Ahmad Rifaie Al Ahmadi Idrisi: May 2011

Search This Blog

Sifat 20

.
Bermula Mu’alim hamba [Buya Abdul Karim bin Muhammad Nur – Kerinci Indonesia] menyusun sebuah kitab yang menjadi pegangan seluruh murid beliau yang ditulis menggunakan huruf jawi (Arab Melayu), mudah-mudahan Allah meredhai dan mengizinkan hamba mengutarakannya dalam forum ini tanpa melanggar adab.

Bismillahirrahmanirrahiim…

Adapun Mubadi ilmu tauhid itu sepuluh perkara:

1. Nama ilmu ini yaitu ilmu Tauhid, ilmu Kalam, ilmu Sifat, ilmu Ussuluddin, ilmu ‘Aqidul Iman

2. Tempat ambilannya : yaitu diterbitkan daripada Qur’an dan Hadits

3. Kandungannya yaitu mengandung pengetahuan dari hal membahas ketetapan pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-rasulNya, daripada beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperoleh I’tikad yang yakin (kepercayaan yang putus/Jazam sekira-kira menaikkan perasaan/Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.

4. Tempat bahasannya atau Maudu’nya kepada empat tempat:

a. Pada Zat Allah Ta’ala dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padaNya dan sifat-sifat yang harus padaNya.

b. Pada zat rasul-rasul dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padanya dan sifat-sifat yang harus padanya

c. Pada segala kejadian dari segi jirim dan jisim dan aradh sekira-kira keadaannya itu jadi petunjuknya dan dalil bagi wujud yang menjadikan dia

d. Pada segala pegangan dan kepercayaan dengan kenyataan yang didengar daripada perkhabaran rasul-rasul Allah seperti hal-hal surga dan neraka dan hari kiamat

5. Faedah ilmu ini yaitu dapat mengenal Tuhan dan percaya akan rasul dan mendapat kebahagian hidup didunia dan hidup di akhirat yang kekal.

6. Nisbah ilmu ini dengan lain-lain ilmu, yaitu ilmu ini ialah ilmu yang terbangsa kepada agama islam dan yang paling utama sekali dalam agama islam.

7. Orang yang menghantarkan ilmu ini atau mengeluarkannya yaitu, yang pertama mereka yang menghantarkan titisan ilmu tauhid dengan mendirikan dalilnya untuk menolak perkataan meraka yang menyalahi ialah dari pada ulama-ulama yang mashur yaitu Imam Abu Al hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur At Maturidi tetapi mereka pertama yang menerima ilmu tauhid daripada Allah Ta’ala ialah nabi Adam alaihissalam, dan yang akhir sekali Nabi Muhammad SAW.

8. Hukumnya, yaitu fardhu ‘ain bagi tiap-tiap orang yang mukallaf laki-laki atau perempuan mengetahui sifat-sifat yang wajib, yang mustahil dan yang harus pada Allah Ta’ala dengan jalan Ijmal atau ringkasan begitu juga bagi rasul-rasul Allah dan dengan jalan tafsil atau uraian

9. Kelebihannya yaitu semulia-mulia dan setinggi-tinggi ilmu daripada ilmu yang lain-lain, karena menurut haditsnya nabi: Inallahata’ala lam yafrid syai’an afdola minattauhid wasshalati walaukana syai’an afdola mintu laf tarodohu ‘ala malaikatihi minhum raakitu wa minhum sajidu, artinya, Tuhan tidak memfardukan sesuatu yang terlebih afdhol daripada mengEsakan Tuhan. Jika ada sesuatu terlebih afdhol daripadanya niscaya tetaplah telah difardhukan kepada malaikatnya padahal setengah daripada malaikatnya itu ada yang ruku’ selamanya dan setengah ada yang sujud selamanya dan juga ilmu tauhid ini jadi asal bagi segala ilmu yang lain yang wajib diketahui dan lagi karena mulia , yaitu Zat Tuhan dan rasul dan dari itu maka jadilah maudu’nya semulia-mulia ilmu dalam agama islam.

10. Kesudahan ilmu ini yaitu dapat membedakan antara I’tikad dan kepercayaan syah dengan yang batil dan dapat pula membedakan antara yang menjadikan dengan yang dijadikan atau antara yang Qadim dengan yang muhadasNya

Ilmu Tauhid

Adapun pendahuluan masuk pada menjalankan ilmu tauhid itu berhimpun atas tiga perkara:

1. Khawas yang lima yaitu, Pendengar, Penglihat, Pencium, Perasa lidah dan Penjabat

2. Khabar Mutawatir, yaitu khabar yang turun menurun. Adapun khabar mutawatir itu dua bahagi:

a. Khabar Mutawatir yang datang daripada lidah orang banyak

b. Khabar Mutawatir yang datang daripada lidah rasul-rasul

3. Kandungannya yaitu mengandung pengetahuan dari hal membahas ketetapan pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-rasulNya, daripada beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperoleh I’tikad yang yakin (kepercayaan yang putus/Jazam sekira-kira menaikkan perasaan/Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Aqal

Adapun ‘Aqal itu dua bahagi :

1. ‘Aqal Nazori, yaitu aqal yang berkehendak kepada fikir dan keterangan.

2. ‘Aqal Doruri, yaitu aqal yang tiada berkehendak kepada fikir dan keterangan.

Adapun Hukum ‘Aqal itu tiga bahagi:

1. Wajib ‘Aqal, yaitu barang yang tiada diterima oleh aqal akan tiadanya maka wajib adanya (Zat, Sifat dan Af’al Allah)

2. Mustahil ‘Aqal, yaitu barang yang tiada diterima oleh aqal akan adanya maka mustahil adanya (Segala kebalikan daripada sifat yang wajib, sekutu)

3. Harus ‘Aqal, yaitu barang yang diterima oleh akal akan adanya atau tiadanya (Alam dan segala isinya yang baharu/diciptakan)

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Mumkinun (Baharu Alam)

Adapun yang wajib bagi ‘Alam mengandung empat perkara:

1. Jirim, yaitu barang yang beku bersamaan luar dan dalam seperti, batu, kayu, besi dan tembaga

2. Jisim, yaitu barang yang hidup memakai nyawa tiada bersamaan luar dalam seperti manusia dan binatang

3. Jauhar Farad, barang yang tiada boleh dibelah-belah atau dibagi-bagi seperti asap, abu dan kuman yang halus-halus

4. Jauhar Latief, yaitu Jisim yang halus seperti ruh, malaikat, jin, syaiton dan nur

Wajib bagi Jirim, Jisim, Jauhar Farad dan Jauhar Latief bersifat dengan empat sifat:

1. Tempat, maka wajib baginya memakai tempat seperti kiri atau kanan, atas atau bawah, hadapan atau belakang

2. Jihat, maka wajib baginya memakai jihat seperti utara atau selatan, barat atau timur, jauh atau dekat

3. Berhimpun atau bercerai

4. Memakai ‘arad, yaitu gerak atau diam, besar atau kecil, panjang atau pendek dan memakai rasa seperti manis atau masam, masam atau tawar dan memakai warna-warna seperti hitam atau putih, merah atau hijau dan memakai bau-bauan seperti harum atau busuk

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Hukum Adat Thobi’at

Adapun yang wajib bagi hukum adat Thobi’at yang dilakukan didalam dunia ini sahaja, seperti makan, apabila makan maka wajib kenyang sekedar yang dimakan begitu juga api apabila bersentuh dengan kayu yang kering maka wajib terbakar, dan pada benda yang tajam yang apabila dipotongkan maka wajib putus atau luka.

Dan begitu juga pada air apabila diminum maka wajib hilang dahaga sekedar yang diminum. Adapun yang mustahil pada adat Thobi’at itu tiada sekali-kali seperti makan tiada kenyang, minum tiada hilang dahaga, dipotong dengan benda yang tajam tiada putus atau luka dan dimasukkan didalam api tiada terbakar. Akan tetapi yang mustahil pada adat itu sudah berlaku pada nabi Ibrahim as di dalam api tiada terbakar dan pada nabi Isma’il as dipotong dengan pisau yang tajam diada putus atau luka .

Adapun yang mustahil pada adat itu jika berlaku pada rasul-rasul dinamakan Mu’jizat, jika berlaku pada nabi-nabi dinamakan Irhas, jika pada wali-wali dinamakan Karamah, dan jika pada orang yang ta’at dinamakan Ma’unah dan jika berlaku pada orang kafir atau orang fasik yaitu ada empat macam:

1. dinamakan Istidraj pada Johirnya bagus dan hakikat menyalahi

2. dinamakan Kahanah yaitu pada tukang tenung

3. dinamakan Sa’uzah yaitu pada tukang sulap mata

4. dinamakan Sihir yaitu pada tukang sihir

Mohon ampunan dan RedhaMu yaa Allah,…

Itulah yang telah terdahulu banyak hamba ungkapkan (terlanjur) di topik-topik yang ada dalam BSC ini, untuk selanjutnya hamba, Insya Allah, akan memohon izin dahulu kepada Mu’alim hamba, sebab ada beberapa huraian penting yang hamba wajib meminta izin dahulu pada beliau, diantaranya: Hukum Syara’, Hakikat Makrifat beserta huraian dalil bagi Sifat-Sifat yang wajib bagi ‘aqal tentang keTuhanan:

-Sifat Nafsiyah

-Sifat Salbiyah

-Sifat Ma’ani

-Sifat Ma’nawiyah

lalu dibahagi menjadi dua bahagi:

-Sifat Istighna (28 Aqa’id)

-Sifat Iftikhor (22 Aqa’id)

yang menghasilkan faham hakikat nafi mengandung isbat, isbat mengandung nafi (50 Aqa’id), lalu berlanjut pada huraian Sifat-sifat bagi Rasul, ditambah empat perkara rukun iman (18 Aqa’id), menghasilkan penjelasan aqa’idul iman yang 5 (lima jenis), aqa’idul iman 50, aqa’idul iman 60, aqa’idul iman 64, aqa’idul iman 66 dan aqa’idul iman 68.

Baharulah disimpulkan menjadi 4 rukun Syahadat dan adab-adabnya, serta menjelaskan penjelasan zikir, serta makna asma ALLAH

InsyaAllah….

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

MA’RIFAT

Adapun hakikat Ma’rifat itu berhimpun atas tiga perkara:

1. ‘Itikad Jazam, yaitu ‘Itikad yang putus tiada syak, dzon dan waham

2. Muwafikulilhaq, yaitu Muafakat dengan yang sebenarnya mengikut Al Qur’an dan Hadits

3. Mu’addalil yaitu beserta dalil

Adapun Dalil itu dua bahagi:

1. Dalil naqal (naqli), yaitu Al Qur’an dan Hadits.

2. Dalil aqal (aqli), yaitu aqal kita

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Adapun dalil wujud Allah Ta’ala pada orang awam yaitu Baharu alam seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an : Allahu khaliqu kullu syai’in, artinya: Allah Ta’ala yang menjadikan tiap-tiap sesuatu

Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawas :

1. ‘Itikat jazam, tiada syak, dzon dan waham

2. Muwafakat ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan Ilham Ilahi

3. Dalil pada dirinya, seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an: wa fii amfusikum afala tubsiruun, artinya: pada diri kamu tiadakah kamu lihat, dan juga Hadits Rasullullah, Man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, artinya barang siapa mengenal dirinya bahwasanya mengenal Tuhannya.

Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawasul khawas:

1. I’tikad jazam, tiada sak, dzon dan waham

2. Muwafakat Ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan kasaf Ilahi terkaya ia daripada dalil yakni tiada berkehendak lagi kepada dalil (Aqal dhoruri) terus ia ma’rifat kepada Allah Ta’ala.

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Adapun Ma’rifat itu tiga martabat:

1. Ilmul yaqin, yaitu segala Ulama

2. ‘Ainul yaqin, yaitu segala Aulia

3. Haqqul yaqin, yaitu segala Anbiya

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

SIFAT-SIFAT KETUHANAN

Adapun yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat:

1. Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud

2. Sifat Salbiyah yaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniat

3. Sifat Ma’ani, yaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam

4. Sifat Ma’nawiyah, yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun

Dibahagi lagi menjadi dua sifat (Pendekatan secara nafi dan isbat)

1. Sifat Istighna’ yaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhu binafsihi, Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttaqallimun

2. Sifat Iftikor, yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun dan Wahdaniah

SIFAT-SIFAT KETUHANAN

Adapun yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat:

1. Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud

2. Sifat Salbiyah yaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniat

3. Sifat Ma’ani, yaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam

4. Sifat Ma’nawiyah, yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun

Dibahagi lagi menjadi dua sifat (Pendekatan secara nafi dan isbat)

1. Sifat Istighna’ yaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhu binafsihi, Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttaqallimun

2. Sifat Iftikor, yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun dan Wahdaniah

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Bahagian I: Sifat Nafsiyah:

Wujud, artinya ada, yang ada itu dzat Allah Ta’ala, lawannya ‘Adum, artinya tiada yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada karena jikalau Allah Ta’ala itu tiada niscaya tiadalah perobahan pada alam ini. Alam ini jadilah statis (tak ada masa, rasa dll), dan tiadalah diterima ‘aqal jika semua itu (perobahan) terjadi dengan sendirinya.

