Ahmad Rifaie Al Ahmadi Idrisi


Search This Blog

PERINGATAN MAULID NABI SAW



Oleh Habib Munzir

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,

maulid adalah Bid;ah hasanah, dan Bid;ah hasanah diperbolehkan oleh Rasul saw, betul makna tsb, kita tidak boleh beramal selain apa apa yg telah diperintahkan atau diajarkan oleh Nabi saw, dan Nabi saw sudah bersabda : Barangsiapa yg mengada adakan hal baru berupa kebaikan dalam islam (tidak bertentangan dg syariah), maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya, dan barangsiapa membuat buat hal baru berupa keburukan, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya. (Shahih Muslim).

sebenarnya permasalahan maulid sudah saya jawab, anda dapat mendownloadnya pada kiri web ini, yaitu : download buku kenalilah akidahmu.

buku saya tsb memuat segenap pembahasan tentang Bid'ah, mauilid, tawassul., tahlil., ziarah kubur, istighatsah, dll.

namun berikut saya kutipkan untuk anda mengenai maulid dari buku saya tsb.

PERINGATAN MAULID NABI SAW

ketika kita membaca kalimat diatas maka didalam hati kita sudah tersirat bahwa kalimat ini akan langsung membuat alergi bagi sebagian kelompok muslimin, saya akan meringkas penjelasannya secara ‘Aqlan wa syar’an, (logika dan syariah).

Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yg membuat mereka gembira, apakah keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya, demikian adat istiadat diseluruh dunia.

Sampai disini saya jelaskan dulu bagaimana kegembiraan atas kelahiran Rasul saw.

Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya

• Firman Allah : “(Isa berkata dari dalam perut ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS Maryam 33)

• Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS Maryam 15)

• Rasul saw lahir dengan keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177)

• Berkata Utsman bin Abil Ash Asstaqafiy dari ibunya yg menjadi pembantunya Aminah ra bunda Nabi saw, ketika Bunda Nabi saw mulai saat saat melahirkan, ia (ibu utsman) melihat bintang bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan diatas kepalanya, lalu ia melihat cahaya terang benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang benderangnya kamar dan rumah (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)

• Ketika Rasul saw lahir kemuka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam)

• Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yg terang benderang hingga pandangannya menembus dan melihat Istana Istana Romawi (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)

• Malam kelahiran Rasul saw itu runtuh singgasana Kaisar Kisra, dan runtuh pula 14 buah jendela besar di Istana Kisra, dan Padamnya Api di Kekaisaran Persia yg 1000 tahun tak pernah padam. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)

Kenapa kejadian kejadian ini dimunculkan oleh Allah swt?, kejadian kejadian besar ini muncul menandakan kelahiran Nabi saw, dan Allah swt telah merayakan kelahiran Muhammad Rasulullah saw di Alam ini, sebagaimana Dia swt telah pula membuat salam sejahtera pada kelahiran Nabi nabi sebelumnya.


Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw

Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim hadits no.1162). dari hadits ini sebagian saudara2 kita mengatakan boleh merayakan maulid Nabi saw asal dg puasa.

Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw. Karena beliau saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia dan boleh boleh saja..”, namun beliau bersabda : “itu adalah hari kelahiranku”, menunjukkan bagi beliau saw hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah dari hari hari lainnya, contoh mudah misalnya zeyd bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat umroh pada 1 Januari?”, maka amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah.. bukankah jelas jelas bahwa zeyd memahami bahwa 1 januari adalah hari yg berbeda dari hari hari lainnya bagi amir?, dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yg perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dg hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah hari kelahirannya, dan Nabi saw tak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yg lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu adalah hari kelahirannya, maka mereka yg berpendapat bahwa boleh merayakan maulid hanya dg puasa saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman terhadap ilmu bahasa.

Orang itu bertanya tentang puasa senin, maksudnya boleh atau tidak?, Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada pribadi beliau saw, sekaligus diperbolehkannya puasa dihari itu.

Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yg perhatian pada hari kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.


Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw


Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)


Kasih sayang Allah atas kafir yg gembira atas kelahiran Nabi saw

Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431). Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dg kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.

Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw maka Imam imam diatas yg meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam dan mereka tak mengingkarinya.


Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid


Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)


Ini menunjukkan bahwa pembacaan Syair di masjid tidak semuanya haram, sebagaimana beberapa hadits shahih yg menjelaskan larangan syair di masjid, namun jelaslah bahwa yg dilarang adalah syair syair yg membawa pada Ghaflah, pada keduniawian, namun syair syair yg memuji Allah dan Rasul Nya maka hal itu diperbolehkan oleh Rasul saw bahkan dipuji dan didoakan oleh beliau saw sebagaimana riwayat diatas, dan masih banyak riwayat lain sebagaimana dijelaskan bahwa Rasul saw mendirikan mimbar khusus untuk hassan bin tsabit di masjid agar ia berdiri untuk melantunkan syair syairnya (Mustadrak ala shahihain hadits no.6058, sunan Attirmidzi hadits no.2846) oleh Aisyah ra bahwa ketika ada beberapa sahabat yg mengecam Hassan bin Tsabit ra maka Aisyah ra berkata : “Jangan kalian caci hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw”(Musnad Abu Ya’la Juz 8 hal 337).


Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid

1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :

Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)

2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :

Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :

Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.

4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :

Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :

Serupa dg ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab

6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah

berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yg sangat besar”.

7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah

dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”

8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah

dengan karangan maulidnya yg terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.

9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah

dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi


dg karangan maulidnya yg bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”

11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri

dg maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”

12. Imam al Hafidh Ibn Katsir

yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : ”maulid ibn katsir”

13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy

dg maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”

14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy

telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

15. Imam assyakhawiy

dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yg terkenal dg ibn diba’

dg maulidnya addiba’i

18. Imam ibn hajar al haitsami

dg maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam

19. Imam Ibrahim Baajuri

mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar

20. Al Allamah Ali Al Qari’

dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji

dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji

23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
dg maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad

24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
dg maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’

25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
dg maulid al maulid mustofa adnaani

26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy

dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”

27. Syihabuddin Al Halwani

dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif

28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati

dg maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar

29. Asyeikh Ali Attanthowiy

dg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa

30. As syeikh Muhammad Al maghribi

dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.


Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yg menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yg jelas jelas meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.


Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid

Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari menyambut kedatangan Islam dan Syariah Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yg dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.

Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, sebagaimana yg dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yg adil dan yg semacamnya merupakan hal yg baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yg dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yg duduk, dan Imam Nawawi yg berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang, namun adapula pendapat lain yg melarang berdiri untuk penghormatan.(Rujuk Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal 93)

Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yg tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir,

semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri penghormatan yg Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri untuk memuliakan beliau saw.

Jauh berbeda bila kita yg berdiri penghormatan mengingat jasa beliau saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk semangat kita menyambut risalah Nabi saw, dan penghormatan kita kepada kedatangan Islam, dan kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.

Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yg padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh Imam imam yg hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yg luhur dan cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan,

dan berkata Imam Ibn Hajar Alhaitsamiy rahimahullah bahwa Bid’ah hasanah sudah menjadi kesepakatan para imam bahwa itu merupakan hal yg sunnah, (berlandaskan hadist shahih muslim no.1017 yg terncantum pd Bab Bid’ah) yaitu bila dilakukan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa, dan mengadakan maulid itu adalah salah satu Bid’ah hasanah,

Dan berkata pula Imam Assakhawiy rahimahullah bahwa mulai abad ketiga hijriyah mulailah hal ini dirayakan dengan banyak sedekah dan perayaan agung ini diseluruh dunia dan membawa keberkahan bagi mereka yg mengadakannya. (Sirah Al Halabiyah Juz 1 hal 137)

Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yg diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yg sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yg dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yg mengingkarinya karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah), karena hal ini merupakan hal yg mustahab (yg dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa “Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yg menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib.

contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yg wajib .

contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yg hukumnya sunnah.

Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah merupakan hal yg wajib pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dg Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini adalah dengan perayaan Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi wajib, karena menjadi perantara Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta silaturahmi.

Sebagaimana penulisan Alqur’an yg merupakan hal yg tak perlu dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yg membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yg wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat, walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah.

Hal semacam in telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yg awam, namun hanya sebagian saudara saudara kita muslimin yg masih bersikeras untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan hati dan kejernihan, amiin.

