Diriwayatkan bahawa Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad mimpi bertemu dengan Rasulullah صلى الله عليه و سلم.
Didalam mimpinya tersebut, Habib Abdullah berkata:
“Ya Rasulullah berilah aku satu ucapan-MU /Sabda-MU yang belum pernah engkau sampaikan kepada para Sahabat, aku minta khusus buatku langsung dari Engkau YaRasulullah. Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda yang artinya :
1. Siapa yang memegang tasbih maka dia dicatat sebagai orang yang bertasbih meskipun dia tidak bertasbih.
2. Siapa yang minum kopi (untuk menahan kantuk dari taat pada Allah, misal: saat majelis, qiyamullail, dsb) selama aroma kopi itu masih ada dimulutnya maka malaikat memintakan ampun / beristighfar untuknya.
3. Barang siapa mengunjungi seorang Wali yang masih hidup maupun telah meninggal dunia, maka ibadahnya mengunjungi wali itu lebih baik dari pada ibadah selama 70 tahun sampai tulangnya putus-putus"
Inilah kenikmatan dari Allah melalui salah satu dzurriyah / keturunan Rasulullah yang mulia kedudukan lahir dan batinnya dihadapan kakek beliau yang Agung Sayyidina Muhammad sholallahu 'alaihi wasallam
مَنْ رَآنِي فَإِنِّي أَنَا هُوَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَتَمَثَّلَ بِي
"Barangsiapa bermimpi melihaku berarti ia benar-benar melihatku karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupaiku." (HR. Tirmidzi: 2206)
Mari kita kenali apa itu ROH
Roh terbahagia kepada dua iaitu:
1. Ruhul hayah
2. Ruhul tamyiz
RUHUL HAYAH
Ruhul hayah terdapat pada semua makhluk termasuk manusia, jin, malaikat, binatang dan setiap benda yang bernyawa. Mengikut kajian ahli biologi atau para saintis, batang kayu juga ada roh. Begitu juga pada semua jamadat (benda mati) seperti batu, kayu dan sebagainya.
RUHUL TAMYIZ
Ruhul tamyiz (ruhul amri ) lebih dikenali sebagai akal. Ia tidak ada pada binatang tetapi hanya ada pada manusia, malaikat dan jin. Dengan adanya roh tamyiz inilah maka malaikat, jin dan manusia menjadi makhluk yang mukalaf . Yakni mereka dipertanggungjawabkan untuk mendirikan syariat. Mereka memikul beban untuk mendirikan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Sebaliknya roh tamyiz atau ruhul amri itu tidak ada pada binatang. Binatang hanya ada ruhul hayah dan nafsu tanpa akal. Ia hanya memiliki roh yang memungkinkan seseorang atau binatang itu hidup dengan izin Allah. Jadi roh tamyiz ini tidak ada pada binatang dan seluruh jamadat. Oleh kerana itulah binatang dan jamadat itu tidak mukalaf dan tidak diwajibkan mendirikan syariat. Ia tidak terlibat melaksanakan perintah suruh dan menjauhi perintah larang dari Allah SWT.
Bagi para malaikat, manusia dan jin, mereka wajib melaksanakan perintah suruh dan menjauhi larangan dari Allah. Dengan lain perkataan, mereka dianggap makhluk yang mukalaf yang mesti bertanggungjawab kepada Allah kerana adanya ruhul tamyiz ini.
Roh tamyiz terkenal dengan sebutan akal.
Hadis ada meriwayatkan:
Maksudnya: “Ketika Allah menciptakan akal, Dia memanggil akal itu dan akal itu pun datang. Dia menyuruh akal itu pergi maka pergilah ia. Kemudian Allah berfirman kepada akal: ‘Demi kebesaran dan kemuliaan-Ku, Aku tidak menciptakan sesuatu makhluk yang lebih Aku sayangi daripada kamu. Dan tidak Aku sempurnakan kamu melainkan pada orang yang Aku cintai. Kepadamulah Aku akan menyuruh, melarang dan menyeksa serta memberi pahala’.” (Riwayat Abdullah bin Imam Ahmad)
Inilah yang membedakan antara manusia, jin dan malaikat dengan lain-lain makhluk yang hanya semata-mata ada ruhul hayah . Umpamanya binatang, ia tidak mukalaf. Sebab itu pada binatang walaupun ia berbuat baik, tidak diberi pahala. Ia berbuat jahat pun tidak berdosa. Maka bila mati mereka jadi tanah. Ke Syurga tidak, ke Neraka pun tidak.