Jikalau alam ini jadi dengan sendirinya niscaya jadilah bersamaan pada suatu pekerjaan atau berat salah satu maka sekarang alam ini telah nyata adanya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini dan teratur tersusun segala pekerjaannya maka menerimalah aqal kita wajib adanya Allah Ta’ala dan mustahil lawannya tiada. Adapun dalilnya yaitu firmannya dalam Al Qur’an:

Allahu kholiqu kullu syai’in

artinya, Allah Ta’ala jualah yang menjadikan tiap-tiap sesuatu.

Adapun Wujud itu sifat Nafsiyah ada itulah dirinya hak Ta’ala. Adapun ta’rif sifat nafsiyah itu: Hiya huwa wala hiya ghoiruku, artinya, sifat inilah dzat hak Ta’ala, tiada ia lain daripadanya yakni sifat pada lafadz dzat pada makna

Adapun Hakikat sifat nafsiyah itu : Hiya lhalul wajibatu lizzati maadaamati azzatu ghoiru mu’alalahi bi’illati, artinya: hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu tiada dikarenakan dengan suatu karena yakni adanya yaitu tiada karena jadi oleh sesuatu dan tiada Ia terjadi dengan sendirinya dan tiada Ia menjadikan dirinya sendiri dan tiada Ia berjadi-jadian.

Adapun Wujud itu dikatakan sifat Nafsiyah karena wujud menunjukkan sebenar-benar dirinya dzat tiada lainnya dan tiada boleh dipisahkan wujud itu lain daripada dzat seperti sifat yang lain-lain.

Adapun Wujud itu tiga bahagi:

1. Wujud Haqiqi, yaitu dzat Allah Ta’ala maka wujud-Nya itu tiada permulaan dan tiada kesudahan maka wujud itu bersifat Qadimdan Baqa’, inilah wujud sebenarnya

2. Wujud Mujazi, yaitu dzat segala makhluk maka wujudnya itu ada permulaan dan ada kesudahan tiada bersifat Qadim dan Baqa’, sebab wujudnya itu dinamakan wujud Mujazi karena wujudnya itu bersandarkan Qudrat Iradat Allah Ta’ala

3. Wujud ‘Ardy, yaitu dzat ‘Arodul wujud maka wujudnya itu ada permulaan dan tiada kesudahan seperti ruh, syurga, neraka, Arasy, Kursi dan lain-lain

Adapun yang Mawujud selain Allah Ta’ala dua bahagi

1. Mawujud dalam ‘alam sahadah, yaitu yang di dapat dengan khawas yang lima seperti langit, bumi, kayu, manusia, binatang dan lain-lain

2. Mawujud didalam ‘alam ghaib yang tiada didapat dengan khawas yang lima tetapi didapat dengan nur iman dan Kasaf kepada siapa-siapa yang dikaruniakan Allah Ta’ala seperti Malaikat, Jin, Syaitan, Nur dan lain-lain.

Adapun segala yang Mawujud itu lima bahagi:

1. Mawujud pada Zihin yaitu ada pada ‘aqal

2. Mawujud pada Kharij yaitu ada kenyataan bekas

3. Mawujud pada Khayal yaitu seperti bayang-bayang dalam air atau yang didalam mimpi

4. Mawujud pada Dalil yaitu ada pada dalil seperti asap tanda ada api

5. Mawujud pada Ma’rifat yaitu dengan pengenalan yang putus tiada dapat diselingi lagi terus Ia Ma’rifat kepada Allah Ta’ala

Membicarakan Wujud-Nya dengan jalan dalil:

1. Dalil yang didapat dari Khawas yang lima tiada dapat didustakan

2. Dalil yang didapat dari Khabar Mutawatir tiada dapat didustakan

3. Dalil yang didapat daripada ‘Aqal tiada dapat didustakan

4. Dalil yang didapat daripada Rasulullah tiada dapat didustakan

5. Dalil yang didapat daripada firman Allah Ta’ala tiada dapat didustakan

SIFAT-SIFAT KETUHANAN

Adapun yang wajib bagi Ketuhanan itu bersifat dengan empat sifat:

1. Sifat Nafsiyah, yaitu Wujud

2. Sifat Salbiyah yaitu, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniat

3. Sifat Ma’ani, yaitu, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sami’, Bashir dan Kalam

4. Sifat Ma’nawiyah, yaitu Qadirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun, Sami’un, Bashirrun dan Muttaqalimuun

Dibahagi lagi menjadi dua sifat (Pendekatan secara nafi dan isbat)

1. Sifat Istighna’ yaitu, Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatuhulilkhawadits, Qiyamuhu binafsihi, Sami’, Bashir, Kalam, Sami’un, Bashirun dan Muttaqallimun

2. Sifat Iftikor, yaitu Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Kodirun, Muridun, ‘Alimun, Hayyun dan Wahdaniah

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

Bahagian II: Sifat Salbiyah

Adapun hakikat sifat Salbiyah itu: wahiya dallat ‘alallafiy maalaa khaliyqu billahi ‘aza wajalla, artinya barang yang menunjukkan atas menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala yaitu lima sifat:

1. QIDAM, artinya Sedia

2. BAQA’ artinya Kekal,

3. MUKHALAFATUHULILKHAWADITS artinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.

4. QIYAMUHU BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendiriNya.

5. WAHDANIAH, artinya Esa

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

1. QIDAM, artinya Sedia

Adapun hakikat Qidam ibarat dari menafikan ada permulaan bagi Wujud-Nya yakni tiada permulaan, lawannya Hudusy artinya baharu yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia baharu karena jikalau Ia baharu niscaya jadilah Wujud-Nya itu wujud yang harus, tiadalah Ia wajibal wujud maka sekarang telah terdahulu wajibal wujud baginya maka menerimalah aqal kita wajib baginya bersifat Qadim dan mustahil lawannya baharu , adapun dalilnya firmannya dalam Al Qur’an: huwal awwalu, artinya Ia juga yang awal.

Adapun Qadim nisbah pada nama empat perkara:

a. Qadim Haqiqi, yaitu dzat Allah Ta’ala

b. Qadim Sifati, yaitu sifat Allat Ta’ala

c. Qadim Idofi, yaitu Qadim yang bersandar seperti dahulu bapa daripada anak

d. Qadim Zamani, yaitu masa yang telah lalu sekurang-kurangnnya setahun

2. BAQA’ artinya Kekal

Adapun hakikat Baqa’ itu ibarat menafikan ada kesudahan bagi Wujud-Nya, yakni tiada kesudahan, lawannya Fana’ artinya binasa yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia binasa, jikalau Ia binasa jadilah Wujud-Nya itu wujud yang baharu, apabila Ia baharu tiadalah Ia bersifat Qadim maka sekarang telah terdahulu bagi-Nya wajib bersifat Qadim maka menerimalah aqal kita wajib bagi-Nya bersifat Baqa dan mustahil lawannya binasa, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wayabqo wajhu robbikauzuljalali wal ikrom, artinya kekal dzat Tuhan kamu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.

Adapun yang Kekal itu dua bahagi:

a. Kekal Haqiqi, yaitu dzat dan sifat Allah Ta’ala

b. Kekal Ardy, yaitu kekal yang dikekalkan, menerima hukum binasa jikalau dibinasakan Allah Ta’ala, karena ia sebahagian daripada mumkinun, tetapi tiada dibinasakan maka kekallah ia, maka kekalnya itu dinamakan kekal ‘Ardy, seperti ruh, arasy, kursi, kalam, lauh mahfudh, surga, neraka, bidadari dan telaga nabi.

3. MUKHALAFATUHULILKHAWADITSI artinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu

Adapun Hakikat Mukhalafatuhulilhawadits itu diibaratkan menafikan dzat dan sifat dan af’al Allah Ta’ala dengan segala sesuatu yang baharu, yakni tiada bersamaan dengan segala yang baharu, lawannya Mumassalatuhulilhawadits, artinya bersamaan dengan segala sesuatu yang baharu. Tiada diterima oleh aqal dikatakan Allah Ta’ala itu bersamaan dzat-Nya dan sifat-Nya dan af’al-Nya dengan segala yang baharu, karena jikalau bersamaan dengan segala yang baharu maka tiadalah Ia bersifat Qadim dan Baqa’, sebab segala yang baharu menerima hukum binasa, maka sekarang telah terdahulu wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Qadim dan Baqa’, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat mukhalafatuhulilhawadits, dan mustahil lawannya Mumasalatu lilhawadits, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an:

laisa kamislihi syaiin wa huwassami’ul bashir, artinya tiada seumpama Allah Ta’ala dengan segala sesuatu dan Ia mendengar dan melihat.

Adapun bersalahan dzat Allah Ta’ala dengan dzat yang baharu karena dzat Allah Ta’ala bukan jirim atau jisim dan bukan jauhar atau ‘aradh dan tiada dijadikan, tiada bertempat, tiada berjihat, tiada bermasa atau dikandung masa dan tiada beranak atau diperanakkan.

Bersalahan sifat Allah Ta’ala dengan sifat yang baharu karena sifat Allah Ta’ala Qadim dan ‘Aum takluknya, seperti Sami’ Allah Ta’ala takluk pada segala yang mawujud.

Adapun sifat yang baharu itu tiada ia Qadim dan tiada ‘Aum takluknya, tetapi takluk pada setengah perkara jua seperti yang baharu mendengar ia pada yang berhuruf dan bersuara dan yang tiada berhuruf dan bersuara tiada ia mendengar atau yang jauh atau yang tersembunyi seperti gerak-gerak yang dalam hati dan begitu jua sifat-sifat yang lain tiada serupa dengan sifat Allah Ta’ala.

Adapun bersalahan perbuatan Allah Ta’ala dengan perbuatan yang baharu karena perbuatan Allah Ta’ala itu memberi bekas dan tiada dengan alat perkakas dan tiada dengan minta tolong dan tiada mengambil faedah dan tiada yang sia-sia.

Adapun perbuatan yang baharu tiada memberi bekas dan dengan alat perkakas atau dengan minta tolong dan mengambil faedah.

4. QIYAMUHU BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya

Adapun hakikat Qiyamuhu binafsihi itu ibarat daripada menafikan berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia, yakni tiada berkehendak kepada tempat berdiri dan tiada berkehendak kepada yang menjadikannya.

Mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan tiada berdiri dengan sendiriNya, karena Ia zat bukan sifat, jikalau Ia sifat, maka berkehendak kepada tempat berdiri karena sifat itu tiada boleh berdiri dengan sendirinya.

Dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Ia karena Ia Qadim, jikalau berkehendak Ia kepada yang menjadikan Dia, maka jadilah Ia baharu, apabila ia baharu tiadalah ia bersifat Qadim dan Baqa’ dan Mukhalafatuhulilhawadits.

Maka sekarang menerimalah aqal kita, wajib diterima oleh aqal, bagi Allah Ta’ala itu bersifat Qiyamuhubinafsihi dan mustahil lawannya An-laayakuunu ko’imambinafsihi, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Innallaha laghniyyun ‘anil ‘alamiin, artinya Allah Ta’ala itu terkaya daripada sekalian alam.

Adapun segala yang Mawujud menurut berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia itu empat bahagi:

a. Tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia dan tiada berkehendak kepada tempat berdiri, yaitu zat Allah Ta’ala

b. Berdiri pada zat Allah Ta’ala dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia, yaitu sifat Allah Ta’ala

c. Tiada berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala jirim yang baharu

d. Berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala ‘aradh yang baharu

5. WAHDANIAH, artinya Esa

Adapun hakikat Wahdaniah itu ibarat menafikan kammuttasil (berbilang-bilang atau bersusun-susun atau berhubung-hubung) dan kammumfasil (bercerai-cerai banyak yang serupa) pada zat, pada sifat, dan pada af’al.

Lawannya An-yakunu wahidan, artinya tiada ia esa. Mustahil tiada diterima oleh akal sekali-kali dikatakan tiada Ia Esa, karena jikalau tiada Ia Esa tiadalah ada alam ini karena banyak yang memberi bekas.

Seperti dikatakan ada dua atau tiga tuhan, kata tuhan yang satu keluarkan matahari dari barat, dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari timur, dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari utara atau selatan, karena tiga yang memberi bekas. Tentu kalau tuhan yang satu itu mengeluarkan matahari itu dengan sekehendakknya umpamanya disebelah barat, tentu pula tuhan yang lain meniadakkannya dan mengadakan lagi menurut kehendaknya umpamanya disebelah timur atau utara atau selatan, karena tiga-tiga tuhan itu berkuasa mengadakan dan meniadakan maka kesudahannya matahari itu tiada keluar.

Maka sekarang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana keadaan atau perjalanan didalam alam ini semuanya teratur dengan baiknya maka menerimalah aqal kita wajib diterima aqal Wahdaniah bagi Allah Ta’ala dan mustahil lawannya berbilang-bilang atau bercerai-cerai.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Qul huwallahu ahad, artinya katakanlah oleh mu (Muhammad) Allah Ta’ala itu Esa, yakni Esa zat dan Esa sifat dan Esa Af’al.

Adapun Wahdaniah pada zat menafikan dua perkara:

a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun seperti dikatakan zat Allah Ta’ala itu berdarah, berdaging dan bertulang urat, atau dikatakan zat Allah Ta’ala itu kejadian daripada anasir yang empat.

b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa, umpama dikatakan ada zat yang lain seperti zat Allah Ta’ala yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

Maka Kammuttasil dan Kammumfasil itulah yang hendak kita nafikan pada zat Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua perkara ini maka barulah dikatakan Ahadiyyatuzzat, yakni Esa dzat Allah Ta’ala.