Walillahittaufiq

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a'lam

Sumber

Download buku kenalilah akidahmu
PERINGATAN MAULID NABI SAWSocialTwist Tell-a-Friend

Antara Para Fuqaha’ dan Golongan Sufi

.
Dalam sastera Islam terdapat banyak pembahasan di antara golongan fuqaha dan ahli Sufi. Akan kita dapati pada hakikatnya, kebanyakkan dari pembahasan mereka akan berakhir dengan pengakuan golongan fuqaha ini terhadap jasa-jasa golongan sufi. Antaranya yang dapat kita saksikan adalah seperti berikut:

Pertama, dari Imam Asy-Syafi’I ra., katanya: “Aku bertemankan dengan orang-orang dari golongan sufi dan mengambil dua kalimat dari mereka, iaitu: Apabila dirimu tidak disibukkan dengan kebenaran, nescaya ia akan disibukkan dengan kebatilan, dan waktu itu laksana pedang, sekirannya engkau tidak memotongnya, maka dia akan memotongmu.”

Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal ra. mewasiatkan kepada puteranya agar menemui orang-orang sufi pada masanya. Dikatakan olehnya, “Sesungguhnya mereka itu mencapai, di dalam keikhlasannya, maqam yang tidak kau capai.”

Kedua, dikatakan bahawa Daud Ath-Tha-i mengikuti tasawuf kerana ucapan Imam Abu Hanifah ra. kepadanya, iaitu setelah dia belajar fiqh kepada Abu Hanifah, “Wahai Abu Sulaiman (julukan Daud Ath-Tha-i), dalam hal penyampaian, kita sudah selesai.” Kata Daud, “Lalu apa yang tersisa, ya sayyidi?” Imam Abu Hanifah ra. menjawab, “Pengalamannya.” Maka Daud melakukannya dengan penuh semangat melalui bimbingan Al-Jadd, dan tasawufnya melalui Khubaib Al-‘Ajami.

Ketiga, diriwayatkan bahawa Imam Ahmad bin Hanbal ra. sedang berada di majlis Imam Asy Syafi’i ra. ketika datang Syaiban Ar Ra’i. Berkata Imam Ahmad, “Wahai Abu ‘Abdullah, aku ingin mengingatkan orang ini tentang kurangnya ilmunya, agar dia berusaha untuk menimba beberapa ilmu.” Imam Asy Syafi’i berkata, “Jangan lakukan itu!” Namum Imam Ahmad belum puas, sehingga ia bertanya kepada Syaiban, “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang melupakan solat lima waktu dalam waktu sehari semalam dan tidak mengetahui mana yang dilupakannya dari yang diwajibkan atas dirinya, Syaiban?” Maka Syaiban menjawab, “Wahai Ahmad, itulah dia hati yang lalai terhadap Allah, sehingga wajiblah dia belajar agar tidak melupakan Tuhannya lagi!” Mendengar itu, Imam Ahmad jatuh pingsan sejenak. Setelah sedar kembali, Imam Asy Syafi’i berkata kepadanya, “Bukankah aku sudah katakan, jangan kau lakukan demikian?”

Syaiban Ar Ra’i termasuk golongan sufi yang ummi. Kalau keadaan yang ummi sahaja seperti itu, bagaimana pula dengan para pemimpinnya?

Keempat, dikisahkan bahawa seorang tokoh faqih yang serupa sekali dengan Asy Syibli di Jami’ Al Manshur. Dikatakan bahawa si faqih biasa dipanggil dengan sebutan Abu ‘Imran, dan pelajaran mereka terhenti kerana kata-kata Asy-Syibli.

Pada suatu hari sahabat-sahabat Abu ‘Imran bertanya kepada Asy-Syibli tentang soal haid. Tujuan mereka adalah untuk memalukannya. Mereka menyebut beberapa perkataan dalam pembahasan itu dan perbezaannya. Maka berdirilah Abu ‘Imran. Diciumnya kepala Asy-Syibli seraya berkata, “Wahai Abu Bakar, beruntunglah dalam soal ini Anda mengemukakan sepuluh kalimat yang belum pernah kudengar. Dari kalimat-kalimat yang kau katakan itu, aku hanya mengetahuinya tiga kalimat sahaja.”

Kelima, seorang faqih bernama Abu’l ‘Abbas bin Suraij menghadiri majlis Al Junaid ra. dan mendengar ucapan-ucapannya. Kemudian dia bertanya kepada Al-Junaid, “Bagaimana pendapatmu tentang perkataan seperti ini?” Al-Junaid menjawab, “Aku tidak tahu apa yang dikatakan, tetapi ku lihat perkataan itu memiliki gema yang bukan gema suara orang yang bathil.”

Keenam, dikatakan kepada ‘Abdullah bin Sa’id bin Kilab, “Engkau adalah orang yang mampu berbicara dengan orang ramai. Di sini ada seseorang yang bernama Al-Junaid. Cubalah kau lihat apakah engkau dapat melawan dia atau tidak.” Maka orang itu datang di majlis ilmu Al-Junaid dan menanyakan soal tauhid kepadanya. Setelah dijawab, ‘Abdullah bin Sa’id menjadi hairan dan berkata, “Cuba ulangilah apa yang kau katakana.” Al-Junaid mengulangi jawapannya, tetapi tidak seperti yang pertama. Kata ‘Abdullah, “Ini adalah suatu yang lain yang tidak kuhafal. Ulangilah sekali lagi.” Al-Junaid mengulanginya tetapi dengan cara yang lain lagi. Maka berkatalah ‘Abdullah, “Tidak mungkin aku menghafal apa yang kau katakan. Jelaskanlah kepada kami.” Al-Junaid berkata, “Kalau engkau menggolongkannya, aku akan mencatitkannya.” ‘Abdullah berdiri dan mengakui keunggulan serta ketinggian nilainya.

Ketujuh, pernah terjadi perdebatan yang indah antara seorang faqih bernama Ibnu Basyar dengan Imam Asy-Syibli dari golongan sufi. Ibnu Basyar dan kawan-kawannya dari kalangan fuqaha’ menolak golongan sufi pada zaman itu, termasuk di dalamnya Asy-Syibli. Pada suatu kesempatan, Ibnu Basyar menjumpai Asy-Syibli dan membahas sesuatu daripada ilmu. Apabila bertemu, Ibnu Basyar bertanya, “Berapa yang ada di dalam seekor unta?” Asy-Syibli cuma diam sahaja, sehingga Ibnu Basyar mengulangi pertanyaannya. Akhirnya Asy-Syibli bertanya lagi, “Apakah yang kau maksudkan itu zakatnya?” Dia menjawab, “Benar.” Maka berkatalah Asy-Syibli, “Yang diwajibkan oleh syari’at ialah satu ekor kambing, dan yang diharuskan atas orang seperti kita ialah seluruhnya.” Ibnu Basyar bertanya kembali, “Apakah engkau mempunyai contoh tentang hal itu?” Jawab Asy-Syibli, “Ya. Abu Bakar As-Siddiq. Dia mengeluarkan seluruh hartanya pada jalan Allah.” Ketika Rasulullah saw. Bertanya, “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargmu?” Dia menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya.” Maka pulanglah Ibnu Basyar kepada teman-temannya bersama fuqaha’ dengan raut wajah yang berbeza. Dia berkata kepada mereka “Ternyata golongan sufi telah membawa kebaikan seluruhnya, sedangkan kita membuang sia-sia usia kita dalam perdebatan.”

Kelapan, Imam Asy-Sya’rani mengisahkan sebuah cerita lucu. Konon seorang faqih bernama Ibnu Suraij mengingkari Imam Abu’l Qasim Al-Junaid. Kepada Al-Junaid, dia berkata, “Tarekat kami melahirkan ahli-ahli dalam fiqh dan membawa kami jalan yang paling dekat kepada Allah daripada tarekat kamu, iaitu yang dituju oleh orang-orang sufi.” Al-Junaid berkata, “Engkau harus membawa bukti tentang hal itu.” Kata Ibnu Suraij, “Engkaulah yang harus membawa kami bukti.” Maka berkatalah Al-Junaid, “Hai fulan, pungutlah batu itu lalu lemparkanlah ketengah-tengah golongan orang-orang fakir.” Setelah batu dilemparkan, orang-orang fakir itu berseru, “Allah… Allah… Allah…!” Kemudian Al-Junaid berkata lagi, “Sekarang lemparkan batu itu ketengah-tengah golongan fuqaha’.” Setelah batu dilemparkan, maka para fuqaha’ itu berteriak, “Haramlah kamu! Buat kami terperanjat sahaja!” Ibnu Suraij bangun lalu mencium kepala Al-Junaid serta mengakui keutamaannya. Maka Al-Junaid berkata kepadanya, “Sebenarnya pada diri kamulah keutamaan itu, sebab pokok dasar tarekat kami adalah ilmu yang ada pada kamu.” Namun Ibnu Suraij menjawab, “Bukan, kamulah yang lebih utama. Kamu menambah bagi kami kebaikan mu’amalah dengan Allah.”