Tetapi ketiga-tiga makhluk ini yakni manusia, jin dan malaikat, oleh kerana memiliki akal atau ruhul amri maka mereka akan dibalas baik ke Syurga dengan rahmat-Nya atau ke Neraka dengan keadilan-Nya. Kalau mereka berbuat baik akan diberi pahala. Sebaliknya bila berbuat jahat, mereka berdosa dan akan dicampakkan ke Neraka. Selama ini kita mungkin jarang mendengar tentang istilah roh tamyiz ini. Mungkin kita hanya biasa mendengar tentang istilah roh atau ruhul hayah saja.
Ruhul hayah yang ada pada binatang, manusia, malaikat dan jin, kiranya ia keluar dari badan, mereka akan mati. Kalau ia keluar dari malaikat, malaikat akan mati. Begitu juga kalau ia keluar dari jin, jin akan mati. Kalau ia keluar dari hewan, hewan itu juga akan mati. Kerana ruhul hayah ini menjadi penyebab pada manusia dan lain-lain makhluk itu hidup.
*Manakala roh tamyiz pula, kalau ia keluar dari badan manusia, manusia tidak akan mati.* Sebaliknya ia akan pergi ke alam-alam lain. Mungkin dapat melihat alam malakut, dapat melihat alam roh, dapat melihat alam ghaib, dapat melihat alam kubur, dapat melihat alam Akhirat, dapat melihat alam jin, dapat melihat alam malaikat, alam yang halus-halus (alam mawaraa-ul maddah ) iaitu dapat melihat alam di luar material (kebendaan) ini dengan izin Allah.
Ini yang berlaku apabila roh tamyiz keluar dari jasad sama ada keluar di waktu kita tidur atau secara jaga. Kiranya roh tamyiz itu keluar di waktu seseorang itu sedang tidur, dia akan dapat mimpi. Bila ia jumpa roh yang suci, seseorang itu akan dapat mimpi yang baik-baik. Tetapi apabila roh tamyiz itu bertemu dengan ruhul khabitah (roh yang jahat) ia akan berjumpa dengan jin yang jahat, syaitan, iblis atau benda-benda yang menakutkan.
Jika ruhul tamyiz ini keluar di waktu jaga, secara yakazah , dia akan dikasyafkan iaitu tabir yang bersifat maddiah dibuka atau diangkat. Ia akan dapat melihat alam malaikat, alam jin, alam kubur, dapat membaca hati orang dan Allah memperlihatkan hakikat manusia itu sendiri atau melihat benda-benda yang jauh darinya seperti manusia lain yang tidak semajelis dengannya. Mungkin manusia yang dilihatnya itu berada di jarak ratusan atau ribuan mil darinya. Apa yang ada pada manusia itu, bagaimana perangai manusia itu, begitulah yang akan dilihat oleh roh. Itulah kelebihan ruhul tamyiz dengan kuasa Allah. Tetapi ruhul
hayah itu bila keluar dari badan mana-mana makhluk, maka makhluk itu akan mati.
Perlu dijelaskan lagi:
1. Malaikat ada roh, ada akal tetapi tidak ada nafsu. Dia mukalaf yang taat atau tabiat makhluknya taat, patuh dan tidak pernah ingkar. Seperti yang disebutkan di dalam Al Quran:
Maksudnya: (Malaikat itu) tidak pernah menderhakaiAllah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim: 6 )
2. Binatang ada roh, ada nafsu tetapi tidak ada akal dan tidak mukalaf. Tidak dipertanggungjawabkan syariat kepada mereka. Bila mati jadi tanah. Tidak ke Syurga dan tidak ke Neraka.
3. Manusia ada roh, ada nafsu dan ada akal. Artinya, ada ketiga-tiga sekali. Kalau diasuh, dididik dan dibersihkan hatinya, ia akan berwatak malaikat yang berupa manusia. Bila tidak dididik dan diasuh atau tidak dibersihkan hatinya, dia akan jadi watak binatang atau watak syaitan yang berupa manusia.
Salawat Al Fatihiyyah
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِيْ إِلَىٰ صِرَاطِكَ المُسْتَقِيْمِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
Ya Allah! Limpahkanlah rahmat ke atas penghulu kami Muhammad; pembuka bagi segala yang terkunci, penutup para nabi sebelumnya, penolong kebenaran dengan kebenaran, penunjuk kepada jalanMu yang lurus, dan juga ke atas keluarga dan para sahabatnya dengan sebenar-benar kedudukan dan kadar mereka yang besar.
