al Kubra
11. Risalah Kaimiya’ al Yaqin
12. Syarah ‘Aqidah Imam al Syafi’i
13. Syarh Husul al Haqiqah bi Nuzm Usul al Tariqah li al ‘Arif Billah Salman ibn Abi al Qasim al Ahdali
14. Risalah al Asas
15. Risalah al Qawa’id
16. Risalah Perbincangan Sayyid Ahmad ibn Idris dengan Fuqaha’ Najd
17. Risalah mengenai Khalwat
18. Syarah hadith: (صَلِّ صَلَاةَ المُوَدِّع)
19. Syarah empat buah hadith iaitu:
- الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ
- إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
- الحلَالُ بَيِّنٌ وَالحَرَامُ بَيِّنٌ
- مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ المَرْءِ تَركُهُ مَا لَا يَعْنِيْهِ
20. Syarah Qasidah Imam Junaid al Baghdadi di dalam ilmu tasawwuf iaitu:
تَوَضَّأ بِمَاءِ الغَيْبِ إِنْ كُنْتَ ذَا سِرٍّ..
21. Al ‘Iqd al Nafis fi Nuzum Jawahir al Tadris (kitab yang mengandungi jawapan-jawapan yang dijawab oleh al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris dalam majlis pengajiannya)
22. Risalah Mengenai Zikir
23. Risalah penolakan terhadap orang yang menggunakan pendapat akal semata-mata
24. Khutbah Nikah
25. Khutbah Dua Hari Raya dan Minta Hujan
26. Risalah mengenai Tasawuf dan Suluk
27. Ruh al Sunnah (kitab ini mengandungi hadith-hadith pilihannya)
Ini merupakan kitab-kitab al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris sebagaimana yang dinyatakan oleh cicitnya Sayyid Ahmad Mustafa. Beliau juga menyimpan koleksi surat-surat al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris yang dihantar kepada sahabat-sahabat dan murid-muridnya. Semua surat tersebut mengandungi jawapan bagi soalan-soalan ilmiah yang dihantar kepadanya sebagai salah satu jalan untuk memberikan bimbingan dan tunjuk ajar kepada muridnya.
Disediakan oleh:
Markaz Buhuth wal Dirasat
Institut al Imam Ahmad ibn Idris
Gambar: Prof Dr Sayyid Abdul Wahab al Tazi, Syeikh Masyaikh Tarekat al Ahmadiyyah al Idrisiyyah Dunia merangkap Penasihat Kehormat Institut al Imam Ahmad ibn Idris Malaysia
SIRI 5: PUJIAN ULAMA’ TERHADAP AL IMAM AHMAD IBN IDRIS
Al Imam al Akbar Sayyid Ahmad ibn Idris adalah seorang ulama’ yang menjadi sebutan di kalangan ulama’ yang lain. Mereka telah merakamkan biografi al Imam al Akbar Sayyid Ahmad ibn Idris dalam bahan-bahan penulisan mereka.Tidak kurang pula, yang mencatatkan saat-saat keemasan dan pengalaman yang begitu bermanfaat ketika bersama al Imam al Akbar Sayyid Ahmad ibn Idris.
Di antara mereka ialah al ‘Allamah Sayyid Muhammad ibn Ali ibn ‘Uqail. Beliau pernah berkata:
“Saya mengenali Sayyid Ahmad ibn Idris semenjak berhijrah ke Makkah pada tahun 1234H. Saya dapati beliau merupakan seorang ulama’ besar yang mempunyai ilmu ma’rifah, syariah dan hakikat yang tiada tolok bandingannya.”
Kehebatan ilmu makrifah al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris yang mendalam turut diperakui oleh ulama’ syari’e pada zaman ini seperti Sayyid Abdur Rahman al Ahdal (Mufti Zabid, Yaman) dan Qadhi Abdur Rahman al Bahlaqi yang menjawat jawatan Ahli Jawatankuasa Majlis Ulama’ Feqah di Yaman. Ulama’ Yaman dan Syam yang seangkatan dengannya juga sering memujinya.