Berita-berita tentang golongan sufi seperti ini sangat banyak. Untuk pembahasan kita, cukuplah sampai disini.
Antara Para Fuqaha’ dan Golongan SufiSocialTwist Tell-a-Friend

SOLAT TASBIH

.
Solat Tasbih merupakan amalan yang digalakkan bagi seseorang salik. Hendaklah dilakukannya mengikut kelapangan dan kemampuan. Waktu yang paling afdhal mengerjakannya ialah pada malam Jumaat atau hari Jumaat atau pada bulan Ramadhan dan pada musim-musim yang baik.

Dalam hadith, ada menyebut: "Hendaklah dilakukan (solat tasbih) sama ada seminggu sekali, sebulan sekali atau setahun sekali atau pun sekali dalam seumur hidup."

Secara ringkas cara melakukan solat tasbih adalah seperti berikut:

Sekiranya dilakukan pada waktu siang, maka hendaklah dilakukan sebanyak 4 rakaat sekali gus dengan satu salam. Lafaz niatnya ialah:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى

"Sahaja aku solat sunat tasbih empat rakaat kerana Allah Taala."

Sekiranya dilakukan pada waktu malam, maka hendaklah dilakukan sebanyak 4 rakaat dengan dua salam. Lafaz niatnya ialah:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

"Sahaja aku solat sunat tasbih dua rakaat kerana Allah Taala."


# Pada rakaat pertama, setelah membaca surah al-Fatihah dan surah yang dikehendaki, baca tasbih di bawah sebanyak 15 kali sebelum ruku':

سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّـهِ، وَلَا إِلَـهَ إِلَّا اللهُ، وَ اللهُ أَكْبَرُ

"Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar."

# Ruku' dan setelah membaca bacaan tasbih ruku', baca tasbih di atas sebanyak 10 kali.

# I'tidal dan setelah membaca tahmid i'tidal baca tasbih di atas 10 kali.

# Sujud dan setelah selesai membaca tasbih sujud, baca tasbih di atas 10 kali.

# Duduk di antara dua sujud dan setelah selesai bacaan ketika duduk di antara dua sujud, baca tasbih di atas
10 kali.

# Sujud kedua dan setelah selesai membaca tasbih sujud baca tasbih di atas 10 kali.

# Semasa bangun dari sujud kedua duduk sebentar sebelum berdiri dan membaca tasbih di atas 10 kali.

Seluruh tasbih yang dibaca pada rakaat pertama sebanyak 75 kali dan apabila didarabkan dengan 4 rakaat, maka semuanya menjadi 300 kali.

# Setiap kali ketika duduk tahyat akhir sebelum membaca tahyat hendaklah membaca tasbih di atas 10 kali.

#Setelah selesai tahyat, beri salam. Lakukan cara yang sama pada rakaat berikutnya.

# Sekiranya terlupa membaca tasbih di satu-satu tempat, bolehlah diganti pada tempat yang berikutnya hingga bacaan tasbih menjadi 300.

Di dalam riwayat Tabrani mengatakan: "Sekiranya dosa kamu seperti buih-buih di lautan atau pasir-pasir, nescaya Allah akan mengampunkan dosa-dosa kamu itu."

Abdul Aziz ibn Abu Daud berkata: Sesiapa yang inginkan syurga, maka hendaklah mengerjakan solat tasbih.

Abu Uthman al Khairi al Zahid berkata: "Aku tidak pernah melihat perkara yang lebih berat dan lebih susah seperti sembahyang tasbih."
SOLAT TASBIHSocialTwist Tell-a-Friend

Hadis mengenai Mimpi Rasulullah s.a.w


.
Hadis yang membicarakan tentang penyelamatan dari siksa kubur iaitu Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Madini serta diterangkan sekali illatnya di dalam kitab 'At-Targhib wat-Tarhib' serta dijadikannya sebagai keterangan yang lengkap.

Diriwayatkan daripada Al-Faraj bin Fudhalah, katanya telah berbicara kepadaku Hilal Abu Jabalah, daripada Said bin Al-Musaiyib, daripada Abdul Rahman bin Samurah, katanya: Telah datang Rasulullah s.a.w kepada kita, sedang kita berada di Shuffah dekat dengan kota Madinah, lalu berbicara kepada kita, katanya:

1. Sesungguhnya aku telah bermimpi ajaib malam kelmarin, Aku telah melihat seorang dari umatku telah didatangi oleh malakul-maut untuk mengambil nyawanya, maka menjelmalah ketaatannya kepada kedua ibu bapanya, lalu menghalang Malaikat-maut itu daripadanya.

2. Aku melihat juga seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan, maka menjelmalah zikrullah, lalu mengusirnya syaitan-syaitan itu daripadanya.

3. Aku melihat seorang dari umatku telah diseret oleh Malaikat-azab, maka segera menjelang sembahyangnya serta melepaskannya dari tangan mereka.

4. Aku melihat juga seorang dari umatku sedang ditimpa dahaga yang berat, setiap ia mendatangi suatu perigi, dihalang untuk meminum daripadanya, maka segera menjelang puasanya serta memberinya minum hingga ia merasa puas.

5. Aku melihat juga seorang dari umatku yang mengunjungi kumpulan para Nabi, yang ketika itu sedang duduk berkumpul-kumpul, setiap ia mendekati mereka, ia diusir dari situ, maka menjelmalah mandi junub-nya sambil memimpinnya ke kumpulanku seraya menunjuknya supaya duduk di sisiku.

6. Aku melihat juga seorang dari umatku dikabusi oleh suasana gelap-gulita, di hadapannya gelap, di kanannya gelap, di kirinya gelap, di atas kepalanya gelap, di bawahnya juga gelap, sedang ia dalam keadaan bingung, maka menjelmalah haji umrahnya,lalu mengeluarkannya dari suasana gelap-gulita itu dan memasukkannya ke dalam suasana terang-benderang.

7. Aku melihat juga seorang dari umatku berbicara kepada kaum Mu'minin, akan tetapi tidak seorang pun dari mereka yang mahu membalas bicaranya, maka menjelmalah silatur-rahimnya seraya menyeru orang-orang itu, katanya: Wahai kaum Mu'minin, sesungguhnya orang ini sangat suka membantu kaum kerabatnya, maka sambutlah bicaranya, lalu mereka pun berbicara dengannya, mereka lalu bersalaman dengannya.

8. Aku melihat juga seorang dari umatku sedang menepis-nepis bahang api dan percikannya dari mukanya, maka segera menjelmalah sedekahnya lalu menabiri muka dan kepalanya dari bahaya api itu.

9. Aku melihat juga seorang dari umatku sedang diseret oleh Malaikat Zabaniah ke merata tempat, maka menjelmalah Amar Ma'ruf dan Nahi Munkarnya seraya menyelamatkannya dari cengkaman mereka serta menyerahkannya pula kepada Malaikat-rahmat.

10. Aku melihat juga seorang dari umatku sedang merangkak-rangkak, antaranya dengan Tuhan dipasang hijab (tabir), maka menjelmalah budipekertinya seraya memimpinnya sehingga dibuka hijab tadi dan masuklah ia ke hadhrat Allah Ta'ala.

11. Aku melihat juga seorang dari umatku terheret ke sebelah kiri oleh buku catitannya, maka menjelmalah perasaan takutnya kepada Allah lalu menukarkan tujuan buku catitan itu ke arah kanan.

12. Aku melihat juga seorang dari umatku terangkat timbangannya, maka menjelmalah anak-anaknya yang mati kecil, lalu menekan timbangan itu sehingga menjadi berat pula.

13. Aku melihat juga seorang dari umatku sedang berdiri di pinggir Jahanam, maka menjelmalah perasaan gerunnya terhadap siksa Allah Ta'ala, lalu membawanya jauh dari tempat itu.