Adapun Wahdaniah pada sifat menafikan dua perkara:

a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun sifat, seperti dikatakan ada pada Allah Ta’ala dua Qudrat atau dua Ilmu atau dua Sami’ yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa seperti dikatakan ada Qudrat yang lain atau Ilmu yang lain seperti Qudrat dan Ilmu Allah Ta’ala.

Maka Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada sifat Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua itu maka baharulah dikatakan Ahadiyyatussifat, yakni Esa sifat Allah Ta’ala.

Adapun Wahdaniah pada af’al menafikan dua perkara:

a. Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berhubung atau minta tolong memperbuat suatu perbuatan, seperti dikatakan Allah Ta’ala jadikan kuat pada nasi mengenyangkan dan kuat pada air menghilangkan dahaga dan kuat pada api membakar dan kuat pada tajam memutuskan yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

b. Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak perbuatan yang memberi bekas, seperti dikatakan ada perbuatan yang lain memberi bekas seperti perbuatan Allah Ta’ala, yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu.

Maka Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan pada af’al Allah Ta’ala, apabila sudah kita nafikan yang dua ini maka baharulah kita dikatakan Ahadiyyatull af’al, yakni Esa perbuatan Allah Ta’ala.

Bahagian III: Sifat Ma’ani

Adapun hakikat sifat Ma’ani itu: wahiya kullu sifatu maujudatun qo’imatun bimaujuudatun aujabat lahu hukman, artinya tiap-tiap sifat yang berdiri pada yang maujud (wajibalwujud / zat Allah Ta’ala) maka mewajibkan suatu hukum (yaitu Ma’nawiyah)

Sifat Ma’ani ini maujud pada zihin dan maujud pula pada kharij, ada tujuh perkara:

1. QUDRAT artinya Kuasa, Takluk pada segala mumkinun

2. IRADAT artinya Menentukan, takluk pada segala mumkinun

3. ILMU artinya Mengetahui, takluk pada segala yang wajib, mustahil dan ja’iz bagi aqal.

4. HAYAT artinya Hidup, tiada takluk, tetapi syarat bagi aqal kita menerima adanya sifat-sifat yang lain.

5. SAMA’ artinya Mendengar, takluk pada segala yang maujud.

6. BASYAR artinya Melihat, takluk pada segala yang maujud.

7. KALAM artinya Berkata-kata

~~~~~~~ oOo ~~~~~~~

1. Qudrat artinya Kuasa

Adapun hakikat Qudrat itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia mengadakan dan meniadakan bagi segala mumkin muafakat dengan Iradat-Nya. Adapun arti mumkin itu barang yang harus adanya atau tiadanya

Adapun mumkin itu empat bahagi:

a. Mumkin Maujuud ba’dal ‘adum, yaitu mumkin yang pada masa sekarang, dahulu tiada, seperti: langit, bumi dan kita semuanya.

b. Mumkin Ma’dum ba’dal wujud, yaitu mumkin yang tiada pada masa sekarang ini dahulunya ada, seperti: nabi Adam as, dan datok-datok nenek kita yang sudah tiada.

c. Mumkin sayuzad, yaitu mumkin yang akan datang seperti hari kiamat, syurga dan neraka.

d. Mumkin Ilmu Allah annahu lamyujad, yaitu mumkin yang didalam Ilmu Allah Ta’ala, tetapi tiada dijadikan seperti hujan emas, Air laut rasanya manis, dan banyak yang lain lagi.

Lawannya ‘Ujdzun artinya lemah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu lemah, karena jikalau Ia lemah niscaya tiadalah ada alam ini karena yang lemah itu tiada dapat memperbuat suatu perbuatan. Maka sekarang alam ini telah nyata adanya bagaimana yang kita lihat sekarang ini, maka menerimalah aqal kita wajib diterima aqal, bagi-Nya bersifat Qudrat dan mustahil lawannya ‘Ujdzun.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu ‘ala kulli sai’in-qodir, artinya Allah Ta’ala itu berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.

Tetaplah dalam Hakikat Qudrat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Qudrat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan lemah.

* Qudrat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan lemah.

* Qudrat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.

* Qudrat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.

* Qudrat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

2. Iradat artinya Menentukan

Adapun hakikat Iradat itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala maka dengan Dia menentukan sekalian mumkin adanya atau tiadanya,muafakat dengan Ilmu-Nya.

Adapun Iradat Allah Ta’ala menentukan enam perkara:

a. Menentukan mumkin itu Ada atau tiadanya

b. Menentukan Tempat mumkin itu

c. Menentukan Jihat mumkin itu

d. Menentukan Sifat mumkin itu

e. Menentukan Qadar mumkin itu

f. Menentukan Masa mumkin itu

Lawannya Karahat artinya tiada menentukan atau tiada berkehendak, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada menentukan atau tiada berkehendak, karena jikalau tiada Ia menentukan atau tiada Ia berkehendak mengadakan alam ini atau meniadakan alam ini niscaya tiadalah baharu (Berubah) alam ini maka sekarang alam ini telah nyata adanya perubahan, ada siang ada malam, ada yang datang ada yang pergi, seperti yang telah kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Iradat dan mustahil lawannya Karahat.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: fa’allu limaa yuriy d’, artinya berbuat Allah Ta’ala dengan barang yang ditentukan-Nya.

Adapun Iradat dengan amar dan nahi itu tiada berlazim karena:

Ada kalanya disuruh tetapi tiada dikehendaki seperti Abu jahal, Abu lahab dan segala pengikutnya.

Ada kalanya disuruh dan dikehendaki seperti Abu Baqa’r dan segala sahabat yang lain.

Ada kalanya tiada disuruh dan tiada dikehendaki seperti kafir yang banyak.

Adakalanya tiada disuruh tetapi dikehendaki seperti mengerjakan yang haram dan makruh seperti Nabi Adam as dan Hawa.

Tetaplah dalam Hakikat Iradat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Iradat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan Karahat.

* Iradat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan Karahat.

* Iradat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.

* Iradat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu, dan tiada mengambil faedah.

* Iradat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

3. Ilmu artinya Mengetahui

Adapun hakikat Ilmu itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala maka dengan Dia Mengetahui pada yang wajib, pada yang mustahil, dan pada yang harus.

Adapun yang wajib itu zat dan sifatNya, maka mengetahui Ia zatNya dan sifatNya yang Kamalat.

Adapun yang mustahil itu yaitu yang menyekutui ketuhanannya atau yang kekurangan baginya maka mengetahui Ia tiada yang menyekutui bagi ketuhanan-Nya dan yang kekurangan pada-Nya.

Adapun yang harus itu sekalian alam ini maka mengetahui Ia segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi dan tiada terdinding yang dalam Ilmu-Nya sebesar jarah jua pun, semuanya diketahui-Nya dengan Ilmu-Nya yang Qadim

Lawannya Jahil, artinya bodoh, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia Jahil atau bodoh karena jikalau ia Jahil atau bodoh niscaya tiadalah teratur atau tersusun segala pekerjaan didalam alam ini maka sekarang alam ini telah teratur dan tersusun dengan baiknya, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Ilmu dan mustahil lawannya Jahil atau bodoh.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu bikulli syai’in ‘alimun, artinya Allah Ta’ala mengetahui tiap-tiap sesuatu.

Tetaplah dalam Hakikat Ilmu itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Ilmu Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan jahil.

* Ilmu Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan jahil.

* Ilmu Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.

* Ilmu Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.

* Ilmu Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

4. Hayat artinya Hidup

Adapun hakikat Hayat itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia zohirlah sifat yang lain-lain.

Lawannya maut artinya mati, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia mati karena jikalau Ia mati niscaya tiadalah ada sifat yang lain seperti Qudrat, Iradat dan Ilmu maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat hayat dan mustahil lawannya maut.

Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: huwal hayyuladzii laa yamuut, artinya Dia yang Hidup yang tiada mati.

Tetaplah dalam Hakikat Hayat itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Hayat Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan maut.

* Hayat Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan maut.

* Hayat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal.

* Hayat Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.

* Hayat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain)

5. Sami’ artinya Mendengar

Adapun hakikat Sami’ itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia mendengar segala yang mawujud sama ada yang mawujud itu Qadim atau Muhadas.

Adapun mawujud yang Qadim yaitu dzat dan Sifat-Nya, maka mendengar Ia akan Kalam-Nya yang tiada berhuruf dan bersuara, dan yang muhadas yaitu sekalian alam ini maka mendengar Ia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi, maka tiada terdinding pendengarannya oleh sebab jauh atau tersembunyi.

Lawannya Sumum, artinya pekak atau tuli yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia pekak atau tuli karena jikalau Ia pekak atau tuli niscaya tiadalah dapat Ia memperkenankan seruan makhluk-Nya padahal Menyuruh Ia kepada sekalian makhluk-Nya dengan meminta seperti firman-Nya dalam Al Qur’an: ud’uunii astajib lakum, artinya mintalah olehmu kepadaKu niscaya Aku perkenankan.

Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Sami’ dan mustahil lawannya Sumum, pekak atau tuli, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu sami’un ‘alimun, artinya Allah Ta’ala itu yang mendengar dan yang mengetahui .

Tetaplah dalam Hakikat Sami’ itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Sami’ Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan pekak.

* Sami’ Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan pekak.

* Sami’ Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.

* Sami’ Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.

* Sami’ Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

6. Bashir artinya Melihat

Adapun hakikat Bashir itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia melihat segala yang mawujud sama ada yang mawujud itu Qadim atau muhadas.

Adapun mawujud yang Qadim itu dzat dan sifat-Nya, maka melihat Ia akan dzat-Nya yang tiada berupa dan berwarna dan sifat-Nya yang kamalat.

Adapun mawujud yang muhadas itu sekalian alam ini maka melihat Ia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini, segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang lagi akan diadakan.

Tiada terdinding yang pada penglihatan-Nya oleh sebab jauh atau sangat halusnya atau sangat kelamnya.

Lawannya ‘Umyun, artinya buta, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia buta karena jikalau Ia buta maka jadilah Ia kekurangan. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Taa’la itu bersifat Bashir dan mustahil lawannya ‘Umyun atau buta

Adapun dalilnya firman-Nya dalam AlQur’an: wallahu bashirun bimaa ta’maluun, artinya Allah Ta’ala itu melihat apa yang kamu kerjakan.

Tetaplah dalam Hakikat Bashir itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Bashir Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan buta.

* Bashir Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan buta.

* Bashir Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, dan tiada terdinding.

* Bashir Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.

* Bashir Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

7. Kalam artinya Berkata-kata

Adapun hakikat Kalam itu satu sifat yang Qadim lagi azali yang sabit berdiri pada zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia berkata-kata pada yang wajib seperti firman-Nya: fa’lam annahu laailahaillalah, artinya ketahui oleh mu bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah, dan berkata-kata pada yang mustahil dengan firman-Nya: laukana fiyhima alihatun illallah lafasadatu, artinya jikalau ada tuhan yang lain selain daripada Allah maka binasalah segala-galanya. dan berkata pada yang harus dengan firman-Nya: wallahu holaqokum wamaa ta’maluun, artinya Allah Ta’ala jua Yang menjadikan kamu dan barang perbuatan kamu.

Lawannya Bukmum, artinya kelu atau bisu yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Ia bisu atau kelu karena jikalau Ia bisu atau Kelu tiadalah dapat Ia menyuruh atau mencegah dan menceritakan segala perkara seperti hari kiamat, syurga, neraka dan lain-lain. Maka sekarang suruh dan cegah itu ada pada kita seperti suruh kita sembahyang dan cegah kita berbuat ma’siat. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala itu bersifat Kalam dan mustahil lawannya bukmum, kelu atau bisu. Adapun dalilnya friman-Nya dalam Al Qur’an: wa kallamallaahu muusa taqlimaan, artinya berkata-kata Allah Ta’ala dengan nabi Musa as dengan sempurna kata.

Adapun Kalam Allah Ta’ala itu satu sifat jua tiada Ia berbilang tetapi berbagi-bagi dipandang dari segi perkara yang dikatakan-Nya apabila Ia menunjukkan kepada suruh maka dinamakan amar seperti suruh sembahyang dan puasa dan lain-lain, jika Ia menunjukkannya kepada cegah atau larangan maka dinamakan nahi seperti cegah berjudi., minum arak dan lain-lain, jika Ia menunjukkan pada cerita dinamakan akhbar, seperti cerita raja Fir’aun , Namrudz, dan lain-lain. jika Ia menunjukkan pada khabar gembira dinamakan Wa’ad seperti balas syurga pada orang beriman dan ta’at dan lian-lain, jika Ia menunjukkan pada khabar menakutkan maka dinamakan Wa’id, seperti janji balas neraka dan azab bagi orang yang berbuat maksiat dan kafir.

Tetaplah dalam Hakikat Kalam itu difahami dengan memahami sifat Salbiyah terlebih dahulu untuk menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala.

* Kalam Allah Ta’ala Qadim atau sedia, tiada diawali dengan kelu.

* Kalam Allah Ta’ala Baqa’ atau Kekal, tiada diakhiri dengan kelu.

* Kalam Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, atau bersalahan dengan yang baharu, maha suci dari sekalian misal, tiada terdinding dan tiada berhuruf atau bersuara.

* Kalam Allah Ta’ala itu Qo’imumbizzatihi atau berdiri pada zat Allah Ta’ala, tiada meminta tolong pada sesuatu.

* Kalam Allah Ta’ala itu Wahdaniyah, atau Esa, tiada kamuttassil (Berhubung/bersusun) dan tiada kamumfasil (tiada bercerai dengan sifat yang lain).

Bahagian IV: Sifat Ma’nawiyah

Adapun hakikat sifat ma’nawiyah itu: hiyal halul wajibatu lidzati madaamati lidzati mu’allalati bi’illati, artinya hal yang wajib bagi dzat selama ada dzat itu dikarenakan suatu karena yaitu Ma’ani, umpama berdiri sifat Qudrat pada dzat maka baru dinamakan dzat itu Qadirun, artinya Yang Kuasa, Qudrat sifat Ma’ani, Qadirun sifat Ma’nawiah maka berlazim-lazim antar sifat Ma’ani dengan sifat Ma’nawiah, tiada boleh bercerai yaitu tujuh sifat pula:

1. QADIRUN, artinya Yang Kuasa, melazimkan Qudrat berdiri pada dzat

2. MURIIDUN, artinya Yang Menentukan maka melazimkan Iradat yang berdiri pada dzat

3. ‘ALIMUN, artinya Yang Mengetahui maka melazimkan ‘Ilmu yang berdiri pada dzat

4. HAYYUN, artinya Yang Hidup melazimkan Hayyat yang berdiri pada dzat

5. SAMI’UN, artinya Yang Mendengar melazimkan Sami’ yang berdiri pada dzat

6. BASIRUN, artinya Yang Melihat melazimkan Basir yang berdiri pada dzat

7. MUTTAKALLIMUN, artinya Yang Berkata-kata melazimkan Kalam yang berdiri pada dzat

Bahagian V: Sifat Istighna

Artinya sifat Kaya, Hakikat sifat Istighna: mustaghniyun ’angkullu maa siwahu, artinya Kaya Allah Ta’ala itu daripada tiap-tiap yang lain.

Apabila dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lain, maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sebelas (11) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sebelas (11) sifat itu maka tiadalah dapat dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lainnya.

Adapun sifat wajib yang 11 itu ialah:

Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafatuhu lil khawaditsi, Kiyamuhubinafsihi, Sami’, Basir, Kalam, Sami’un, Basirun dan Muttakalimun.

Selain sebelas (11) sifat yang wajib itu ada tiga (3) sifat yang harus (Jaiz) yang termasuk pada sifat Istighna yaitu

1. Mahasuci dari pada mengambil faedah pada perbuatan-Nya atau pada hukum-Nya, lawannya mengambil faedah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau mengambil faedah tiadalah Kaya Ia daripada tiap-tiap yang lainnya karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia pada menghasilkan hajat-Nya

2. Tiada wajib Ia menjadikan alam ini. Lawannya wajib yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau wajib Ia menjadikan alam ini tiadalah Ia Kaya daripada tiap-tiap yang lainnya, karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia kepada yang menyempurnakan-Nya

3. Tiada memberi bekas suatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya. Lawannya memberi bekas yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau memberi sesuatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya tiadalah Kaya Ia pada tiap-tiap yang lainnya karena lazim diwaktu itu berkehendak Ia mengadakan sesuatu dengan wasitoh

Bahagian VI: Sifat Ifthikhor

Artinya sifat berkehendak: hakikat sifat Ifthikhor: wamuftaqirun ilaihi kullu maa ’adaahu, artinya berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya.

Apabila dikatakan berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sembilan (9) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sembilan (9) sifat ini maka tiadalah dapat berkehendak tiap-tiap yang lainya kepada-Nya,

Adapun sifat wajib yang sembilan (9) itu adalah:

1. Qudrat

2. Iradat

3. Ilmu

4. Hayat

5. Qodirun

6. Muridun

7. ‘Alimun

8. Hayyun

9. Wahdaniah

Selain dari sembilan (9) sifat yang wajib itu ada dua (2) sifat yang harus termasuk pada sifat Ifthikhor:

1. Baharu sekalian alam ini. Lawannya Qodim yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau alam ini Qodim tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya karena lajim ketika itu bersamaan derejat-Nya

2. Tiada memberi bekas sesuatu daripada kainatnya dengan tobi’at atau dzatnya. Lawannya memberi bekas yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau memberi bekas sesuatu daripada kainat dengan tobi’at niscaya tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya karena lajim ketika itu terkaya sesuatu daripadaNya.

Maka sekarang telah nyata pada kita bahwa duapuluh delapan (28) sifat Istighna dan duapuluh dua (22) sifat Ifthikhar maka jumlahnya jadi limapuluh (50) ‘akaid yang terkandung didalam kalimah laa ilaha ilallaah, maka jadilah makna hakikat laa ilaha ilallaah itu dua: laa mustaghniyun angkullu maasiwahu, artinya tiada yang kaya dari tiap-tiap yang lainnya dan wa muftaqirun ilaihi kullu ma’adahu, artinya dan berkehendak tiap-tiap yang lain kepadaNya.

Ini makna yang pertama maka daripada makna yang dua itu maka jadi empat (4):

1. Wajibal wujud, yaitu yang wajib adanya.

2. Ishiqoqul ibadah, yaitu yang mustahak bagi-Nya ibadah

3. Kholikul ‘alam, yaitu yang menjadikan sekalian alam

4. Maghbudun bihaqqi, yaitu yang disembah dengan sebenar-benarnya.

Ini makna yang kedua maka daripada makna yang empat (4) itu jadi satu (1) yaitu:

Laa ilaha ilallaah, Laa ma’budun ilallah, artinya tiada Tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah.

Ini makna yang ketiga penghabisan maka jadilah kalimah laa ilaha ilallaah itu menghimpun nafi dan isbat

Adapun yang dinafikan itu sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor berdiri pada yang lain dengan mengatakan: laa ilaha dan diisbatkan sifat Istighna’ dan sifat Ifthikhor itu berdiri pada dzat Allah Ta’ala dengan mengatakan kalimah Ilallaah

Laa = nafi, Ilaha = menafi, ila = isbat, Allah = meng-isbat

Yang kedua kalimah laa ilaha ilallaah itu nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi sepeti sabda nabi : laa yufarriqubainannafi wal-isbati wamamfarroqu bainahumaa fahuwa kaafirun, artinya Tiada bercerai antara nafi dan isbat dan barang siapa menceraikan kafir.

Seperti asap dengan api. Asap itu bukan api dan asap itu tidak lain daripada api. Asap tetap asap dan api tetap api: tetapi asap itu menunjukkan ada api inilah artinya nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi. Tiada bercerai dan tiada bersekutu.

AQAI’DUL IMAN

Adapun Aqa’idul Iman itu lima bahagi:

1. Aqa’idul Iman 50, yaitu dengan ringkas untuk mengesahkan iman kita dan wajib diketahui bagi tiap-tiap orang islam yang baligh lagi beraqal laki-laki atau perempuan yang mula hendak mengerjakan ibadah kepada Allah Ta’ala, jikalau tiada kita mengetahui Aqa’idul Iman yang ringkas ini maka tiadalah syah ibadah kita kepada Allah Ta’ala yaitu 20 sifat yang wajib dan 20 sifat yang mustahil dan 1 sifat yang harus maka dijumlahkan jadi 41 dan 4 sifat yang wajib bagi rasul dn 4 sifat pula yang mustahil dan 1 sifat yang harus pada rasul maka jadi 9, maka dijumlahkan dengan 41, jadi 50 Aqa’id

2. Aqa’idul Iman 60

3. Aqa’idul Iman 64

4. Aqa’idul Iman 66

5. Aqa’idul Iman 68

Adapun Aqa’idul Iman yang empat (4) kemudian ini untuk ma’rifat yaitu untuk membedakan dzat Allah Ta’ala dengan dzat yang baharu, dan membedakan sifat Allah Ta’ala dengan sifat yang baharu dan membedakan perbuatan Allah Ta’ala dengan perbuatan yang baharu, maka kesemuanya itu benar, hanya perselisihannya pada Rukun Iman sahaja, setengahnya tiada dimasukkan Rukun Iman yang 4 perkara, maka jadi 60, setengahnya dimasukkan Rukun Iman tetapi tiada dimasukkan lawannya, maka jadi 64, dan setengahnya dimasukkan Rukun Iman yang 4 perkara dan lawannya , maka jadilah 68 dan yang 66 tiada masyhur sebab tiada dimasukkan satu (1) sifat yang wajib bagi Rasul dan lawannya maka inilah sebab menjadi 66.

Maka baharulah jadi Syahadat itu dua (2) bahagi:

1. Syahadat Tauhid, yaitu Ashadu anllaa ilaha ilallah

2. Syahadat Rasul, yaitu Ashadu ana muhammadarrasuulullaah

Adapun Fardhu Syahadat itu dua perkara:

1. Diikrarkan dua kalimah itu dengan lidah

2. Ditasdiqkan makna itu kedalam hati

Syarat Syahadat itu empat perkara:

1. Diketahui apa isi didalam dua kalimah itu

2. Diikrarkan dua kalimah itu dengan lidah

3. Ditasdiqkan maknanya itu kedalam hati

4. Diyakinkan sungguh-sungguh didalam hati

Rukun Syahadat itu empat perkara:

1. Mengisbatkan dzat Allah Ta’ala dzat yang wajibal wujud

2. Mengisbatkan sifat Allah Ta’ala sifat yang kamalat atau sifat yang kesempurnaan

3. Mengisbatkan af’al Allah Ta’ala memberi bekas dan yang berlaku dalam alam ini semua perbuatannya

4. Mengisbatkan kebenaran Rasulullah dan Muhammad itu benar-benar pesuruh Allah

Kesempurnaan Syahadat itu empat (4) perkara:

1. Diketahui

2. Diikrarkan dengan lidah

3. Ditasdiqkan maknanya didalam hati

4. Diamalkan dari dalam hati hingga melimpah keseluruh anggota

Yang Membinasakan Syahadat itu empat (4) perkara:

1. Syak hatinya pada Allah Ta’ala

2. Menduakan Allah Ta’ala

3. Menyangkal dirinya dijadikan Allah Ta’ala

4. Tiada mengisbatkan dzat, sifat dan af’al Allah Ta’ala dan kebenaran Rasul

Adapun dzikir itu tiga (3) bahagian

1. Dzikir lidah yaitu: Laa ilaha ilallah

2. Dzikir hati yaitu: Allah

3. Dzikir sirr yaitu: Huwa

Adapun Laa ilaha ilallaah dzikir orang Syari’at

Adapun Allah… Allah… dzikir orang Tarikat

Adapun Huwa… Huwa… dzikir orang Hakikat

Laa ilaha ilallaah itu makanan Jasmani

Allah… Allah… itu makanan Qalbu

Huwa… Huwa… itu makanan Ruhani

ALLAH

Alif = Dzat

Lam = Sifat

Lam = Af’al

Ha = Asma’
Sifat 20SocialTwist Tell-a-Friend

Kitab Risalah Tasawuf

.
Kitab Risalah Tasawuf

KITAB RISALAH TASAUF OLEH TUAN GURU SYEIKH DAUD BUKIT ABAL. MURSYID BAGI TARIQAH AHMADIYYAH IDRISSIAH DI BUKIT ABAL.

DISYARAH OLEH USTAZ MUHAMMAD HIZAM AL-AHMADI

(Dipetik daripada muzakarah di Bicarasufi.Com)

بسم الله الرحمن الرحيم

Matan: Terbahagi ugama kepada tiga. Pertama: IMAN, kedua: ISLAM, ketiga: IHSAN kerana ugama itu, adakalanya amalan dalam yakni hati maka dinamakan akan dia iman.

Syarah MH

Tok Guru Hj Daud Bukit Abal merujuk kepada hadith Jibril tentang IMAN ISLAM IHSAN. Matan hadithnya adalah seperti berikut:-

عن عمر رضي الله عنه قال : بينما نحن جلوس عـند رسـول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم اذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب ، شديد سواد الشعر لا يرى عليه أثـر السفر ولا يعـرفه منا احـد. حتى جـلـس إلى النبي صلي الله عليه وسلم فـأسند ركبـتيه إلى ركبتـيه ووضع كفيه على فخذيه، وقـال: " يا محمد أخبرني عن الإسلام ".فقـال رسـول الله صـلى الله عـليه وسـلـم : (الإسـلام أن تـشـهـد أن لا إلـه إلا الله وأن محـمـد رسـول الله وتـقـيـم الصلاة وتـؤتي الـزكاة وتـصوم رمضان وتـحـج البيت إن اسـتـطـعت اليه سبيلا).قال : صدقت.فعجبنا له ، يسأله ويصدقه ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌‌‌؟قال : فأخبرني عن الإيمان .قال : أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الاخر وتؤمن بالقدر خيره وشره .قال : صدقت .قال : فأخبرني عن الإحسان .قال : ان تعبد الله كأنك تراه ، فإن لم تكن تراه فإنه يراك .قال : فأخبرني عن الساعة .قال : "ما المسؤول عنها بأعلم من السائل "قال : فأخبرني عن أماراتها .قال : " أن تلد الأم ربتها ، وان ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان"ثم انطلق ، فلبثت مليا ،ثم قال :" يا عمر أتدري من السائل ؟"قلت : "الله ورسوله أعلم ".قال : فإنه جبريل ، اتاكم يعلمكم دينكم "رواه مسلم [ رقم 8 ].

Maksudnya:- Daripada Umar radiyallahu anhu, beliau berkata: Ketika kami sedang duduk disisi Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada suatu hari, tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang lelaki yang sangat putih bajunya, sangat hitam rambutnya, tidak kelihatan padanya tanda-tanda perjalanan jauh dan tiada seorangpun diantara kami yang mengenalinya sehingga ia duduk di hadapan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu ia merapatkan lututnya ke lutut Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan meletakkan dua tapak tangannya di atas dua paha Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, lantas ia berkata: Wahai Muhammad, khabarkan kepadaku tentang Islam. Lalu Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: Islam itu ialah kamu menyaksikan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahawasanya Muhammad itu persuruh Allah, dan kamu mendirikan sembahyang, dan kamu mengeluarkan zakat, dan kamu berpuasa dibulan Ramadhan, dan kamu mengerjakan haji di Baitullah jika kamu berkemampuan pergi kepadanya. Lelaki itu berkata: Benarlah kamu. Maka kami pun merasa hairan terhadapnya kerana dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya.

Lelaki itu bertanya lagi: Maka khabarkan kepadaku tentanh iman. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: Bahawa kamu beriman kepda ALLAH, para malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari Qiamat dan kamu beriman kepada kadar baik dan burukNya. Lelaki itu berkata: Benarlah kamu. Lelaki itu bertanya lagi: Maka khabarkan kepadaku darihal ihsan. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: Ihsan ialah bahawa kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya tetapi jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihat kamu. Lelaki itu bertanya lagi: Maka khabarkan kepadaku dari hal hari kiamat. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: Tidaklah yang bertanya itu lebih tahu daripada yang ditanya. Lelaki itu berkata lagi: Maka khabarkan kepadaku mengenai tanda-tandanya. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab:Tanda-tandanya itu adalah bila hamba-hamba telah melahirkan tuannya dan kamu melihat orang-orang yang tidak berkasut, tidak berpakaian, miskin, penggembala kambing menegakkan dan mendirikan binaan. Kemudian dia pergi, lalu aku terdiam beberapa lama. Setelah itu Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya: Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu? Aku menjawab: Allah dan RasulNya yg lebih mengetahui. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: Sesungguhnya itulah dia Jibril yang datang kepada kamu untuk mengajarkan agama kamu. (Hadith ini dirawayatkan oleh Imam Muslim di awal kitab al-Iman. Hadith nombor 8 )