Di antaranya, Qadhi Muhammad ibn Ali al Syaukani. Beliau sering memuji al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris dan menggalakkan orang ramai agar tekun belajar dengan beliau. Begitu juga ulama’ yang lain seperti al Hafiz Sayyid Abdullah ibn Muhammad al Amir, saudaranya seorang ulama’ Muhaqqiqin Qasim ibn Muhammad dan anak saudaranya, al Allamah Yusuf ibn Ibrahim.
Mufti Zabid Yaman, Syeikh al Islam, Sayyid Abdur Rahman ibn Sulaiman al Ahdal berkata:
“Kedatangannya kepada saya diibaratkan seperti kedatangan kesejahteraan kepada orang yang sakit dan penyembuh kepada orang yang luka.”
Seorang ulama’ Muhaqqiqin, al Imam al Akbar Sayyid Muhammad ibn Ali As Sanusi menyebut:
“Saya telah menimba banyak ilmu pengetahuan daripada al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris. Saya juga telah mempelajari daripadanya tentang kehalusan dan kesempurnaan ilmu hadith, tafsir, tasawuf dan lain-lain lagi dengan penerangannya yang unik.”
Sayyid Muhammad Uthman al Mirghani berkata:
“Sekiranya kedua-dua belah telinga kamu mendengar ketinggian kata-katanya yang menyentuh tentang hakikat-hakikat yang dalam atau pun pintu hati kamu diketuk dengan kebesaran kata-katanya tentang Hadharat Tuhan yang halus, nescaya kamu akan berkata:“Saya bersumpah dengan nama Allah dan kemuliaan Rasulullah bahawa tiada seorang pun dari kalangan Auliya’ yang dijadikan sepertinya dan tiada seorang pun ahli makrifah yang dikurniakan makrifah ketuhanan yang setanding dengannya, sepertimana yang telah saya saksikan.”
Disediakan oleh:
Markaz al Buhuth wal Dirasat
Institut al Imam Ahmad ibn Idris
SIRI 4: MURID-MURID AL IMAM AHMAD IBN IDRIS
Di antara barisan anak murid yang berada di bawah pentarbiahannya ialah:
1. Sayyid Muhammad ibn Ali As Sanusi (Khalifah Utama al Imam Sayyid Ahmad ibn Idris al Hasani)
2. Sayyid al Tayyib ibn Muhammad ibn Idris
3. Sayyid Muhammad Uthman al Mirghani
4.Sayyid Abdur Rahman ibn Sulaiman al Ahdali
5. Syeikh Ibrahim al Rasyid ibn al Qadhi Soleh
6. Qadhi al Hasan ibn Ahmad al Dhamdi
7. Al ‘Allamah Ahmad ibn Muhammad al Sowi
8. Syeikh Muhammad al Madani
9. Syeikh Muhammad al Majzub al Sawakini
10. Syeikh Muhammad ‘Abid al Sindi dan lain-lain lagi.
Disediakan oleh:
Markaz al Buhuth wal Dirasat
Institut al Imam Ahmad ibn Idris
SIRI 3: KEPERIBADIAN AL IMAM AHMAD IBN IDRIS
Al Imam al Akbar Sayyid Ahmad ibn Idris tergolong dalam kalangan lelaki yang segak dan tampan serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia. Memiliki ketinggian yang sederhanan, berkulit putih kemerah-merahan, bermata luas dan dua bulu keningnya bercantum, janggutnya nipis dan terdapat banyak uban. Beliau juga memiliki lisan yang fasih dan hatinya yang kuat.
Beliau diperakui memiliki kecerdikan yang sempurna, sentiasa berlapang dada sehingga orang yang duduk bersamanya tidak pernah berasa jemu. Terkenal sebagai seorang yang pemurah, banyak berdiam melainkan ketika berzikir dan menyampaikan ilmu, petah dan tepat dialeknya.
Sayyid Muhammad al Hasan al Mirghani pernah berkata mengenai ketampanannya: “Kecantikannya bak emas yang berkilauan.”
Pada kebiasaannya, beliau memakai serban di atas ketayapnya dengan meninggalkan ekor di bahagian belakang. Labuh baju yang dipakainya berada di atas buku lali kerana mengikut sunnah Nabi. Beliau merupakan seorang yang wara’ lagi bertakwa. Pada waktu malam, beliau sentiasa bangun malam dan memanjangkan solatnya. Manakala pada waktu siang, beliau sentiasa bergelumang dengan dunia ilmu dan pengajarannya.