14. Aku melihat juga seorang dari umatku terjerumus ke dalam api neraka, maka menjelamalah airmatanya yang mengalir kerana takut kepada Allah Ta'ala, lalu menyelamatkannya dari api neraka itu.

15. Aku melihat juga seorang dari umatku sedang meniti Shirat (titian) manakala seluruh tubuhnya bergoncang, seperti bergoncangnya dedaun yang ditiup angin, maka menjelmalah baik sangkanya terhadap Allah Ta'ala, lalu menenteramkan kegoncangannya itu dan mudahlah ia meniti hingga ke hujung titian itu.

16. Aku melihat juga seorang dari umatku sedang meniti di atas Shirat, kadangkala ia merangkak dan kadangkala ia meniarap, maka menjelmalah selawatnya ke atas diriku, lalu ia pun memimpin tangannya dan mengajaknya berdiri dan meniti hingga ke penghujung titian itu.

17. Aku melihat seorang dari umatku sudah hampir tiba di pintu syurga, dan dengan sekonyong-konyong pintu-pintunya ditutup, maka menjelmalah penyaksiannya bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, lalu membukakan pintu-pintu syurga itu untuknya, sehingga ia boleh memasukinya.


Berkata Al-Hafizh Abu Musa: Ini adalah Hadis hasan (Bagus) diriwayatkan daripada Said bin Al-Musaiyib, Umar bin Zar dan Ali bin Zain bin Jad'aan.
Hadis mengenai Mimpi Rasulullah s.a.wSocialTwist Tell-a-Friend

Keutamaan Dzikir dan Kalimah Tauhid


Dari Abdullah bin Umar ra bahawasanya Rasulullah SAW bercerita kepada mereka bahwa salah seorang hamba Allah mengucapkan:


يَارَبِّ لَكَ الْحَمْدُكَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

"Wahai Tuhanku, hanya bagimulah segala puji, sebagaimana dengan kebesaran DzatMu dan keagungan kekuasaanMu"

Lalu keduanya naik ke langit dan berkata: "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya hambaMu mengucapkan dzikir, kami tidak mengetahui bagaimana mencatatnya. Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman pada hal Dia lebih mengetahui terhadap apa yang dikatakan oleh hambaNya : "Apakah yang diucapkan hambaKu?". Keduanya menjawab : "Bahawasanya ia mengucapkan : "Wahai Tuhanku, hanya bagimulah segala puji, sebagaimana dengan kebesaran DzatMu dan keagungan kekuasaanMu".

Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : "Tuliskan seperti apa yang diucapkan oleh hamba-Ku, sehingga ia menjumpai Aku, lalu Aku membalasnya dengan apa yang diucapkan itu".(Hadis ini ditakhrijkan oleh An Nasa'i)


Penjelasan Hadis:

Bahwasanya salah seorang hamba Allah yang mengucapkan:

يَارَبِّ لَكَ الْحَمْدُكَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

Maka bersungguh-sungguh malaikat namun tidak tahu bagaimana mencatatnya.

Dua malaikat merasa berat terhadap kalimat ini, sehingga keduanya tidak mengetahui kadar pahala yang dicatatnya kerana kalimat itu pahalanya besar, hanya diketahu oleh Allah Ta'ala, dan Allah tidak menunjukkan kadar pahalanya kepada kedua malaikat itu.
Keutamaan Dzikir dan Kalimah TauhidSocialTwist Tell-a-Friend

Zikir Jami'ah

.
Zikir Jami'ah yang diambil daripada Rasulullah saw.

Hadith yang diriwayatkan daripada Juwairiyah Ummul Mukminin RA, bahawa Nabi saw keluar daripada rumahnya pada awal pagi ketika hendak mengerjakan solat Subuh, sedangkan Juwairiah ketika itu berada di tempat solatnya. Kemudian Nabi saw pun balik selepas masuk waktu Dhuha, sedangkan Juwairiah masih lagi duduk di tempat solatnya. Maka Nabi saw bersabda:

"Apakah kamu masih lagi dalam keadaan sepertimana aku tinggalkan kamu tadi?" Jawab Juwairiah, "Ya!" Maka Nabi saw bersabda, "Semasa aku meninggalkan kamu tadi, aku telah mengucapkan empat kalimah sebanyak tiga kali. Jika ia ditimbang dengan apa yang kamu ucapkan semenjak awal hari tadi, nescaya sama pahalanya dengan apa yang telah kamu ucapkan semenjak tadi, iaitu :

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ, عَدَدَ خَلْقِهِ, وَرِضَا نَفْسِهِ, وَزِنَةَ عَرْشِهِ, وَمِدَادَ كَلِمَا تِهِ

"Maha Suci Allah dengan segala kepujianNya, sebanyak bilangan makhlukNya, sebanyak keredhaan ZatNya, seberat timbangan ArasyNya dan sebanyak tinta yang menulis kalimah-kalimahNya."
Zikir Jami'ahSocialTwist Tell-a-Friend

Risalah Musamah bil Qawaid daripada Tuan Shaykh Ahmad bin Idris

.
Ini adalah Risalah Musamah bil Qawaid

daripada Saiyyidil Arifin Qutbul Muhaqiqin Saidi Ahmad bin Idris


---Bermula---


Adapun bekalan yang lengkap, kata-kata yang masin, atau senjata yang sakti dalam pengembaraan di jalan Allah, untuk seorang yang akal yang mahu menyelamatkan dirinya dari segala rupa kebinasaan dan mahu pula supaya Allah rnemasukkan dirinya dalam kumpulan “Al Muqarrabin” dalam segala urusan amalan hidupnya apabila dia mahu melakukan atau bercakap sesuatu hendaklah dia memahami serta mematuhi prinsip-prinsip ini.


Pertama: Hendaklah dia menganggapkan dirinya berada di hadapan Allah Subhanahu Wataala yang akan bertanya kepadanya mengenai perkara itu. Maka hendaklah dia menyediakan jawapan pertanyaan Allah itu sebelum dia memulakannya, jika dia mendapati jawapannya itu benar, tepat dan diredhai oleh Allah taala maka bolehlah dia melakukan perkara itu. Hasilnya dia akan mendapat sanjungan di dunia dan di akhirat.


Tetapi jika jawapan yang disediakannya itu fidak diterima oleh Allah dan tidak diredhaiNya maka hendaklah dia menjauhkan diri dari perkara itu kerana jika dilakukan buruk padahnya.


Asas Perbuatan


Prinsip ini adalah asas segala perbualan dan percakapan. Sesiapa yang berbuat dan berpegang teguh dengan prinsip ini segala perlakuannya adalah benar, tepat lahir dan batin tanpa sebarang kecacatan, inilah maksud sabda junjungan Nabi kita yang berbunyi


Ertinya : Hisablah diri kamu sebelum dihisabkan di akhirat nanti dan timbanglah diri kamu sebelum kamu ditimbang di akhirat nanti.


Kedua: Keredhaan Allah Bahawa seorang itu tidak melakukan apa-apa perbuatan dan tidak melafazkan suatu percakapan melainkan kerana mendapatkan keredhaan Allah.


Maka apabila sudah benar tujuan mencari keredhaan Allah dan bersih niatnya dari tujuan-tujuan lain daripada keredhaan Allah dan dia berpegang teguh dengan prinsip ini ketika itu dia tidak akan berkata dan melakukan sesuatu melainkan dengan memastikan kebenarannya dan dengan berhati-hati. Ketika itu segala amalannya adalah semata-mata ikhlas dan kerana Allah jua dari segenap sudut.


lnilah maksud firman Allah taala kepada rasulNya yang teragung kekasihnya yang utama di dalam Al-Quran.


(Surah al-Kahfi ayat 28) Ertinya : Dan jadikanlah dirimu sentiasa berdamping rapat dengan orang-orang yang beribadat kepada Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang, yang mengharapkan keredaan Allah semata-mata


Dan firmanNya lagi :


Ertinya : Dan tidak seorang pun akan dibalas budi baiknya melainkan jika dia bertujuan mencari keredhaan Allah, dia akan mendapat keredhaan itu.


Ketiga: Belas Kasihan


Hendaklah seseorang itu menyematkan dalam hati sanubari perasaan belas kasihan terhadap semua orang Islam samada kaya atau miskin, berpangkat atau tidak dan hendaklah dia menunaikan hak-hak yang telah ditetapkan oleh Islam seperti memuliakan dan menjaga kedudukan mereka.