Tok guru kata, IMAN itu amalan dalam yakni hati. Kenapakah perkara akidah dipanggil sebagai amalan hati. Ianya adalah kerana termasuk dalam kategori TAKWA juga. MH rujuk kitab karangan Dr. Jahid Sidek bertajuk Syeikh Dalam Tareqah. Dr Jahid mengatakan bahawa salah satu daropada ciri-ciri orang TAKWA ialah benar IKTIKADnya. Jadi ia adalah amalan hati. Kita tak nampak dalam hati seseorang itu, tapi sesiapa yang betul akidahnya, bererti di sedang beramal batin. Oleh sebab itulah tok guru kata AMALAN HATI.

Matan: Dan adakalanya amalan anggota luar yakni mulut, mata, telinga kaki, tangan dan lain-lain. Maka dinamakan ia ISLAM.


Syarah MH

Ini tok guru maksudkan, amalan-amalan syariat yang boleh kita nampak orang buat seperti solat, baca quran, dengan menggunakan anggota-anggota kita. Digelar Islam sebab ia adalah untuk keselamatan kita. Anggota zahir juga dikira dalam syariat dari segi dosa dan pahalanya.

Matan: Dan adakalanya amalan hendak mengelokkan dan membersih dan menyuci akan anggota luar dan dalam, maka dinamakan IHSAN

Syarah MH

IHSAN ini adalah "gantinama" bagi iman dan islam. Bila kita sebut IHSAN, sebenarnya kita memperkatakan hal iman dan islam di peringkat yang lebih sempurna. IHSAN itu adalah TAUHID SYUHUDI.

IHSAN itu hendaklah ibadat seolah-seolah melihat Allah swt, jika kamu tak lihat Allah, Allah swt melihat kamu. Dari hadith Jibril ini sumber ilmu. Walaupun TIGA tapi macam-macam ilmu keluar dari kefahaman ketiga-tiga itu seperti ilmu usuluddin, feqah, tasauf, tafsir, hadis dan lain-lain. Hendaklah IBADAT. Disini melibatkan IMAN dan ISLAM yakni ilmu usuluddin dan Feqah. Sebab sah ibadat itu dengan adanya akidah yang betul dan ikut tatacara SYARIAT ISLAM.

SEOLAH-OLAH itu..... Adalah MUSYAHADAH.Ini melibatkan ilmu Tasauf. Seolah-olah lihat. Bila seseorang itu MUSYAHADAH ia merasakan dia telah melihat Allah swt. Padahal tidak, sebab tahqiqlah,dikatakan LIHAT. Basirah menangkap ZAUK ketuhanan, lantas dirasakan LIHAT.Sebab tahqiq. Macam mana RASA boleh dikatakan lebih jelas dari MATA LUAR melihat alam MULKI. Atau MATA DALAM melihat alam MALAKUT. Kedua-dua alam itu nampak dengan mata luar dan dalam TAPI Allah swt tak dapat dengan kedua-dua mata itu,TAPI hanya ZAUKI. Dan ZAUKI ini lebih tahqiq lagi dengan kedua-dua mata itu lihat objek. Bagaimana ya?

Matan: Makna iman itu, kepercayaan hati yakni akuan hati dengan apa-apa perkara ugama itu, membenarnya akan dia, terimanya akan dia, simpulnya akan dia, jazamnya akan dia, amalnya akan dia

Syarah MH

Apa-apa perkara ugama itu luas skopnya, bukan saja dari segi akidah, bahkan dari segi hukum-hakam, syariat dan lain-lain. Itulah dikatakan SIMPULAN IMAN. Iman bukan saja ucap dilidah tetapi hendaklah TASDIQ dihati dan amalkan. Maksud amal disini ialah setelah kita yaqin, kita kena amal apa-apa suruhan Allah swt. Bila kita dah yaqin adanya Malaikat kiraman-katibin yang mencatat amal baik dan jahat, kita kena jaga segala tuturkata, perbuatan dan lain-lain. Kita kena bertindak berdasarkan keimanan itu.


Matan: Makna Islam itu, ikutan anggota luar yakni junjung dan mengaku mulut dan mana-mana anggota luar dengan apa-apa perkara ugama itu dan terimanya akan dia dan amalnya akan dia dengan sarih.

Syarah MH

Mengaku mulut itu seperti mengucap dua kalimah syahadat. TERIMA - amal anggota luar seperti bacaan dalam solat dan gerakkan anggotanya. Mengaku saja tak jadi,kena terima dan amal.

Matan: Makna Ihsan itu, mengelokkan akan Iman dan Islam itu yakni menyuci akan keduanya dan menghias akan keduanya itu dengan membuang akan perkara-perkara yang ditegah kedua-duanya dan dengan memsempurnakan akan syarat-syarat dan rukun-rukun dan apa-apa disuruh kedua-duanya.

Syarah MH

Jika kita lihat tok guru tulis:

1. Sucikan apa yang ditegah kedua-dua nya

2. Hiaskan apa yang disuruh oleh kedua-duanyanya, syarat-syarat, rukun-rukun


Elok IMAN dan ISLAM. Atau TAHQIQ IMAN & HENING ISLAM. Bagi MH,IHSAN ialah IMAN dan ISLAM juga, yang diamal oleh HATI yang sempurna. IMAN -diamal oleh HATI. ISLAM - diamal oleh anggota zahir dengan perintah HATI. HATI itu RAJA. Jika RAJA itu sempurna, eloklah zahir. Hendak dapat kesempurnaan HATI itu kena BAIKI HATI. Bila hati sedah elok, eloklah IMAN dan ISLAM. Oleh itu, IHSAN itulah IMAN yang ELOK dan ISLAM yang elok.

IHSAN itu IMAN yang bertaraf IMAN Haqiqat dan HAQ. IHSAN itu ISLAM yang bertaraf tareqat dan haqiqat.



Matan: Bicara akan iman itu, ilmu Usuluddin. Keberhasilan itu bicara, beredar antara islam dan kufur dan bid'ah dan fasik yang jadi dari bid'ah itu.

Syarah MH

Apa itu IMAN kita kena jelas. Bolehkah ia bertambah dan berkurang? Kita kena pasti IMAN yang ada pada kita itu adalah yang sebenar. Dari Ahlussunah Waljamaah. Sebab Bab IMAN ini sendiri telah berpecah banyak puak. Qadariah pun percaya ada Allah swt TAPI pegangan mereka dari aspek usaha ikhtiar sudah berbeza.

Matan: Bicara akan islam itu, ilmu furu' ad-din (feqah) kehasilan bicaranya beredar antara tujuh (7) perkara: Wajib, sunat, haram, makhruh, harus, sah dan batal. Empat daripadanya itu dapat pahala iaitu kerjakan yang wajib dan sunat; meninggalkan yang haram dan makhruh; dengan syarat ada NIAT pada sekaliannya itu. Dan satu darinya dapat dosa iaitu mengerjakan yang haram dengan syarat ada niat padanya. Dan dua daripadanya itu tidak ada pahala dan dosa iaitu mengerjakan yang harus dan meninggal akannya.

Syarah MH

Jika kita lihat pintu PAHALA lebih banyak dari DOSA. Lorong yang nak masuk pahala ada 4. Lorong nak dapar dosa hanya 2 yakni buat yang haram dan tinggalkan yang wajib. Jadi kita lihat ahli tareqat seperti tok guru sangat menekankan bab TAKWA ini. Bukanlah bila sebut saja ahli tareqat, asyik dok zikir saja, tidak buat kerja dan lain-lain. Tok guru kata tak jadi TASAUF jika tak ada USULUDIN dan FEQAH.

Matan: Bicara akan Ihsan itu, ilmu ihsanuddin (tasauf). Keberhasilan bicaranya itu beredar antara takhalli( تخلي ) dan tahalli ( تحلي ).

Syarah MH

Tok guru kata ihsan itu ilmu IHSANUDDIN atau tasauf. Ihsan ini diambil dari hadis Jibril yang menerangkan berkenaan IHSAN itu. Jibril berkata kpd Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam أخبرني عن الإحسان. Khabarkan kepadaku apa itu IHSAN. Nabi saw bersabda: ان تعبد الله كأنك تراه ، فإن لم تكن تراه فإنه يراك Maksudnya: IHSAN ITU, KAMU BERIBADAT KEPADA ALLAH SEOLAH-OLAH KAMU MELIHAT ALLAH, JIKA KAMU TAK MELIHAT ALLAH, ALLAH MELIHAT KAMU. Cuba kita perhati secara halusi akan maksud IHSAN itu. Banyak ilmu kita boleh dapat dari nya.

MH lihat begini:

1. Ibadatlah

2. Seolah-olah lihat

3. Kamu tak dapat lihat

4. Allah swt lihat kamu.

Apa yang tuan-tuan faham dari keempat-empat fakta itu?



Jawapan dari PERHALUSAN itu ada dalam kitab RISALAH TASAUF oleh Tuan Guru Hj. Daud Bukit Abal, Mengenal Diri & Wali Allah oleh Ustaz Mustafa al-Jiasi, Ramuan Tasauf oleh Ustaz Mustafa al-Jiasi ,Bidayatul Hidayah oleh Imam al-Ghazali ,Minhaj al-‘Abidin oleh Imam al-Ghazali, Siyarus Salikin oleh Syeikh Abdul Salamd al-Falimbani dan Ihya Ulumuddin oleh Imam al-Ghazali.

Insyallah,akan kita pelajari.

Ibadat lah:-

Nak ibadat kena ada ilmu usuluddin. Jika tidak ibadat tak "JADI". Nak ibadat kena ada ilmu Feqah. Jadi kena ada IMAN, kena ada ISLAM. Jika ada ilmu baru lah sah IBADAT. IBADAT adalah antara kita dengan Allah swt. Dua MAUJUD.


WUJUD kita ada 2:-

1. Jasad

2. Ruh

Jadi kena tahu alatan-alatan apa nak berhubung dengan Allah swt. Wujud Allah swt tak serupa wujud kita. Jadi macam mana nak berhubung.Oleh itu hubungan itulah melalui ibadah.



Matan: Makna takhalliah itu, menyuci akan zahir dan batin daripada tipa-tiap perkara yang menegah akan suluk dan wusul kepada ALLAH swt.

Syarah MH

Ilmu Tasauf bukan lah ilmu hanya sekadar tahu saja. Memang betullah, tasauf ada dua jenis:-

1. Tasauf ILMI

2. Tasauf Amali atau praktikal.

Tasauf ILMI, orang kafir pun reti bahkan lebih tahu dari kita seperti Nicholson, Martin Lings dan lain-lain. Baca kitab ,pindah-pindah kitab, pindah-pindah guru, itu semua bersifat ILMI. Yang penting ialah AMALI atau PRAKTIKAL. Ini yang susah, Imam al-Ghazali berkata dalam kitab Munqiz Minal Dhollal, ILMU ITU LEBIH MUDAH DARI AMAL. Jadi tok guru nak tekankan AMALAN. TASAUF AMALI melibatkan usaha-usaha TAKHALI.

Tok guru menekankan CUCI dulu baru HIAS. Jika tak cuci akan mengakibatkan perjalanan TERTEGAH, LAMBAT. Tak sampai langsung pun ada, lambat pun ada. Sebab apa tak SAMPAI langsung. Sebab apa lambat. Jadi kena cuci.



Tambahan: Martin Lings telah memeluk Islam dengan memakai nama Islamnya Abu Bakar Sirajuddin.


Matan: Mencuci akan zahir itu daripada tiap-tiap yang haram dan yang makhruh dan yang harus yang sia-sia dan tiada memberi manafaat diakhirat dan menegah dan melambat akan suluk dan wusul kepda ALLAH swt.

Syarah MH

Disini Tok Guru ingin memberitahu kepada ahli tareqat bahawa bila sudah ambil wirid tareqat, jangan sangka, dengan wirid-wirid saja boleh berjaya dan WUSUL. TIDAK!!!! Jika tidak jaga anggota zahir seperti tangan, mata, kaki dan lain-lain dari maksiat, dari melakukan perkara-perkara haram, bukan lambat sampai TAPI tak sampai langsung, tertegah dari sampai.

Perkara haram lain seperti riba, judi, tenung nasib, mencuri, membunuh, minum arak, merogol dan lain-lain akan TERTEGAH dari SAMPAI. Oleh itu, ahli tareqat kena hindarkan dari melakukan perkara-perkara yang HARAM. Wiridlah banyak mana, zikirlah banyak mana jika yang haram masih lagi buat, jangan harap nak sampai makrifatullah dgn. SYUHUD. Begitu juga buat perkara makruh. Ini akan melambatkan perjalanan kerohanian walaupun tidak TERTEGAH. Buat yang harus yang sia-sia pun, boleh melambatkan WUSUL. Seperti duduk ditangga petang-petang sembang dengan keluarga. Itu harus. Tapi sia-sia. Boleh juga membuat perkara haram pulak seperti mengumpat dan melekehkan orang lain. Oleh itu ZAHIR kena dicucikan dari yang haram, makruh ini. Inilah digelar TAKHALLI ZAHIR. Jadi tidak timbul kata-kata mengatakan ahli tareqat, tasauf tak ikut syariat, tak ikut al-Quran dan as-Sunnah. Sebab jika tareqat yang muktabar, guru akan berpesan akan perkara ini. ekian,dari maksud MATAN itu.

Oleh itu CUCI zahir ini sangat penting. Jangan sangka bila kita dah amal wirid-wirid tareqat, boleh abaikan bab ini. Cuma, jika ada rahmat Allah swt, jika buat juga, disamping itu kita buat maksiat juga,akan di TEGUR. MH pernah pada suatu masa dulu, mula-mula ambil tareqat, pergilah gunting rambut kat UNISEX Salun.Perempuan seksi yang gunting. Berdebar darah MH. Malamnya ,MH mimpi murshid MH datang dengan garang sekali dan berkata "Hizam haram tu ..mengapa mu gi gunting dengan pompuan". Lantas MH terus bertaubat dan barulah Sheikh peluk MH, katanya nak PERAH dosa disentuh perempuan ajnabi. Sambil berzikir kami dalam mimpi itu. Bila sedar MH sangat menyesal dan tak gunting-gunting lagi. Jika nak perempuan gunting pun ,MH suruh isteri gunting kan.
Sekian,dari maksud MATAN itu.


Matan: Mencuci akan batin itu daripada tiap-tiap iktiqad yang salah, dan daripada tiap-tiap mazmumah dan daripada ingat dan cita-cita dan angan-angan yang sia-sia dan tiada memberi manafaat diakhirat dan tiada manafaat akan suluk dan wusul kepada Allah swt daripada aghyar yakni daripada barang yang lain daripada Allah swt yang didalam hati.

Syarah MH

Jadi bukan saja zahir kena cucikan tapi batin/hati juga kena sucikan barulah boleh berhias. Macam orang perempuan hendak pakai gincu bibir, kenalah basuh muka dulu. Perkara batiniah yang kena cuci, Tok Guru tekan:

1. IKTIKAD-IKTIKAD yang salah. Disinilah banyak yang kecundang sebab salah akidah. Mereka dah betul dah tapi sebenar membawa ke kekufuran. Didalam Siri 2 Risalah Tasauf ada Tok Guru senaraikan lebih 52 akidah kufur yang Tok Guru ketemui sekitar Pasir Puteh Kelantan saja. Sila rujuk kitab tersebut, sebab MH tahu ramai disini dah ada. Tapi senyap jer. Harap mereka. IKTIKAD ni saja ada 72 jenis pula yang terdiri dari Mujasimah, Qadariah, Jabariah, Rafidiah dan lain-lain. Golongan sufi-sufi pun ramai yang "pakai" iktikad salah spt puak-puak HULULIYAH danlain-lain

Insyallah, MH akan buka tajuk lain tentang SUFI-SUFI yang salah. IKTIKAD kena betul seperti iktikad AHLUSSUNAH WALJAMAAH. Jika iktikad tak betul, ini Tok Guru kata akan TERTEGAH dari SAMPAI/WUSUL. Bab IKTIKAD ini banyak yang orang salah pegangannya. Ada seorang kenalan MH, dia ahli Tareqat Ahmadiah juga, tapi IKTIKAD bagi MH adalah salah. Sebab dia iktikad Allah swt ini asalnya seperti BOLA besar. Kemudian berlaku BIG BANG!!!!!! ... lantas yang pecah tu jadi langit,bumi arash dan lain-lain.