Fadhilat Salawat Al Fatih
Barangsiapa berselawat dengan dia sekali jua seumurnya nescaya tiada masuk neraka dan sekalinya itu menyamai sepuluh ribu selawat yg lain dan kata setengahnya menyamai enam ratus ribu selawat yang lain mengekali baca akan dia empat puluh hari itu menerima Allah taala akan taubatnya.
(Kitab Al Aqoid Wal Fawaid, TG Haji Daud, Bukit Abal)
Doa Tawassul
Dari Utsman bin Hunaif berkata, "Seorang lelaki buta datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Do'akanlah aku agar Allah menyembuhkanku."
Beliau bersabda: "Jika kamu mau maka aku tangguhkan bagimu dan itu lebih baik, dan jika kamu mau maka aku akan do'akan kamu,"
ia berkata, "Do'akanlah."
Maka beliau menyuruhnya agar berwudlu dan membaguskan wudlunya, kemudian shalat dua raka'at dan berdo'a,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِمُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي قَدْ تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى اللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ
"Ya Allah, sesungguhnya aku meminta dan menghadap kepada-Mu dengan perantaraan Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad, aku telah menghadap dengan perantaraanmu kepada Rabbku di dalam hajatku ini agar terpenuhi. Ya Allah, berilah syafa'at kepadanya bagi diriku."
Abu Ishaq berkata, "Ini hadits shahih." (HR. Ibnu Majah: 1375) - http://hadits.in/ibnumajah/1375
Doa Tawassul
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِمُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي قَدْ تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى (sebutkan hajat)
"Ya Allah, sesungguhnya aku meminta dan menghadap kepada-Mu dengan perantaraan Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad, aku telah menghadap dengan perantaraanmu kepada Rabbku di dalam hajatku ini agar terpenuhi (Sebutkan hajat)"
WAJIB MENGAMALKAN TASAWWUF
Seluruh ulama-ulama Ahlus-sunnah berpendirian adalah wajib bagi setiap muslim mengamalkan tasawwuf. Tasawwuf adalah ilmu yang membicarakan tentang ahwal hati, segala penyakit-penyakit hati, sifat-sifat yang tercela dan sifat-sifat terpuji, sekalian syirik khafi serta menunjukkan jalan membaiki hati tersebut melalui zikrullah dan mujahadah. Seluruh Ilmu ini adalah bersumberkan Al-Qur'an dan Hadis Nabi صلى الله عليه وسلم
Ilmu tasawwuf yang wajib diamalkan ada diterangkan di dalam kitab-kitab ulama Ahlus-sunnah seperti Ihya Ulumuddin, Minhajul Abidin, I'anatut-Talibin, Sirrus-Salikin dan Hidayatus-Salikin.
Berkata Imam Ghazali رضي الله عه :
"Bermula ilmu tentang qalbu dan mengenal penyakitnya berupa iri hati, riya' dan semisalnya adalah fardhu 'ain."
Seseorang muslim tidak akan dapat menjadikan dirinya sebagai hamba Allah dengan hanya mengamalkan ilmu fiqh semata-mata. Malah wajib baginya menghimpunkan kedua-duanya; iaitu ilmu fiqh dan ilmu tasawwuf untuk kesejahteraan zahir dan batin. Seperti kata Imam Malik رضي الله عه:
"Sesiapa yang mengamalkan Fiqh tanpa tasawwuf, maka dia fasiq. Sesiapa mengamalkan tasawwuf tanpa fiqh, maka dia zindiq. Mengimpun keduanya itulah yang haq."
" SHALAWAT ADALAH PENGHANTAR MA’RIFAT DAN IBADAH YANG PASTI DITERIMA "...
Seorang murid pernah bertanya kepada Syaikh Ali Jum’ah, Mufti Mesir:
“Syaikh, dalam buku Anda tertulis bahwa membaca shalawat adalah satu-satunya ibadah yang pasti diterima oleh Allah. Apakah benar demikian? Mohon penjelasannya.”
Syaikh Ali Jum’ah menjawab:
“Ya benar, saya menulis demikian. Bershalawat Nabi adalah amalan yang pasti diterima oleh Allah. Jika kamu bersedekah, dan kamu ingin dipuji, maka sedekahmu sia-sia. Begitu pula jika kamu shalat karena ingin diperhatikan manusia, shalatmu tanpa pahala. Tapi jika kamu bershalawat, walaupun kamu riya, kamu tetap akan mendapatkan pahala, karena shalawat berhubungan dengan Nabi Allah yang agung, yaitu Nabi Muhammad Saw.”