Maka apabila prinsip ni sudah bersemadi teguh dalam sanubari ketika itu Allah mengurniakannya rahmat Illahiyah melimpahi seluruh tubuh badannya dan dia dapat merasakan kemanisan rahmat lllah itu, maka dengan itu bererti ía mendapat sebahagian besar dan pusaka yang ditinggalkan oleh Nabi iaitu rahmatnya, seperti yang ditegaskan oleh Allah dalam firmannya:


(Surah al-Anbiya ayat 107) Ertinya : Kami tidak mengutuskan anda menjadi Rasul wahai Muhammad melainkan rahmat untuk sekalian alam.


Dan inilah juga maksud sabda Rasulullah


Ertinya : Allah mempunyai tiga kehormatan, sesiapa rnenjaganya nescaya Allah mempermudahkan urusan agama dan urusan dunianya. Sesiapa yang tidak menjaganya nescaya Allah tidak memberi apa-apa kemudahan untuknya. Tiga kehormatan itu ialah:


Kehormatan Islam


Kehormatanku (Rasulullah )


dan Kehormatan keluargaku .


Dan inilah juga maksud sabda junjungan . kepada Saidina Abu Bakar


Ertinya : Jangan anda menghina sesiapa pun orang Islam kerana orang Islam yang kerdil dan hina pada pandangan dunia itu adalah besar dan mulia di sisi Allah.


Keempat: Budi pekerti teras agama Islam


Budi pekerti yang mulia menjadi tugas untuk Rasulullah menyempurnakannya sebagaimana sabdanya:


Ertinya : Sesungguhnya saya diutus semata-mata untuk melengkapkan budi pekerti mulia.


Prinsip ini adalah satu-satunya teras agama Islam. Maksudnya seseorang Muslim itu hendaklah berlemah lembut terhadap keluarganya, para pekerjanya dan sekalian kaum Muslimin.


Sabda Rasulullah


Ertinya : Ahli syurga ialah orang yang lemah tembut, mudah tidak cerewet, dan ahli neraka itu pula ialah orang yang keras lagi kaba’tsar. Mereka itu bertanya, “Apa itu kaba’tsar ya Rasulullah ?” Baginda menjawab, “Kasar dan keras terhadap keluarga, kasar terhadap isteri, kasar terhadap saudara mara


Ertinya : Dan katakanlah sesuatu kepada manusia dengan sebaik-baiknya iaitu bukan yang terkeji..


Dan firman Allah lagi


Ertinya : Dan sampaikan kepada hambaku supaya rnereka mengatakan sesuatu yang baik.


Maksud yang baik itu ialah semua bentuk kebaikan dan juga yang lebih dari itu.


Ringkasnya : Apa sahaja kata-kata semangat dan perbuatan baik yang anda suka diperkatakan atau diperlakukan kepada anda maka hendaklah anda sampaikan kata-kata itu dan lakukan perbuatan itu terhadap orang-orang lain.


Begitu juga sebarang kata, percakapan dan perbuatan yang anda tidak suka disampaikan dan dilakukan kepada anda maka tinggalkanlah kerana Allah, melainkan seseorang itu mengikut perangainya dan kelakuannya terhadap makhluk lain. Allah akan memberi balasan yang setimpal kepada mereka. Maka sesiapa yang dapat memberi kegembiraan dan rahmat serta perlindungan kepada makhluknya nescaya akan mendapat balasan seperti itu dari Allah.


Begitulah sesiapa yang memuliakan seseorang hamba kerana hormatkan Tuan kepada hamba itu bererti dia telab memuliakan Tuan itu sendiri. Pengertian seperti inilah yang difahami daripada hadis Qudsi yang berbunyi:


Ertinya : Allah berkata kepada seorang hambanya pada hari kiamat, “Aku lapar tetapi engkau tidak memberiKu makan, Aku dahaga tapi engkau tidak mahu mengeluarkan air padaKu, Aku sakit tapi engkau tidak mahu menziarahiKu. Maka hamba itu bertanya kehairanan., bagaimana boleh lapar sedangkan Tuan yang memiliki seluruh alam? Bagaimana boleh dahaga sedangkan Tuan yang memilki seluruh alam? Bagaimana boleh sakit sedangkan Tuan yang memiliki seluruh alam?


Allah berfirman menerangkan kata-kata tadi, sesungguhnya hambaku Si Fulan itu sakit, jika engkau menziarahinya maka nescaya engkau dapati Aku bersamanya dan hambaku Si Fulan itu sedang kelaparan jika engkau memberinya makanan, nescaya engkau dapati Aku di sisinya, dan hambaku Si Fulan itu kehausan jika engkau memberinya minum nescaya engkau dapati Aku di sisinya.


Demikianaah Allah menerangkan yang dimaksudkan dengan ZatNya dalam firmanNya : HambaKu Si Fulan lapar, hambaKu Si Fulan sakit dan hambaKu Si Fulan minta air. Maka memberi layanan baik kepada hamba kerana menghormati Tuannya tidak syak lagi penghormatan kepada Tuan itu sendiri.


Orang yang berpegang teguh dengan sikap ini mengutamakan Allah Subhanahu Wataala dalam segala perkara.


Ketinggian budi pekerti seseorang itu terhadap Allah dan terhadap hambanya terhimpun dalam sabda junjungan kita Muhammad yang berbunyi:


Ertinya : Muliakan Allah taala dengan menjauhkan diri daripada perkara-perkara yang ditegah iaitu janganlah Allah melihat anda berada di tempot laranganNya dan janganlah Allah kehilangan anda dari tempat yang disuruhNya.


Sikap yang boleh menimbulkan perasaan malu seseorang terhadap Allah Subhanahu Wata'ala ialah sentiasa mengingat bahawa Allah memerhati dan menyaksikan tiap-tiap sesuatu seperti firmannya:


Ertinya : ... ketahuilah sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada dalam hati kamu, maka beringat-ingatlah kamu akan kemurkaanNya... (Surah al-Baqarah ayat 235)


Apabila hati seseorang hamba itu sentiasa menyedari perhatian Allah ini dan dia menjadikan kesedaran itu sebagal amalannya ketika itu timbullah perasaan malu untuk melafazkan atau melakukan sesuatu yang tiada diredhai oleh Allah kerana tidak layak dengan keagungan sedangkan dia sentiasa teringat firman Allah:


Ertinya : Dia (Allah) ada bersama kamu mana-mana sahaja kamu berada.Ya Allah tetap bersamanya dan memerhatikannya.


Kerana itu jika seorang hamba itu hendak berzina atau mencuri umpamanya sedangkan manusia ada yang memerhatikannya tentulah dia tidak sanggup melakukannya kerana perbuatan itu mendatangkan keburukan dan keaiban pada dirinya. Maka kalaulah begitu keadaannya bersama-sama makhluk lemah yang tidak dapat mendatangkan apa-apa bahaya atau pertolongan kerana takutkan jatuh maruah dan kedudukan di sisi manusia, maka tidaklah syak lagi ketika hatinya mengingat Allah di saat akan melakukan perbuatan yang tidak diredhai oleh Allah itu, dia akan meninggalkan perbuatan itu sama sekali.


Inilah maksud sabda junjungan kita Muhammad tentang pengertian Al-Ihsan iaitu:


Ertinya : Bahawa anda beribadat kepada Allah seolah-olah anda melihatNya, jika tidak melihatNya pun maka Allah tetap melihat anda.


Maka sesiapa yang berada dalam keadaan seperti ini tentu akan menunaikan ibadat itu dengan baiknya mengikut kadar kebaikannya tentang perhatian Allah kepadanya.


--- Selesai ---


Sumber: http://www.ahmadiah-idrisiah.com/qawaid.php
Risalah Musamah bil Qawaid daripada Tuan Shaykh Ahmad bin IdrisSocialTwist Tell-a-Friend

Amalan kepada Arwah

.
Kandungan:


1. Dalil yang diguna untuk mengatakan amalan dan doa orang lain tidak sampai kepada simati kecuali doa anak yang soleh.

2. Dalil yang mengatakan amalan dan doa orang yang hidup sampai kepada yang mati selain daripada doa anak yang soleh.

ISU 1: Adakah sumbangan anak yang soleh terhad kepada doa sahaja?

ISU 2: Adakah sumbangan yang soleh di atas terhad kepada anak sahaja?

ISU 3: Adakah sumbangan di atas terhad kepada amalan yang soleh sahaja?