Masih lagi bicara akan TAKHALLI zahir dan batin.Sebenar syarah bagi iktikad saja akan masa panjang dan Tok Guru sudah syarahkan di Siri Kedua dalam RISALAH TASAUF ini. Begitu juga sifat-sifat mazmumah jika nak detail elok rujuk kepada kitab IHYA' ULUMUDDIN oleh Imam al-Ghazali. Maksiat zahir dan maksiat batin akan MENEGAH daripada SAMPAI atau WUSUL kepada Allah swt. TAPI bagi MH, maksiat batin seperti riya', ujub, sombong, dengki dan lain-lain itu ianya tidak terungkai dari hati hanya dengan membaca kitab IHYA" Ulumuddin. HATI yang suci dari sifat-sifat mazmumah atau tercela, dosa-dosa akan TERCUCIKAN dengan istighfar, taubat dan amalan-amalan yang soleh. HATI yang betul-betul suci ialah HATI yang disinari NURULLAH atau WARIDAH secara ISTIQAMAH. WARID "tidak pergi mari', tapi menetap dihati. Jika masih lagi ‘GI MARI' itu tanda hati tidak bersih lagi disisi ahli Tasauf. HATI yang suci bersih akan melimpah kepada zahir yang suci dari maksiat dan noda.

Begitu juga suci dari aghyar atau MASIWALLAH. Bukan dengan zikir Allah, Allah, Allah.. itu sudah dikatakan suci dari MASIWALLAH atau selain dari Allah swt.

Jadi SUCI adalah pokok utama dalam perjalanan kerohanian, suci dari hadas kechil, hadas besar, suci makanan, pakaian, tempat tinggal, suci dari dosa-dosa zahir, dari dosa-dosa batin, dari dosa ingat yang lain ,selain Allah swt. Yang penting sekali ialah suci dari IKTIKAD-IKTIKAD yang salah dan suci hati dari sifat-sifat mazmumah dan zahir kita dari dosa-dosa kerana buat yang haram. Jadi ahli tareqat tidak saja zikir, tapi kena buat usaha pencucian. Kebanyakan TAREQAT sesat ,tidak suci dari akidah. Banyak lagi iktikadkan Allah swt dan makhluk adalah sama, Nur Muhammad itu sifat Allah swt, Muhammad, Adam dan manusia lain-lain adalah sama SEMUA adalah sebahagian dari Nur Zat Allah swt. MH sendiri sudah banyak ketemu puak-puak tareqat yang iktikad sebegini. Pernah ambil tareqat dari guru yang SURUH IKTIKADKAN UMUR KITA ADALAH TUA SATU HARI DARI ALLAH SWT, masa kita solat, semasa rukuk itu, sebenarnya kita sedang cium pusat Nabi Adam as dan lain-lain. Ahlussunah waljamaah, Qadariah, Jabariah ... sendiri sudah berlainan iktikadnya. Sama-sama ulama', sama-sama solat berjamaah TAPI dalam hati siapa tahu? Apa yang diiktikadkannya. Oleh itu kita kena belajar ilmu tauhid yang betul. Sebab semua mereka kata IKTIKAD mereka yang betul. Jadi kena usahakan kita beriktikad yang sebenar. Barulah dapat sucikan hati yang batin.Tak guna jua, zikir tareqat ribu-ribu, tapi iktikad rosak.Lebih baik tidak zikir mana-mana tareqat TAPI iktikad benar!!!!!!!

Ada yang minta MH huraikan dgn. detil IKTIKAD2 yang salah dan kufur.Jadi MH ambil MATAN nya dari Risalah Tasauf siri KEDUA di Bismillah yang keenam.


Matan dari Risalah Tasauf Siri Kedua di Bismillah Yang Keenam: Segala perkara dan kufur yang didapati anakan dia pada orang-orang Melayu dan lain-lainnya daripada mereka itu amat banyak. Setengah daripadanya itu disebut akan dia disin untuk jadi contoh dan dijaga akan dia supaya selamat ugama.

Pertama:

Nabi Muhammad itu zat tuhan. Misalnya seperti garam ialah air laut bukan lainnya berubah namanya itu kemudian daripada bekunya jua. Ini iktikad KUFUR

Syarah MH

Tok guru jumpa iktikad sebegini disekitar Pasir Puteh dan Bukit Yong, Trengganu. Bila berhadapan dengan Tok Guru, mereka tidak boleh susut (sembunyikan), tiba-tiba mereka akan keluarkan apa yang mereka iktikad. Pernah ada seorang yang suka main judi, tikam ekor, pergi jumpa Tok Guru Hj. Daud nak minta nombor ekor dengan Tok Guru. Bila berhadapan dengan Tok Guru jadi begini.

Tok guru : Ada apa hajat?

A : Emmm..nak belajar ugama.

Tok guru : Lagi?

A : Nak belajar tareqat.

Tok guru : Lagi?

A : Nak solat sekali dengan Tok Guru.

Tok guru : Lagi?

A : Nak itu, nak ini ..bla..bla..bla..

Tok guru :(dgn. nada kuat) LAGIIIIIIIIIIII?

A : Nak minta nombor ekor, Tok Guru...

Jadi tak boleh susut depan tok guru. Begitu juga Iktikad yang salah ini. ZAT Tuhan dan zat Muhammad dikatakan SAMA sejenis. Sebelum dijadikan Ruh Muhammad dinamakan Tuhan. Selepas terjadi, dikatakan Muhammad. Jadi inilah dikatakan Muhammad QADIM. Atau jika dipadang dipanggil orang mengkuang. Tapi diatas rumah dipanggil tikar. Benda sama. Tok Guru kata jika ada iktikad begini, Allah swt dan makhluk adalah sama, jadi kafir. Kena mengucap semula. Qadha semua solat dan lain-lain. Jadi jika ada iktikad begini, masih lagi kotor hati itu, dan ini akan melambatkan WUSUL atau mendapat MUSYAHADAH dengan Allah swt. Wahai sahabatku sekelian, AWAS jangan ikut jemaah tareqat atau lain-lain jika iktikad sebegini. Jangan tertipu dengan guru itu keramat, boleh kashaf, boleh baca hati/scan dan lain-lain. Itu semua TERPEDAYA.


Matan dari Risalah Tasauf Siri Kedua di Bismillah Yang Keenam:

Kedua:

Zat Tuhan itu Nafas Muhammad. Sifat Muhammad itu Nyawa kita. Ini iktikad KUFUR.

Ketiga:

Dirinya itu Tuhan, Muhammad dan Adam. Ini iktikad KUFUR.


Syarah MH

Iktikad-iktikad diatas itu, ramai orang iktikadkan begitu. Konon mereka dapat setelah baca kitab-kitab karangan ibnu Arabi. Oleh itu kita kena berhati-hati dan jangan dekat jika ada nak cerita atau mula nak bercerita kat kita.

MH rasa yang sudah ada RISALAH TASAUF itu boleh rujuk, berbagai-bagai iktikad salah. Kebanyakannya bab Ketuhanan. Kesimpulannya, nak pastikan iktikad terhadap tuhan itu tidak rosak, asasnya. ... ALLAH swt itu BERSALAHAN dengan makhluk DAN jangan baca kitab IBNU ARABI, dan ambil faham tulisan zahirnya. Seperti yang MENYEMBAH DAN DISEMBAH ADALAH SAMA dan lain-lain kerana jika difaham secara zahir akan bercanggah dengan SYARIAT. Sebab itulah ulama' Tasauf mengharamkan membaca kitab-kitab tasauf Ibnu Arabi tanpa guru yang murshid. Bila faham-faham sendiri atau guru bukan ahli yang beritahu, nanti tersalah iktikad dan akidah. Kitab Ibnu Arabi hanya untuk MUNTAHI saja, sebab mereka dikurniakan ilmu laduni dan mukashafah. MH akan meneruskan syarah...

Matan: Makna tahalliah itu, menghias akan zahir dan batin dengan tiap-tiap perkara yang menarik akan suluk dan wusul kepada Allah swt.

Syarah MH

Insyallah bab MENGHIASKAN pula. Selepas kita cuci, kita hiaslah pulak. Nak bedak, bergincu, mascara dan lain-lain.

Matan: Menghias akan zahir itu ialah, dengan tipa-tiap amal yang wajib, dan yang sunat dan wirid-wirid tareqat dan dengan usaha yang halal yang menolong akan suluk dan wusul kepada Allah swt dengan ketiadaan tamak akan dia dan ketiadaan melebihi dan ketiadaan meluput akan habuan akhirat dan ketiadaan mengalangi dan melambat akan suluk dan wusul kepada Allah swt.

Syarah MH

Jika kita lihat, Tok Guru masukkan empat (4) amalan utama. Ini digelar TAHALLI ZAHIR. Kita kena amalkan yang FARDU tidak dapat tidak seperti solat, puasa di bulan Ramadhan, mengelaurkan zakat dan mengerjakan haji. Yang sunat termasuklah solat-solat sunat, puasa sunat, baca quran, zikir selepas solat, sedekah, iktikaf, ziarah orang mati dan sakit, qurban, akikah dan lain-lain. Wirid-wirid tareqat sebagai tambah dari amalan-amalan sunat. Ia amalan sunat jugak cuma wirid-wirid tareqat ini ada karan atau nur atau warid sebagai kenderaan bagi hati menuju Allah swt.

Kerja-kerja yang halal sekadarnya untuk keluarga, cari rezeki agar tidak ganggu tok mertua, ayah ibu dan lain-lain. Kena usaha kerana masih dimaqam ASBAB. Tak kerja tak leh makan, tak kerja tak dok pitih. Jangan susahkan orang lain, jangan minta-minta pada orang lain. Usaha kerjalah TAPI jangan sampai tak solat, tak ibadat. Meeting hari jumaat sampai tak gi solat Jemaat.

JADI KAT MANA ORANG KATA AHLI TAREQAT TAK IKUT QURAN DAN SUNNAH? Bukankah amalan-amalan yang MH sebut itu suruhan seperti dalam al-Quran dan hadith Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.



Matan: Menghiaskan akan batin itu dengan tiap-tiap sifat mahmudah dan dengan muraqabah akan Allah swt pada tiap-tiap amal ibadat dan pada tipa-tiap barang yang didapat akan dia dengan pancaindera supaya membawa kepada musyahadah akan Allah swt pula dan dengan ingat akan dia didalam tipa-tiap masa dan tiap-tiap hal senang dan susah.

Syarah MH

Cuba tuan-tuan dan adik-adikku sekelian lihat betapa telitinya Tok Guru Hj. Daud memecahkan huraian. Disini amal batin akan menghasilkan CINTA. Kuliah cinta ini agar kita berjaya mencapai apa yang Allah swt firmankan dalam al-Quran yang bermaksud lebih kurang. MH tak ingat dah surahnya, nanti MH rujuk semula. "SESUNGGOHNYA ORANG MUKMIN ITU TERSANGAT-SANGAT CINTA KEPADA ALLAH SWT". Nah! mari kita masuk kuliah cinta ini, hebat lagi daripada cinta Erra Fazira kepada Yusri, cinta Zalikha kepada Nabi Yusof as. Abang zam akan sambong esok untuk kalian adik-adikku dijalan Allah swt.

Kita sudah lihat MATANnya. Ia terdiri dari SUCI dan HIAS. Ada zahir dan batin. HIAS batin dan suci batinlah yang paling susah. Ia tidak akan berhasil dengan membaca kitab-kitab tasauf sahaja. Ia adalah hasil dengan beramal wirid-wirid tareqat. Kaedah Muraqabah MH jelaskan esok.



Matan: Makna MURAQABAH akan allah swt pada tiap-tiap amal ibadat itu hadhir hati dan perhatinya dan mengintainya akan Allah swt, diselang-selangi dan dicelah-celah maana kalimah-kalimah amal ibadah itu dengan sungguh hati sedapat-dapatnya semacam kerja kuli dihadapan mandor.

Syarah MH

Maksud Tok Guru itu agar kita perhatikan maana bacaan yang kita baca dalam solat dan lain-lain itu. Lebih baik dihafal arti setiap kalimah dalam bacaan ibadat kita itu. Dengan tahu arti bacaan itu boleh kita tumpukan kpd kerja ibadat itu. Perhati dan tumpu pada bacaan, TOK GURU kata seperti seorang kuli kerja sunggoh-sunggoh apabila dihadapan seorang mandor. ATAU sunggoh-sunggoh perhati sebagaimana kucing perhatikan seekor tikus yang baru saja masuk lubang. Atau semasa kita mencari sebatang jarum yang terjatuh atas rumput. Itulah MURAQABAH AMAL. Walaupun itu masih lagi MURAQABAH SYARIAT, tak apa. Teruskan sebab kita tidak ada warid lagi. Jika sudah ada warid yang hasil dari amalan wirid-wirid tareqat masing-masing, barulah MURAQABAH AMAL itu meningkat kpd MURAQABAH TAREQAT.Sekian.

Daripada MATAN RISALAH itu dapat kita lihat ada TAKHALLI dan TAHALLI sahaja. Tidak ada di huraikan TAJALLI. Sebenarnya TAJALLI dihurai di Siri ke-4 dan lain-lain didalam risalah itu. Tugas kita hanya TAKHALLI dan TAHALLI. TAJALLI itu haq Allah swt nak kurniakan kepada sesiapa yang Dia kehendaki. Tak semesti ada TAKHALLI dan TAHALLI dulu. TAPI sebab sunatullah kena ada SEBAB dan AKIBAT. Dan Allah swt tuntut kita ikut SUNNATULLAH. TAJALLI adalah Allah swt kurniakan. Kita hanya perlu tunggu saja. Teruskan ibadat. ARIFTU RABBI BIRABBI.. Aku kenal Tuhan dengan Tuhan juga ...... TAKHALLI dan TAHALLI itu hanya usaha dan ikhtiar kita saja YANG tak boleh beri BEKAS. Sebab kita ini adalah orang TAKLIFI yakni diberati dengan hukum syariat. Jadi kena ikut perintah saja. Dalam Tareqat Ahmadiah, misalnya,ada amalan bacaan AHZAB KHAMSAH. Kata-kata dalam ahzab adalah banyak dalam bentuk MOHON TAJALLI. Dan ahzab itu adalah Nabi saw ajar terus kepada Sidi Ahmad Idris. Ini berarti ... minta TAJALLI ... dibolehkan.

Jadi:-

1. Tunggu saja untuk diTAJALLIkan.

2. Mohon agar diTAJALLIkan.

Tak salah kedua-duanya. Asalkan ada TAKHALLI dan TAHALLI dipehak kita. Ada TAKWA dan wirid-wirid zikir dipehak kita. Allah swt itu TIDAK BOSAN SEHINGGA KITA BOSAN. Begitu lah MH tutup matan ini. Insyallah ,esok kita sambong matan seterusnya.Yang mana-mana yang dah dapat kitab RISALAH TASAUF itu boleh rujuk siri ketiga.Insyallah.

Kesimpulan dari konsep takhalli dan tahalli

Jika kita lihat dalam konsep TAKHALLI dan TAHALLI ini ada unsur spt TAKWA dan wirid Tareqat.Ini bermakna sudah menyeluruh.

Ada dua Tareqat disitu.

1. Tareqat Umumi

2. Tareqat Khususi

TAKWA itu tareqat UMUMI yang merangkumi IMAN ISLAM IHSAN. Tareqat Naqshahbandi, Ahmadiah dan lain-lain itu tareqat KHUSUSI. Jadi kedua PELAKSANAAN itu masih lagi SYARIAT. Hasil dari gabungan dua tareqat itulah menatijahkan WARIDAH. Bila ada WARIDAH dihati barulah TERBINA JALAN untuk menuju HAQIQAT. Sebab HAQIQAT atau TAJALLI tidak akan dibukakan jika tidak melalui JALAN/TAREQAT.

Konsep TAKHALLI & TAHALLI zahir dan batin itu mesti ketimbang dengan MIZAN atau timbangan SYARIAT. Ada suruh, ada tegah, ada zikir, ada muraqabah, ada wirid-wirid tareqat dan lain-lain. Apa saja perkara-perkara ugama semua sudah termasuk dalam TAKHALLI dan TAHALLI itu. Jadi tidak ada sebab, nak kata TASAUF dan TAREQAT bukan dari ajaran Islam. Ia bukan penambahan dalam Islam. Teknik amalan TAKHALLI ini dan TAHALLI ini sudah merangkumi, semua. Jika lihat MATAN Risalah Tasauf Tok guru itu, jelas sudah merangkumi habis.

Takhalli Zahir

SUCIKan zahir dari yang HARAM & MAKRUH. Ini adalah unsur TAKWA. Jadi tak timbul, ada orang kata ahli tareqat, asyik dok zikir saja. Sucikan zahir dari perkara 2 haram, pancaindera, makan, minum, pakaian, rumahtangga dan lain-lain. ITU boleh MENEGAHKAN WUSUL. Maksud tok guru ialah tak akan dapat makrifat syuhud. Walaupun bijak dalam ilmu usuludin, ada PHD dalam Usuluddin dari Universiti al-Azhar, tapi jika masih lagi dok tengok tarian gelek di Sg. Nil, masih lagi mata dok tengok CD-Siti dan lain-lain, telinga masih dok dengar lagu BUNGA2 CINTA Misha Umar dan lain-lain, selagi itulah TERTEGAH untuk WUSUL.

TAKHALLI zahir ini sangat mustahak kerana dosa-dosa ,haram dianggota zahir, mata, telinga, riba, dan lain-lain akan MENEGAH daripada sampai makrifat secara TASAUF. Cuba tuan-tuan rujuk kitab PENAWAR HATI untuk tahu detail dosa-dosa di bahagian anggota zahir manusia. MELAMBATKAN wusul kerana buat banyak perkara-perkara makruh, harus yang sia-sia. Jadi mari kita sucikan zahir kita dari perkara-perkara haram, makruh dan harus yang sia-sia. Ini lah maksud Tok Guru dalam menerangkan tentang TAKHALLI zahir ini.Dan boleh tambah lagi lah sendiri-sendiri detailnya dalam senarai tuan-tuan.