Shalawat, Satu-satunya Ibadah yang Pasti Diterima
Dalam kitab al-Fawaid al-Mukhtarah, Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni meriwayatkan bahwa Abul Mawahib Imam asy-Syadzili berkata:
رَأَيْتُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلاَةُ اللهِ عَشْرًا لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً هَلْ ذَلِكَ لِمَنْ حَاضَرَ الْقَلْبَ؟ قَالَ لاَ، بَلْ هُوَ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَيَّ وَلَوْ غَافِلاً
“Aku pernah bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad SAW. Aku bertanya,
“Ada hadits yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”
Nabi SAW. menjawab,
“Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat meski tidak faham arti shalawat yang ia baca.”
Allah Swt. memerintahkan para malaikatNya untuk senantiasa memohonkan doa kebaikan dan ampunan bagi orang tersebut (yang membaca shalawat). Terlebih jika ia membaca dengan hati yang hadir, pasti pahalanya sangat besar, hanya Allah yang mengetahuinya. Bahkan, ada sebuah keterangan apabila kita berdoa tidak dimulai dengan memuja Allah Swt., tanpa membaca shalawat, kita disebut sebagai orang yang terburu-buru.
عن فَصَالَةَ بن عُبَيدْ رضى الله عنهما قَالَ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً يَدْعُوْ فِىْ صَلاَتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَجَّلَ هَذَا. ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ اَوْ لِغَيْرِهِ اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُوْ بَعْدُ بِمَا شَاءَ، رواه ابو داود والترمذى وقال حديث صحيح.
Baginda Nabi SAW mendengar ada seseorang yang sedang berdoa tapi tidak dibuka dengan memuja Allah SWT dan tanpa membaca shalawat, Nabi SAW bersabda,
“Orang ini terburu-buru.”
Kemudian Nabi SAW mengundang orang itu, lalu ia atau orang lainnya dinasehati,
“Jika diantara kalian berdoa, maka harus diberi pujian kepada Allah Swt., membaca shalawat, lalu berdoalah sesuai dengan apa yang dikehendaki.”
(HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)
Apalagi jika bertepatan dengan hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat di dalamnya. Karena Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadits:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّ مِنْ اَفْضَلِ اَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَاَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَاِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ رواه ابو داود.
“Hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat di hari itu, karena shalawat kalian dihaturkan kepadaku.”
Ulama sepakat bahwa shalawat pasti diterima, karena dalam rangka memuliakan Rasulullah SAW Ada penyair yang berkata:
أَدِمِ الصَّلاَةَ عَلَى مُحَمَّدٍ # فَقَبُوْلُهَا حَتْمًا بِغَيْرِ تَرَدُّدٍ
أَعْمَالُنَا بَيْنَ الْقَبُوْلِ وَرَدِّهَا # اِلاَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ
“Senantiasalah membaca shalawat, sebab shalawat pasti diterima. Adapun amal yang lain mungkin saja diterima atau ditolak, kecuali shalawat pasti diterima.”
Shalawat Penghantar Ma’rifat
واعلموا أن العلماء إتفقوا على وجوب الصلة والسلام على النبي صلى الله عليه وسلم , ثم اختلفوا في تعيين الواجب فعند مالك تجب الصلوة والسلام في العمر مرة وعند الشافعي تجب في التشهد الأخير من كل فرض, وعند غيرهما تجب في كل مجلس مرة وقيل تجب عند ذكره وقيل بجب الإكثار منها من غير تقييد بعدد, وبالجملة فالصلاة على النبي أمرها عظيم وفضلها جسيم. وهي أفضل الطاعات وأجل القربات حتى قال بعض ال عارفين إنها توصل إلى الله تعالى من غير شيخ لأن الشيخ والسند فيها صاحبها ولاأنها تعرض عليه ويصلي على المصلي بخلاف غيرها من الأذكار فلا بد فبها من الشيخ الارف و لا دخلها الشيطان ولم ينتفع صاحبها بها.
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya para ulama telah sepakat atas diwajibkannya membaca shalawat dan salam untuk Baginda Nabi Muhammad SAW. Kemudian mereka berselisih pendapat mengenai kapan kewajiban ini harus dilakukan. Menurut Imam Malik, cukup satu kali dalam seumur hidup. Menurut Imam Syafi’i, wajib dibaca pada waktu tasyahud akhir dalam setiap shalat fardhu. Menurut ulama lainnya, wajib dibaca satu kali dalam setiap majelis. Ada juga ulama yang berpendapat wajib membaca shalawat setiap kali mendengar nama Nabi SAW disebut. Dan ada juga yang mengatakan untuk memperbanyak shalawat tanpa dibatasi bilangan tertentu. Secara umum, membaca shalawat kepada Nabi Saw. merupakan hal yang sangat agung dan keutamaannya sangat banyak.”