3. Penutup



1. Dalil yang diguna untuk mengatakan amalan dan doa orang lain tidak sampai kepada simati kecuali doa anak yang soleh.



* Firman Allah s.w.t.:

أَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

Surah 53.39. dan bahawa sesungguhnya tidak ada (balasan) bagi seseorang melainkan (balasan) apa yang diusahakannya


* Firman Allah s.w.t.:

فَالْيَوْمَ لا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلا تُجْزَوْنَ إِلا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Surah 36.54. maka pada hari itu, tidak ada seseorang yang akan dianiaya sedikitpun, dan kamu pula tidak akan dibalas melainkan menurut amal yang kamu telah kerjakan.


* Firman Allah s.w.t.:

لا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ....

Surah 2.286. Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang diusahakannya....


* Hadith Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila ada orang meninggal dunia terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal, iaitu: Sedekah jariyah (yang mengalir), atau ilmu yang bermanfaat, atau anak soleh yang mendoakan untuknya." [Riwayat Muslim, Bulughul Maram-Ibnu Hajar Al-Ashqolani]


2. Dalil yang mengatakan amalan dan doa orang yang hidup sampai kepada yang mati selain daripada doa anak yang soleh.



* Firman Allah s.w.t.:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلا تَبَارًا

Surah 71.28. "Wahai Tuhanku! ampunkanlah bagiku, dan bagi kedua ibu bapaku, serta bagi sesiapa yang masuk ke rumahku dengan keadaan beriman; dan (ampunkanlah) bagi sekalian orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan (dalam segala zaman); dan janganlah Engkau tambahi orang-orang yang zalim melainkan kebinasaan!"


* Firman Allah s.w.t.:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Surah 59.10. dan orang-orang (Islam) yang datang kemudian daripada mereka (berdoa dengan) berkata: "Wahai Tuhan kami! ampunkanlah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau amat melimpah belas kasihan dan RahmatMu".


* Firman Allah s.w.t.:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Surah 14.41. "Wahai Tuhan kami! berilah ampun bagiku dan bagi kedua ibu bapaku serta bagi orang-orang yang beriman, pada masa berlakunya hitungan amal dan pembalasan"


* Hadith Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bila sholat jenazah berdoa: "Ya Allah ampunilah di antara kami orang yang masih hidup dan yang mati, yang hadir dan yang tidak, yang kecil dan besar, laki-laki dan perempuan. Ya Allah terhadap orang yang Engkau hidupkan di antara kami, hidupkanlah ia atas Islam dan terhadap orang yang Engkau wafatkan di antara kami, wafatkan ia atas iman. Ya Allah janganlah Engkau jauhkan kami dari pahalanya dan Engkau sesatkan kami sepeninggalnya."[Bulughul Maram-Ibnu Hajar Al-Ashqolani- Riwayat Muslim dan Imam Yang Empat.]


* Hadith Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu 'anhu ia berkata: Ketika kami bermakmum di belakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , kami membaca: "Keselamatan tetap pada Allah, keselamatan tetap pada si fulan". Suatu hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada kami: Sesungguhnya Allah adalah keselamatan itu sendiri. Jadi, apabila salah seorang di antara engkau duduk (membaca tasyahud) hendaknya membaca: "Segala kehormatan, semua rahmat dan semua yang baik itu milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkat-Nya dilimpahkan kepadamu, wahai Nabi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kami dan kepada para hamba-Nya yang saleh. Apabila dia telah membacanya, maka keselamatan itu akan menyebar kepada semua hambaAllah yang saleh, baik yang di langit maupun yang di bumi. "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah", kemudian berdoalah sesukanya.[Sahih Muslim, Kitab Solat#609 ]


* Hadith Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

Jabir bin Abdullah Radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang ketika mendengar azan mengucapkan:

اللهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةُ التَّامَّةِ ، وَالصَّلَاةِ الْقَا ئِمَةِ ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَ سِيْلَةَ وَ الْفَضِيْلَةَ ، وَابْعَثْهُ مَقَا مًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَ عَدْتَهُ .

"Ya Allah, Tuhan yang mensyariatkan seruan azan ini dan solat yang akan didirikan, berikanlah kepada Muhammad perantaraan dan keutamaan. Bangkitkanlah ia pada maqam (kedudukan) yang terpuji yang Engkau telah janjikan", maka pastilah ia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat." [ Sahih Bukhari, Kitab Azan, Bab8#340 ]



ISU 1: Adakah sumbangan anak yang soleh terhad kepada doa sahaja?



a. Bersedekah atas usaha sendiri untuk ibu

Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu 'anha : ia berkata: Bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dunia mendadak dan tidak sempat berwasiat. Tetapi aku menduga seandainya ia dapat berbicara, tentu ia akan bersedekah. Apakah ia mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Ya [Sahih Bukhari,Kitab Jenazah, Bab 93#693; Sahih Muslim, Kitab Zakat, Bab 11#1672; Bulughul Maram, Ibnu Hajar Al-Asqolani, Kitab Jual-beli#983 ]



b. Membayar nazar

Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa ada seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata, "Sesungguhnya ibuku bernazar untuk berhaji. Tetapi, ia belum sempat melaksanakannya sampai meninggal dunia. Apakah saya dapat menghajikannya ?" Beliau bersabda, "Ya, berhajilah untuknya."[ Sahih Bukhari, Kitab Mengganti Buruan, Bab 21#893 ]



c. Solat dan puasa atas usaha sendiri untuk kedua ibu-bapa.

Seorang lelaki menghadirkan dirinya dihadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata:”Semasa ibu-bapaku masih hidup, aku melayani mereka dengan baik. Sekarang mereka telah meninggal dunia. Bagaimanakah dapat aku berbuat kebaikan untuk mereka?” Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,” Bagi mereka, adalah baik semasa kamu menunaikan solat kamu, kamu dirikan juga solat untuk mereka dan apabila kamu berpuasa, kamu berpuasa juga untuk mereka.[Syarh as-Sudur, Suyuti]


d. Menyelesaikan tanggungan puasa ibu

Riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu : ia berkata: Bahwa seorang perempuan datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: Sesungguhnya ibuku telah meninggal dan ia mempunyai tanggungan puasa sebulan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: Apa pendapatmu jika ibumu mempunyai hutang kepada orang lain, apakah engkau akan membayarnya? Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: Hutang kepada Allah adalah lebih berhak untuk dibayar[ Sahih Muslim, Puasa, 23#1936 ]



e. Menunaikan haji atas usaha sendiri untuk ibu

Buraidah melaporkan bahawa ayahnya sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam apabila datang seorang wanita. Dia berkata, “Ya Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia dan dia masih mempunyai sebulan puasa tertanggung ke atasnya. Bolehkah aku berpuasa bagi pihaknya?” Rasulullah s.a.w menjawab,”Berpuasalah bagi pihaknya.” Wanita itu berkata,”Ibuku tidak pernah menunaikan haji, bolehkah aku tunaikan haji untuknya?” Rasulullah s.a.w menjawab,”Kerjakan haji untuknya.”[ Muslim, Kitab Al-Sawm, Abu Dawud, Kitab Al-Wasaya ]



f. Mengali perigi

Sa’d bin Ubadah datang kepada Rasulullah s.a.w dan berkata’”Ibuku telah meninggal dunia. Maka, apakah kebajikan yang lebih baik?” Rasulullah s.a.w menjawab,”Air.” Maka, diapun mengali sebuah perigi dan berkata,”Ini adalah untuk ibunya Sa’d.” [Abu Dawud, Kitab Al-Zakah]



ISU 2: Adakah sumbangan yang soleh di atas terhad kepada anak sahaja?



a. Rasulullah s.a.w dan para sahabat berdoa kepada bukan ahli keluarga mereka

* Ummu Salamah Radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke rumah Abu Salamah sewaktu matanya masih terbuka, lalu beliau memejamkan matanya. Kemudian bersabda: "Sesungguhnya ruh itu bila dicabut maka pandangannya mengikutinya." Maka menjeritlah orang-orang dari keluarganya, lalu beliau bersabda: "Janganlah kamu berdoa untuk dirimu sendiri kecuali demi kebaikan, karena sesungguhnya malaikat itu mengamini apa yang kamu ucapkan." Kemudian baginda s.a.w berdoa: "Ya Allah berilah ampunan kepada Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya ke tingkat orang-orang yang mendapat petunjuk, lapangkanlah baginya dalam kuburnya, terangilah dia didalamnya, dan berilah penggantinya dalam turunannya."[Bulughul Maram, Ibnu Hajar Al-Ashqolani, dan Sahih Muslim.]