Takhalli Batin

Tok guru kata apa, mula-mula sekali? Naam ... SUCIKAN BATIN kita dari iktikad yang salah. Iktikad ni macam-macam. Orang Islam jugak TAPI macam iktikad bidaah. Selagi ada iktikad bidaah, iktikad HARAM akan TERTEGAH WUSUL. Bukan lambatkan bahkan tidak DAPAT langsung makrifat. SEBAB akidah ini yang betul hanyalah dari AHLUSUNNAH WALJAMAAH. 1 saja tok guru kata betul. 72 lagi salah. Dan masuk neraka. 72 lagi ,yang salah itu dipecahkan 6 puak secara kasar. Setiap puak ada 12. Jadi semua nya 72. Insyallah, akan MH detailkan bab ini. AKIDAH YANG betul dalam pandangan Tok Guru Hj. Daud Bukit Abal, yang alim dan bertaraf wali ini. Insyallah.

Masih lagi di TAKHALLI BATIN yang boleh MENEGAH dari pada WUSUL. Iktikad yang salah bukan saja MENEGAH bahkan boleh membuatkan masuk neraka. Bab iktikad ini pada peringkat awalnya adalah KASBI. KASBI atau usaha zahir ialah dengan belajar dari kitab-kitab usuluddin yang muktabar. Bab iktikad ini orang tak tau. Apa yang orang lain iktikadkan kita tak tau WALAUPUN sedang solat berjamaah bersebelahan. Entah-entah yang disebelah kita, iktikadkan perkara-perkara kufur. Kita tidak tahu. Dalam RISALAH TASAUF ini , disiri Kedua, ada diterangkan lebih dari 50 iktikad kufur, yang tok guru temui disekitar Pasir Puteh saja. Mereka juga solat, puasa, sedekah TAPI iktikad kufur. Ini lah yang kita takut. Jadi kita kena pastikan IKTIKAD kita adalah apa yang diiktikadkan oleh AHLUSUNNAH WALJAMAAH. Jadi kena belajar. Jika iktikad rosak, batin kita juga rosak. Sebab itulah dalam RISALAH TASAUF ini diselang-selikan dengan bab-bab iktikad ini selain dari matan Ilmu Tasauf. Tok Guru sendiri, sehinggalah beliau meninggal dunia, tak pernah ‘miss' mengajar Ilmu Usuluddin ini. Oleh itu jangan kita terjebak dengan iktikad-iktikad yang salah dari iktikad-iktikad Jabariah, Qadariah, Mujasimah, Rafidiah/Syiah dan lain-lain.

Alam Lahut

Matan: (Tok Guru berkata): Dan alam lahut itu, alam ketuhanan, yakni alam makrifat dengan Tuhan, zauk akan Tuhan, bersedap-sedap dengan Tuhan, berkasih-kasih dengan Tuhan, bersunyi diri dengan Tuhan, Maha Suci dari tiap-tiap yang lain daripada Tuhan dan lain-lain lagi.

Syarah MH

Tok Guru nak cerita apa sebenar nya itu alam LAHUT. Orang akan segera ingat bila sebut alam seperti alam mulki dan malakut, ia adalah tempat. Bagi MH ia bukan tempat. Sebagaimana juga, misalnya ALAM PERCINTAAN ... cuba royak mari ke abe .. mano alam percintaan itu?

Alam Lahut dan Jabarut kedua-duanya alam ketuhanan. Adakah kita masuk kealam itu? Mesti jelas disini. Inilah pengajian di Bukit Abal, perguruan dari tareqat Ahmad Idris, nak perjelaskan apa itu alam LAHUT. Tok Guru kata alam makrifat akan Tuhan yakni KENAL akan Tuhan. Nak kenal Tuhan ini Tok Guru kata ada dua cara sahaja:

1. kenal dengan DALIL & BURHAN

2. Kenal dengan SYUHUD.

Tuan Guru Dr Jahid Sidek kata:

1. kenal secara KASBI

2. kenal secara LADUNNI.

MH kata: kedua-duanya COMEL: DALIL mengambil bukti alam, sebagai nak yaqin ada ya Allah swt itu. SYUHUD nak ‘LIHAT" sendiri adanya Allah swt itu. KASBI - usaha,memikir. LADUNNI - diperlihatkan, dibawa melawat. Semuanya bagus, nak kenal Allah swt inilah MAKRIFAT akan Allah swt. MAKRIFAT dialam LAHUT lebih tahqiq dari makrifat dengan DALIL. Jadi maksud tok guru ialah, makrifat di alam lahut ialah makrifat SYUHUD bukan dengan DALIL.

Mengambil alam sebagai nak KENAL TUHAN pun boleh. MH bagi caranya begini. Misalnya, kita lihat OMBAK BESAR TSUNAMI. Itu adalah ALAM. Itu adalah BEKAS. Sebagaimana tapak kaki harimau merupakan bekas. Tentu ada pemberi bekasnya. Harimau itu sendiri pemberi bekas. Lihat bekas teringat kepada pemberi bekas. Lihat tapak kaki harimau, teringat kepada harimau, tentu ada berkeliaran. Bila lihat TSUNAMI .. ia ujud. Ada depan mata. Menggulung rumah-rumah dan kenderaan dan lain-lain. Itu adalah BEKAS. Kita akan ingat kpd QUDRAT Allah swt. QUDRAT adalah SIFAT dan ia berdiri pada ZAT Allah swt. QUDRAT tidak memberi bekas pada HAQIQAT nya. Tok Guru kata, jika bersyarikat dengan QUDRAT dan ZAT pada memberi bekas maka itu masih syirik lagi. QUDRAT tidak sepakat dengan ZAT untuk menggerakkan TSUNAMI. ZATlah yang memberi bekas. ZATlah yang menggerakkan. Bila kita lihat TSUNAMI .. disitu kita sudah yaqin wujudnya Allah swt, sebab ia adalah bekas dan pemberi bekas ialah Zat Allah swt. TAPI cara ini bukan lagi alam lahut. Sebab itulah ... selepas lihat Tsunami kita masih lagi lupa kpd Allah swt dan berbuat maksiat. Masih buat endah tak endah saja kepada perentah Allah swt.

Alam Lahut adalah ZAUK dengan Tuhan. ZAUK ini adalah rasa, rasa macam mana? Adakah seperti rasa-rasa makanan didunia ini? Rasa-rasa ini adalah rasa-rasa dimartabat ketuhanan.Tidak serupa dengan rasa-rasa didunia ini. RASA takut, hebat, kebesaran Tuhan dan lain-lain. ZAUK-ZAUK ini masih makhluk lagi. Bukan sifat-sifat Tuhan berpindah kepada hati. Tapi dengan dapat tertangkapnya rasa-rasa itu, kita merasakan ‘melihat' Allah swt. Basirah yang itulah yang terhijab lantas ia dipanggil BUTA.

Bersuka-suka dengan Tuhan hatinya, semasa mengalami zauk-zauk dialam lahut itu ... tersangatlah gembira dan suka dgn. KEHADIRAN Allah swt itu berbagai-bagai "bentuk".


Matan: Tiap-tiap perkataan perbuatan, perangai yang keluar sekeliannya itu daripada seorang yang duduk didalam alam lahut sebagai keluar dengan terkerasi, dengan ketiadaan terasa, dengan ketiadaan kesedaran, dengan ketiadaan sengaja, hal-hal yang diantanya dan Tuhannya, kesemua itu adakalanya tidak munasabah, tidak terima dan sebangsa, zahir hukumnya didalam Islam.

Kerana perkara-perkara itu, sebagai terjemah, hikayat, isyarat, gambaran, kelaksanaan akan perkara-perkara yang berlaku diantaranya dan antara Tuhannya didalam maqam alat lahut itu dari hal-hal ketuhanan samada dizahir seorang itu atau dibatinnya

Syarah MH

Alam Lahut ini ada bahayanya. Tapi alam lahut bahayanya bagi orang lain yang melihat TIDAK seperti alam Malakut. Alam malakut bahayanya bagi yang memasuki. Pasal apa bagi yang melihat?

1. Perangai pelik dan perkataan menyalahi syariat spt AKU ALLAH !!!

2. Kerana ia adalah hakikat


Ia macam ni.

A bercakap dengan B.

B kata AKU B.

A pun terlatah ..mengatakan .. Aku B. Itulah maksud terkerasi atau Syatah.


Apa-apa yang berlaku adalah Sisalik dengan Allah swt, semua itu dialam Lahut. Sisaliklah akan faham dan melihat dan lain-lain. Allah swt lah yang berkata kepada salik AKU Allah . Oleh sebab terlampau lazat, sedap, manis,indah dan lain-lain .. sisalik mengalami SYATAH, dan terkeluar dari mulutnya AKU Allah. Orang-orang lain yang tak tahu, tak mengaji, ahli syariat ... akan kata ... KAMU SYIRIK ... sebab kata kamu itu Allah swt. Sedangkan ia tak syirik. Inilah bahaya bagi yang melihat, yang mendengar, yang tidak merujuk kepada ahlinya. Sebenar sisalik tidak syirik. Cuma zauk dialam lahut terlampau kuat, menyebabkan dia tersyatah. Dia tidak boleh dikira salah sebab ... tidak ada aqal, tidak sedar kepada alam zahir, sebab saking hebat dan lazatnya tawajuh kepada Allah swt.

Berkata-kata Allah ... itu adalah yang layak di maqam ketuhanan. Bagaimana? Walahu'alam. Tapi sesiapa yang masuk kealam lahut, ia akan faham begitu kerana alam lahut ialah alam antara sisalik dan Allah swt berdua-duaan. Apa-apa rahsia, apa-apa kashaf adalah antara sisalik dan Allah swt saja yang tahu. Dan sisalik di"buka' faham. Berapa lama? Itu diatas kehendak Allah. Ada sekejap , ada lama, ada selama-lamanya(tak sedar).

Siapa yang dipilihnya? Ahli tasauf yang ahli atau guru murshidnya. Sisalik tidak tahu. Yang dia tahu Allah swt saja yang wujud. ATAU bila dia sedar kembali dari mabuk ketuhanan nya atau SOBER setelah Intoxicated, diberitahu baru dia tahu yang dia itu telah mengalami SYATAH.

Mestikah seseorang salik sebelum meningkat maqamnya perlu melalui zauk ini? Walahu'alam. Itu urusan Allah swt. Tentu sekali yang taat kepadanya, banyak mengingati, yang suci hatinya dan ada juga dikalangan orang-orang2 kafir seperti yang pernah berlaku dimasa Shaikh Abdul Qadir al-Jilani ... ada seorang paderi kristian ... tiba-tiba dimasukan kealam lahut ... dan diberi pangkat WALI ABDAL. Dan Shaikh Abdul Qadir diperintah menjemput paderi itu ke majlis wali-wali. Mana boleh buat-buat sendiri. Allah swt lah yang menarik masuk kealam lahut. Naam ... dari satu maqam ke satu maqam ... tentu lah setelah mengalami zauk-zauk haqiqat ketuhanan.

Fana itu HASIL dari Zauk. FANA tu tak kabar ... sebab zauk/sedap makan budu ... tok tuo (mertua) lalu belakang pun tak sedar. Tak kabar - itulah fana. Sedap budu - itulah zauk.

Zauk terdiri daripada pelbagai rasa kah? Naam. Ada zauk ZAT, ada zauk sifat ,ada zauk asma', ada zauk af'al. Tok Guru kata ada berjuta-juta rasa. Antara satu dengan yang lain tidak sama. Misalnya zauk qiam tidak serupa dengan zauk sujud. Zauk baca alhamdullilah hirabbil ‘alamin tidak serupa dengan zauk baca malikiyau middin. Dalam solat saja ada berjuta-juta zauk. Dan zauk itu tidak serupa dengan zauk makanan, buah-buahan, zauk bersetubuh dengan isteri dan lain-lain. Bahkan lebih lazat, sedap, manis ... dan ia BANGSA KETUHANAN. Siapa rasa dia tahu. Begitu lah tok guru beritahu.

Ia bukan zauk semata-mata, tetapi diiringi dengan ilmu-ilmu laduni, sir-rahsia-rahsia ketuhanan dan alam, rahsia zikir dan lain-lain. Zauk yang menghasilkan ilmu. Ilmu haqiqat - laduni.

Matan: Sehingga disangka oleh yang mendengar atau yang melihat yang tiada biasa dengan perkara-perkara yang didalam alam lahut itu dengan sangkaan baik, jahat, fasiq, kufur, zindiq, keluar dari ugama. Dinama akan perkara-perkara yang zahir semacam itu dengan nama syatah (kelatahan) seperti yang keluar dari Hallaj dan seumpamanya hingga dibunuh orang akan dia

Syarah MH

Biasanya guru yang arif akan mengurung murid-murid yang mengalami SYATAH ini buat sementara waktu. Bagaimana pula jika guru yang syatah? Sebab pernah berlaku .... ada seorang anak murid, baru dapat anak.Pergilah sianak murid itu kepada gurunya, untuk minta berikan nama anaknya. Ketika itu gurunya sedang mabuk dalam alam lahut. ANAK MURID: Tok Guru, tolong berikan nama kepada anak saya ini. TOK GURU: ALLAH. Terpinga-pinga anak murid, boleh kan anak nya nama ALLAH!

MABUK Allah atau FANA ini pada peringkat permulaan saja. Jika tidak syatah terselamatlah dari fitnah atau sangkaan-sangkaaan.

Dari segi syariat, tiada hukum sebab tidak ada AQAL. Sebab zauk terlampau kuat, menyentap aqal berfikirnya. TAPI ada juga MH dengar, yang mengatakan ia dihukum sebab menceritakan tentang rahsia ketuhanan. Sheikh Junaid al-Baghdadi, meluluskan ia dihukum dari segi syariat. Shaikh Abdul Qadir Jailani pula mengatakan, jika Hallaj hidup zaman aku, aku akan tahan dia dari dihukum.

Ada juga riwayat dari ahli tasauf mengatakan..ketika Aisyah masuk ingin jumpa bertemu Nabi saw. Nabi saw sedang mabuk ketuhanan.

Nabi saw : Siapa kamu?

Aisyah : Ana. Aisyah.

Nabi saw : Siapa Aisyah?

Aisyah : Anak Abu bakar.

Nabi saw : Siapa Abu Bakar?

Aisyah : Mertua Muhammad.

Nabi saw : Siapa Muhammad?


Dari riwayat ini MH tidak berapa boleh terima KERANA Nabi saw adalah istimewa, baginda tidak akan mengalami FANA atau mabuk ketuhanan. Walahu'alam.

Matan: Maka sebenarnya, perkara-perkara yang seumpama itu, yang keluar dari seseorang yang didalam alam itu, ialah sebagai mengkhabar, menterjemahkan, menghikayatkan akan perkara-perkara yang berlaku antaranya dan antara Tuhannya, di dalam alam itu samada perkara iktikadnya sendiri atau bukannya.
Bandingannya ialah sebagaimana perkataan yang keluar daripada mulut orang sakit yang masuk hantu, disangka oleh setengah daripada orang yang mendengar ialah perkataan orang sakit itu, pada halnya, perkataan hantu yang diorang sakit itu, menumpang ia akan mulutnya pada mengkhabarkan kehendak-kehendaknya, kerana orang sakit kemudian dari takdok (tiada) hantu itu padanya, sedar ia, dan tak tahu ia akan apa-apa yang berlaku padanya daripada perkataan dan perbuatan dan perangai dan lain-lainnya. Kerana bangsa jin dan malaikat tidak boleh bercakap dengan cakapan manusia melainkan dengan menumpang akan mulut manusia atau berupa dengan rupa manusia atau masuk manusia itu kedalam alam jin iaitu alam malakut.

Demikanlah bermacam-macam zauk ketuhanan yang merasa akan dia, oleh orang yang hadir didalam alam lahut hingga berubah hal-hal setengah dari orang yang merasa akan dia itu, dengan bermacam-macam hal kerana mengikutnya akan bermacam-macam zauk itu, dinama akan dia oleh ahlinya itu dengan bermacam-macam nama seperti: Wahdatul Wujud, Jama, Fana, Baqa' dan lain-lainnya.

Sekianlah matan dari kitab Risalah Tasauf berkenaan Alam Lahut.
Kitab Risalah TasawufSocialTwist Tell-a-Friend

Popular Posts

Segala bahan bacaan disini adalah untuk umum dan HAK CIPTA ITU MILIK ALLAH SEMUANYA. Anda boleh ambil sebagai bahan rujukan ataupun bahan posting di blog-blog atau website anda TANPA PERLU MEMBERI SEBARANG KREDIT KEPADA BLOG INI.