Fikirannya sentiasa karam dalam solat yang dikerjakannya hingga beliau tidak menyedari apa yang berlaku di sekitarnya. Apabila berdiri untuk mengerjakan solat, badannya menggigil lantaran berasa gerun untuk menghadap Allah dalam keadaan solat yang dikerjakannya disempurnakan dengan sebaik-baiknya.
Kekhusyukan solatnya disebut oleh muridnya, al Qadhi Hasan ‘Akish dalam kitabnya yang bertajuk, al Dibaj al Khasrawani, ‘Uquq al Durar dan Hadaiq al Zahr sebagaimana katanya:
“Fikiran Sayyid Ahmad ibn Idris karam dan tenggelam dalam solat yang dikerjakannya ketika bangun malam. Beliau menghadap Allah dengan sepenuh penghadapan sehinggakan beliau tidak menyedari apa yang berlaku di sekelilingnya. Apabila hendak berdiri mengerjakan solat, beliau sentiasa menggigil kerana takut hendak menghadap Allah dalam keadaadn solat yang dikerjakannya disempurnakan dengan sebaik-baiknya. ”
Anak-anak muridnya meriwayatkan, bahawa pernah sekali ketika al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris mengerjakan solat secara berjemaah di rumah, suatu benda di dalam rumahnya telah terjatuh dan kedengaran bunyi yang kuat. Setelah selesai solat, mereka berkata kepada al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris, “Telah terjatuh sesuatu daripada atap rumah ini.” Kata al Ustaz al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris: “Bagaimana kamu mengetahuinya?” Mereka menjawab: “Kami mendengar bunyi suatu benda yang terjatuh.” Maka beliau berkata: “Maha Suci Allah! Ketika kamu sedang solat, kamu boleh mendengarnya ?”
Disediakan oleh:
Markaz al Buhuth wal Dirasat
Institut al Imam Ahmad ibn Idris
SIRI 2: KEILMUAN AL IMAM AHMAD IBN IDRIS
Tokoh ulama’ besar ini, semenjak kecil lagi telah ditanam dan diasuh dengan didikan agama yang mantap. Semasa berada di peringkat awal pendidikannya lagi, beliau telah menghafaz al Quran dan sebahagian daripada matan-matan ilmu. Beliau mempelajari ilmu-ilmu asas secara talaqqi sewaktu dipelihara oleh saudaranya yang mulia iaitu Sayyid Muhammad ibn Idris dan Sayyid Abdullah.
Di kota kelahirannya, Fas, beliau belajar secara talaqqi di Masjid al Qarawiyyin daripada ramai ulama’. Beliau begitu tekun dan bersungguh-sungguh melazimi majlis pengajian ahli-ahli ilmu sehingga sanggup mengharungi pelbagai keperitan dan kepayahan demi mendapatkan ilmu-ilmu dan sanad-sanad yang amat besar manfaatnya.
Di antara tokoh ulama’ besar yang pernah menjadi gurunya ialah:
1. Syeikh al Muhaqqiq Sayyid Muhammad al Tawudi ibn Sudah al Murri (wafat 1209H).
2. Syeikh Muhammad Abdul Karim ibn Ali al Zahabi (masyhur dengan gelaran al Yaziqni, wafat 1199H)
3. Al Allamah Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Syaqrun (wafat 1219H)
4. Al Allamah al Lughawi Muhammad al Mujaidiri al Syanqiti
5. Al Qutb al Muammar Sayyid Abdul Wahab al Tazi al Hasani (Syeikhnya pada peringkat penutup di Fas yang menyebabkan suluknya menjadi sempurna dan kedudukannya menjadi tinggi. Beliau juga merupakan sandaran bagi segala riwayatnya)
6. Syeikh Abu al Qasim al Fasi (gelarannya al Wazir)
Melihat kepada latar belakang pendidikan al Imam al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris, ternyata beliau mempunyai sanad yang merangkumi semua bidang ilmu; sama ada hadith, tafsir, fiqh, tasawwuf dan lain-lain.