* Hadis riwayat Zaid bin Arqam Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa: Ya Allah! Ampunilah orang-orang Ansar, anak-anak kaum Ansar, dan cucu-cucu kaum Ansar [Sahih Muslim, Kitab Keutamaan Sahabat#4561]


* Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha , katanya: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu setiap malam gilirannya di tempat Aisyah, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu keluar pada akhir malam ke makam Baqi', kemudian mengucapkan - yang artinya: "Keselamatan atasmu semua hai perkampungan kaum mu'minin, akan datang padamu semua apa-apa yang engkau semua dijanjikan besok yakni masih ditangguhkan waktunya. Sesungguhnya kita semua ini Insya Allah menyusul engkau semua pula. Ya Allah, ampunilah para penghuni makam Baqi' Algharqad ini." (Riyadhus Solihin, Imam Nawawi, Riwayat Muslim)


b. Rasulullah s.a.w solat kepada simati yang bukan ahli keluarganya

* Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu : ia berkata: Bahwa seorang wanita hitam yang biasa menyapu mesjid, suatu hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam merasa kehilangannya (tidak melihatnya). Lalu beliau bertanya kabarnya, para sahabat menjawab: Dia sudah meninggal dunia. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menegur: Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku? Seakan-akan para sahabat menganggap kecil urusannya atau urusan kematian. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Tunjukkan aku kuburnya. Setelah ditunjukkan, beliau mensolatinya kemudian bersabda: Sungguh pekuburan ini penuh dengan kegelapan bagi para penghuninya dan sesungguhnya Allah meneranginya sebab salatku atas mereka. [Sahih Muslim,Bab 14: Salat di atas kubur ]


c. Rasulullah s.a.w korban untuk dirinya, keluarganya dan umatnya

* Menurut riwayatnya dari hadits 'Aisyah Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau pernah menyuruh dibawakan dua ekor kambing kibas bertanduk yang kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka dibawakanlah hewai itu kepada beliau. Beliau bersabda kepada 'Aisyah: "Wahai 'Aisyah, ambillah pisau." Kemudian bersabda lagi: "Asahlah dengan batu." 'Aisyah melaksanakannya. Setelah itu beliau mengambil pisau dan kambing, lalu membaringkannya, dan menyembelihnya seraya berdoa: "Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah (kurban ini) dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya." Kemudian beliau berkorban dengannya.[Bulughul Maram-Ibnu Hajar Al-Ashqolani-]


d. Puasa beramai-ramai untuk simati

* Al-Hasan Radhiyallahu 'anhu berkata, "Jika ada tiga puluh orang yang mengerjakan puasa sehari untuk orang yang meninggal dunia, maka hal itu sudah boleh (cukup)."[Sahih Bukhari, Kitab Puasa, Bab 42, Dimaushulkan oleh Daruquthni dalam Kitab adz-Dzabh dengan sanad sahih.]


ISU 3: Adakah sumbangan di atas terhad kepada amalan yang soleh sahaja?

* Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bersegera dalam mengurus jenazah, karena jika ia baik maka engkau telah memajukan suatu kebaikan untuknya, dan jika tidak maka engkau menurunkan suatu kejelekan dari lehermu." [Bulughul Maram-Ibnu Hajar Al-Ashqolani-]


* Dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Mayit itu akan disiksa dalam kuburnya lantaran ratapan atasnya."[Bulughul Maram-Ibnu Hajar Al-Ashqolani-]Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: Ketika iring-iringan membawa jenazah lewat, orang-orang memuji jenazah dengan kebaikan, kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Wajib, wajib, wajib. Lalu lewat pula iringan jenazah lain, orang-orang mencelanya dengan keburukan, kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Wajib, wajib, wajib. Umar berkata: Menjadi penebusmu, ayah dan ibuku! Ada iringan jenazah lewat dan orang-orang memujinya sebagai orang baik, lalu engkau mengatakan: Wajib, wajib, wajib. Lewat pula iringan jenazah lain yang disifati sebagai orang jahat, lalu engkau mengatakan: Wajib, wajib, wajib. Apa artinya itu? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Orang yang kalian puji sebagai orang baik, maka wajib baginya surga, sedangkan orang yang kalian katakan sebagai jahat, maka wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksi Allah di bumi. Kalian adalah para saksi Allah di bumi. Kalian adalah para saksi Allah di bumi [Sahih Muslim, Kitab Jenazah#1578]


* Hadis riwayat Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada satu jiwa pun yang dibunuh karena kezaliman kecuali putra Adam pertama (yang membunuh) akan menanggung sebagian dari dosa pembunuhannya karena dialah orang pertama yang melakukan pembunuhan [Sahih Muslim#3177]


3. Penutup

a. Firman Allah s.w.t:

فَالْيَوْمَ لا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلا تُجْزَوْنَ إِلا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٥٤)

36.54. maka pada hari itu, tidak ada seseorang yang akan dianiaya sedikitpun, dan kamu pula tidak akan dibalas melainkan menurut amal yang kamu telah kerjakan.

* Ganjaran bagi amalan terhadap diri sendiri

Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Apabila seseorang di antara kamu memperbaiki keislamannya, maka setiap kebaikan yang dilakukannya ditulis untuknya sepuluh kebaikan yang seperti itu hingga tujuh ratus kali lipat. Dan setiap kejelekan yang dilakukannya ditulis untuknya balasan yang sepadan dengan kejelekan itu." [Sahih Bukhari, Kitab Iman#32]


* Ganjaran bagi amalan yang diberi kepada muslimin dan muslimat yang mati

Telah dilaporkan oleh Saidina Ali q.w. bahawa junjungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Sesiapa yang melawati beberapa kuburan dan membaca ,”Qul hu wa Allahu Ahad,” sebelas kali dan kemudian dia menyerahkan ganjaran (pahala) bacaannya kepada mereka yang telah meninggal itu, maka dia akan diberi ganjaran bersamaan ganjaran seramai mereka yang telah meninggal itu.” [Dar al Qutni, Durr al Mukhtar, Qiratul Maytah, Bab al-Dafan; al-Suyuti, Sharh al-Sudur]



* Ganjaran bagi amalan yang diberi kepada mukminin dan mukminat yang mati

Abu Harairah berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesiapa yang melewati kawasan kubur dan membaca surah Al-Fatihah, dan ‘Qulhu waAllahu Ahad, dan ‘Alha kumut Takaathur’ dan berkata; Ya Allah, aku anugerahkan ganjaran dari apa yang aku baca dari KalamMu kepada mukminin dan mukminat pada kuburan ini, mereka pada kuburan itu akan mensyafaatkan dia dihadapan Allah s.w.t. (al-Suyuti, Sharh al-Sudur, ms. 130.)

b. Hadith Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apabila ada orang meninggal dunia terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal, iaitu: Sedekah jariyah (yang mengalir), atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakan untuknya." [Riwayat Muslim, Bulughul Maram-Ibnu Hajar Al-Ashqolan]

* Kebaktian anak yang soleh terhadap ibubapanya

Dari Malik bin Rabi'ah as-Sa'idi Radhiyallahu 'anhu , katanya: "Pada suatu ketika kita semua duduk-duduk di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , tiba-tiba datanglah kepadanya seorang lelaki dari Bani Salamah. Orang itu bertanya: "Ya Rasulullah, apakah masih ada sesuatu amalan yang dapat saya amalkan sebagai kebaktian saya kepada dua orang tuaku setelah keduanya meninggal dunia?" Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ya, masih ada. Iaitu mendoakan keselamatan untuk keduanya, memohonkan pengampunan kepadanya, melaksanakan janji kedua orang itu setelah wafatnya, mempereratkan hubungan kekeluargaan yang tidak dapat dihubungi kecuali dengan adanya kedua orang tua itu serta memuliakan sahabatnya." [Abu Dawud]


c. Firman Allah s.w.t.:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (٤٤)

Surah 17:44. Langit yang tujuh dan bumi serta sekalian makhluk yang ada padanya, sentiasa mengucap tasbih bagi Allah; dan tiada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya; akan tetapi kamu tidak faham akan tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyabar, lagi Maha Pengampun.