“Membaca shalawat merupakan bentuk ibadah yang paling utama dan paling besar pahalanya. Sampai-sampai sebagian kaum ‘arifin mengatakan:
“Sesungguhnya shalawat itu bisa mengantarkan pengamalnya untuk ma’rifat billah meskipun tanpa guru spiritual (mursyid). Karena guru dan sanadnya langsung melalui Nabi SAW.”
Ingat, setiap shalawat yang dibaca seseorang selalu diperlihatkan kepada Nabi SAW. dan beliau Nabi SAW membalasnya dengan doa serupa. Hal ini berbeda dengan dzikir-dzikir (selain shalawat) yang harus melalui guru spiritual (mursyid), yang sudah mencapai maqam ma’rifat. Jika tidak demikian maka akan dimasuki setan dan pengamalnya tidak akan mendapat manfaat apapun.”
(Hasiyah ash-Shawi ‘ala al-Jalalain juz 3 hlm. 287).
Abdurrahman bin Samrah meriwayatkan sebuah hadits yang dituturkan oleh Sa’id bin al-Musayyab, bahwa Nabi SAW bersabda,
“Kulihat seorang dari umatku berjalan di atas shirath, kadang merangkak-rangkak dan kadang bergelantung. Kemudian datanglah shalawat (yang diucapkannya dahulu ketika hidup di dunia) lalu membangunkannya hingga dapat berdiri dan berjalan dengan kakinya, lalu ia diselamatkan oleh shalawatnya.”
(HR. Abu Musa al-Madini dalam at-Targhib wa at-Tarhib, hadits hasan jiddan).
Wasiat-Nasehat Para Ulama tentang Shalawat
Imam Abul Hasan asy-Syadzilli pernah berkata,
“Di akhir zaman tidak ada amalan yang lebih baik daripada bershalawat kepada Rasulullah SAW.”
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan,
“Tidak tertolak shalawat atas Nabi SAW.”
Al-Hafidz asy-Syaraji berkata,
“Semua dzikir tidak diterima kecuali dengan khusyuk dan hadir hatinya kecuali shalawat, maka akan diterima meskipun tanpa khusyuk dan hadirnya hati. Karena itu Abul Hasan al-Bakri berpesan: “Seharusnya tiap hari seseorang jangan kurang membaca shalawat dari 500 kali.”
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berwasiat,
“Dengan membaca shalawat, seorang hamba dapat meraih keridhaan Allah Swt., memperoleh kebahagiaan dan restu Allah Swt., berkah-berkah yang dapat dipetik, doa-doa yang terkabulkan, bahkan dia bisa naik ke tingkatan derajat yang lebih tinggi, serta mampu mengobati penyakit hati dan diampuni dosa-dosa besarnya.”
Adapun Syaikh Ibn Athaillah as-Sakandari berkata,
“Siapa yang (merasa) tidak memiliki amalan shalat dan puasa yang banyak untuk menghadap Allah di hari kiamat, maka hendaknya ia perbanyak membaca shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW.”
Al-Quthb al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menyebutkan bahwasanya para ulama berkata,
“Satu shalawat dari Allah cukup untuk seorang hamba, dunia dan akhirat.”
As-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki pernah berpesan,
“Jangan tinggalkan membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Karena bacaan shalawat itu merupakan kunci segala kebaikan dan pintu segala keutamaan untuk agama, dunia dan akhirat.”
Al-Habib Umar bin Hafidz mengatakan,
“Sesungguhnya apabila engkau melakukan ketaatan kepada Allah seumur hidupmu, bahkan Allah berikan di atas umurmu adalah umurnya seluruh manusia untuk digunakan dalam ketaatan kepadaNya, maka sesungguhnya lebih hebat satu shalawat dari Allah Swt."
Muhasabah Diri dan Teruskan Berselawat.
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّم وبَارِك عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الفاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، والخاتِم لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الحقِّ بَالحَقِّ، والهادي إلى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ، صلَّى اللهُ علَيهِ وعَلَى آلِهِ وصحبِهِ، حَقَّ قَدْرِهِ ومِقْدَارِهِ العَظِيم.."