Beliau juga banyak meriwayatkan Hadith Musalsal (hadith yang didatangkan oleh seseorang perawi dengan gaya sifat perawi sebelumnya sama ada pada perkataan atau perbuatan) dan mempunyai sanad ‘Aali (sanad yang tinggi dan mempunyai rijal yang sedikit) sehingga mendapat pengiktirafan daripada Syeikh Muhammad ibn Ali al Syaukani, pengarang kitab Nail al Autar yang masyhur kerana mempunyai sanad yang ‘Aali pada zamannya.
Sebagai contoh, di antara al Imam al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris dan Imam al Bukhari hanya mempunyai 9 perantaraan. Ulama’ pada zamannya berbangga apabila mendapat sanad daripadanya. Di antara mereka ialah al Imam al Akbar Sayyid Muhammad ibn Ali al Sanusi, Mufti Zabid Yaman Sayyid Abdur Rahman bin Sulaiman al Ahdali, Qadhi Hasan ‘Akish dan lain-lain lagi.
Disediakan oleh:
Markaz al Buhuth wal Dirasat
Institut al Imam Ahmad ibn Idris
SIRI 1: MENELUSURI KEHIDUPAN AL IMAM AL A’ZAM AL MUHADDITH SAYYID AHMAD IBN IDRIS AL HASANI
NAMA DAN NASABNYA
Al Imam al A’zam Sayyid Ahmad ibn Idris merupakan ulama’ yang unggul pada zamannya. Berasal dari keluarga Penghulu Adarisah yang masyhur dan mulia di Maghribi dan berketurunan Sayyiduna Hasan ibn Ali ibn Abu Talib.
Nama lengkapnya ialah Ahmad ibn Idris ibn Muhammad ibn Ali ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Abdullah ibn Ibrahim ibn Umar ibn Ahmad ibn Abdul Kabbar ibn Muhammad ibn Yamluh ibn Masyish ibn Abu Bakar ibn Ali ibn Hurmah ibn Isa ibn Salam ibn Marwan ibn Haidarah ibn Muhammad ibn Idris (digelar al Asghar) ibn Idris (digelar al Akbar) ibn Abdullah (digelar al Kamil) ibn al Hasan al Muthanna ibn Sayyidina Hasan ibn Sayyidina Ali dan Fatimah al Zahra’ binti Maulana Muhammad Rasulullah.
Sekali pun al Imam al A’zam berketurunan mulia, beliau tidak suka bermegah-megah dengan kemuliaan nasab keturunannya. Hal ini dapat dilihat ketika muridnya, al Imam al Akbar Sayyid Muhammad ibn Ali al Sanusi meminta beliau menulis tentang nasabnya, beliau dengan tegas berkata:
نَسَبِي الكِتَابُ وَالسُّنَّةُ أُنْظُرْ إِلَيَّ فَإِنْ وَجَدْتَنِي عَلَى الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَقُلْ: أَحْمَدُ بْنُ إِدْرِيسَ عَلَى الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَهَذَا نَسَبِي. يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: اليَوْمَ أَضَعُ أَنْسَابَكُمْ وَأَرْفَعُ نَسَبِي أَلَا وَهُوَ التَّقْوَى.
Nasab saya adalah Kitab dan Sunnah. Lihatlah kepada saya, jika kamu dapati saya berada di atas landasan Kitab dan Sunnah, maka katakanlah, “ Ahmad ibn Idris berada di atas landasan Kitab dan Sunnah.” Maka inilah nasab saya. Allah berfirman, “Pada hari ini, Aku merendahkan nasab-nasab kamu dan meninggika nasabKu iaitu taqwa.”
(Lihat al ‘Iqd al Nafis fi Nuzum Jawahir al Taqdis karangan Sayyid Ahmad ibn Idris. Ini bertepatan dengan firman Allah dalam Surah al Mukminun ayat 101:
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ
Kemudian, apabila ditiup sangkakala, maka pada hari itu tidak ada lagi manfaat pertalian kerabat di antara mereka, dan tidak pula sempat bertanya satu sama lain)
Beliau dilahirkan pada 21 Rejab 1163 Hijrah bersamaan 1750 Masihi di sebuah kampung yang terletak di Maisur, berdekatan ibu kota Fas di tepi laut Maghribi.