Hadith riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda: Ingat, sesungguhnya dua mayit ini sedang disiksa, namun bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena ia dahulu suka mengadu domba, sedang yang lainnya disiksa karena tidak membersihkan dirinya dari air kencingnya. Kemudian beliau meminta pelepah daun kurma dan dipotongnya menjadi dua. Setelah itu beliau menancapkan salah satunya pada sebuah kuburan dan yang satunya lagi pada kuburan yang lain seraya bersabda: Semoga pelepah itu dapat meringankan siksa mereka, selama belum kering [Sahih Muslim, Kitab Bersuci#439]


Ulasan:

”Pelepah (daun kurma) yang hidup itu mengucap tasbih, ada kesannya.”


d. Firman Allah s.w.t.:

لا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ....

Surah 2.286. Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang diusahakannya....


Ulasan:

Tiada huraian yang perlu kecuali kebimbangan terhadap mereka yang mengatakan, “doa orang yang hidup tidak sampai kepada mereka yang mati, kecuali doa anak yang soleh.” Ilmu ini selagi ia disebarkan dan diwarisi oleh orang lain, maka ia akan menjadi amal berterusan penyebar yang mati itu selagi ilmu ini terus disebarkan.


e. Firman Allah s.w.t.:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Surah 59.10. dan orang-orang (Islam) yang datang kemudian daripada mereka (berdoa dengan) berkata: "Wahai Tuhan kami! ampunkanlah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau amat melimpah belas kasihan dan RahmatMu".


* Hadith Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

Diriwayatkan Anas bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Umatku adalah umat yang diberkati. Ia akan masuk ke kubur dengan dosa-dosannya, tetapi akan keluar tanpa sebarang dosa ke atasnya. Ia akan dibersihkan oleh mereka yang beriman yang berterusan memohon keampunan. [al-Suyuti, Sharh al-Sudur, ms12]

Sumber: admin HALAQAH SUFI. Mohd Nasir Bin Ismail
Amalan kepada ArwahSocialTwist Tell-a-Friend

Keluasan Neraka


Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibrail datang Kepada Nabi saw ada waktu yg ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya,maka ditanya oleh nabi s. a. w.: "Mengapa aku melihat kau berubah muka?" Jawabnya: "Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahawa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya."Lalu nabi s. a. w. bersabda: "Ya Jibrail, jelaskan padaku sifat Jahannam."Jawabnya: "Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan Selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak,andaikan terbuka sebesar lubang jarum nescaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi nescaya akan mati penduduk bumi kerana panas dan basinya.Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam Al-Qur'an itu diletakkan di atas bukit, nescaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di hujung barat tersiksa,nescaya akan terbakar orang-orang yang di hujung timur kerana sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada tujuh pintu,tiap-tiap pintu ada bahagiannya yang tertentu dari oranglaki-laki dan perempuan." Nabi s. a. w. bertanya: "Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah kami?" Jawabnya: "Tidak, tetapi selalu terbuka,sesetengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda." (nota kefahaman: iaitu yg lebih bawah lebih panas)Tanya Rasulullah s. a. w.: "Siapakah penduduk masing-masing pintu?" Jawab Jibrail: "Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik,dan orang-orang yg kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s.serta keluarga Fir'aun sedang namanya Al-Hawiyah. Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim, Pintu ketiga tempat orang shobi'in bernama Saqar. Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha, Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah. Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa'eir." Kemudian Jibrail diam segan pada Rasulullah s. a. w. sehingga ditanya: "Mengapa tidak Kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?" Jawabnya: "Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu yg sampai mati belum sempat bertaubat." Maka nabi s. a. w. jatuh pengsan ketika mendengar keterangan itu,sehingga Jibrail meletakkan kepala nabi s. a. w. di pangkuannya sehingga sedar kembali dan sesudah sedar nabi saw bersabda: "Ya Jibrail, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam neraka?" Jawabnya: "Ya, iaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu." Kemudian nabi s. a. w. menangis, Jibrail juga menangis, kemudian nabi s. a. w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah. dipetik dari kitab "Peringatan Bagi Yg Lalai" Dari Hadith Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat Sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari Ku. Tahukah kamu bahawa neraka jahanamKu itu: > 1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat 2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah 3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung 4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah 5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik 6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak 7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum 8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular 9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi lautan racun yang hitam pekat. 10. Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai 11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat Mudah-mudahan dapat menimbulkan keinsafan kepada kita semua. Wallahua'lam. Al-Quran Surah Al- Baqarah Ayat 159 Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami Turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk hidayat,sesudah Kami menerangkannya kepada manusia di dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk.
Keluasan NerakaSocialTwist Tell-a-Friend

TARIQAH-TARIQAH YANG MU’TABARAH (YANG DIAKUI KEBENARANNYA)

.
Tariqah sebagaimana telah diakui dalam Ilmu Tasawwuf sebagai jalan yang memberi petunjuk dan membawa seseorang itu kepada Tuhannya dengan pengabdian sebenarnya. Justru demikian, jalan untuk menyampaikan kepada maksud dan tujuan itu terbentang luas dan banyak sekali. Kepelbagaian tariqah yang wujud dan bermacam jenis, warna dan caranya tetap kembali yang matlamat yang satu iaitu Taqarrub kepada Allah swt dan akhirnya mancapai Makrifatullah.

Tariqah-tariqah sejak awal kewujudannya telah berkembang pesat dan diamalkan sehingga ke hari ini. Bilangannya banyak sekali. Ada tariqah-tariqah yang merupakan tariqah asas yang dibentuk oleh ahli-ahli Tasawwuf, dan ada juga tariqah-tariqah yang merupakan perpecahan daripada tariqah asas, telah dipengaruhi oleh pendapat para masyaikh tariqah asas, telah dipengaruhi oleh pendapat para masyaikh tariqah yang mengamalkannya di belakangnya atau oleh keadaan setempat, keadaan bangsa yang menganut tariqah-tariqah itu. Banyak diantara perpecahan tariqah-tariqah itu disusun atau diberi istilah-istilah yang sesuai dengan tempat perkembangannya.

Dr Syeikh H.Jalaluddin, seorang pakar ilmu Tasawwuf dan seorang ahli tariqah,telah banyak menulis tentang perkembangan tariqah-tariqah, antara lain tariqah-tariqah yang telah diakui kesahihannya. Beliau menerangkan tariqah-tariqah tersebut ialah:-

1 Tariqah Qadiriyah

2 Tariqah Naqsyabandiyyah

3 Tariqah Syaziliyyah

4 Tariqah Ahmadiyyah

5 Tariqah Rifaiyyah

6 Tariqah Dasukiyyah

7 Tariqah Akbariyyah

8 Tariqah Maulawiyyah

9 Tariqah Qurabiyyah

10 Tariqah Suhrawardiyyah

11 Tariqah Khalwatiyyah

12 Tariqah Jalutiyyah

13 Tariqah Bakdasiyyah

14 Tariqah Ghazaliyyah

15 Tariqah Rumiyyah

16 Tariqah Jastiyyah

17 Tariqah Sya’baniyyah

18 Tariqah Kaisaniyya

19 Tariqah Hamzawiyyah

20 Tariqah Sya’baniyya

21 Tariqah ‘Alawiyyah

22 Tariqah ‘Usyaqiyyah

23 Tariqah ‘Umariyyah

24 Tariqah ‘Uthmaniyyah

25 Tariqah ‘Aliyyah

26 Tariqah Bakriyyah

27 Tariqah ‘Abbasiyyah

28 Tariqah Haddadiyyah

29 Tariqah Maghribiyyah

30 Tariqah Ghaibiyyah

31 Tariqah Hadiriyyah

32 Tariqah Syattariyyah

33 Tariqah Bayumiyyah

34 Tariqah ‘Aidrusiyyah

35 Tariqah Sanbliyyah

36 Tariqah Malawiyyah

37 Tariqah Anfasiyyah

38 Tariqah Sammaniyyah

39 Tariqah Sanusiyyah

40 Tariqah Idrisiyyah

41 Tariqah Badawiyyah


(Buku Mengenal Tasauf & Tarekat, USTAZ HJ ALI HJ MOHAMAD)
TARIQAH-TARIQAH YANG MU’TABARAH (YANG DIAKUI KEBENARANNYA)SocialTwist Tell-a-Friend

Popular Posts

Segala bahan bacaan disini adalah untuk umum dan HAK CIPTA ITU MILIK ALLAH SEMUANYA. Anda boleh ambil sebagai bahan rujukan ataupun bahan posting di blog-blog atau website anda TANPA PERLU MEMBERI SEBARANG KREDIT KEPADA BLOG INI.